Hidung dan Memesona

by Suci Shofianingrum / 11 April 2017

Waktu kecil, saya sempat mengalami krisis percaya diri (PD). Apalagi saat itu memasuki masa pubertas. Wuih rasanya enggak mau ketemu orang kalau belum dandan dan tubuh semerbak bunga sehalaman.


Penyebabnya muka saya tidak mirip ibu dan ayah sama sekali. Terutama bagian hidung. Mereka memiliki hidung yang mancung. Saya? Mancung ke dalam. 

Saya sempat bertanya kepada Sang Pencipta, kenapa muka saya beda dengan orang tua dan saudara-saudara kandung? Mereka memiliki kemiripan wajah dengan ibu san bapak dan yang pasti memiliki HIDUNG MANCUNG.

Sejak menyadari adanya perbedaan cetakan untuk muka saya, berbagai informasi perawatan wajah dan tubuh saya pelajari. Usia menjelang SMP saya rajin perawatan, rajin sisiran, rajin uji coba pernak pernik rambut, dan segala hal yang berkaitan dengan nilai sebuah kecantikan.

Sejak mengenal dandan, ternyata kemampuan merawat diri diapresiasi oleh beberapa kawan terutama lawan jenis. 

"Senyummu manis, deh!" 

Begitu mendapatkan komentar tersebut saya menyadari bahwa senyum tulus adalah segalanya. Bukan dari apa yang kita kenakan.

Setelah di bangku SMA, saya tidak begitu peduli dengan cetakan muka yang berbeda. Saya lebih memilih untuk mengisi kepala dengan pengalaman, wawasan, ketulusan hati, dan bangga menjadi diri sendiri.


Inilah hal yang menjadikan poin penting dalam hidup saya sampai saat ini 


Memesona itu bahagia menjadi diri sendiri dengan memancarkan aura positif bagi siapapun yang ada di sekitar kita.

"Wajahmu biasa aja tapi kok banyak sih yang suka?" komentar sahabat yang memiliki fisik bak peragawati.

"Ah, masa sih!" begitu komentar saya.

Lalu dia sebutkan satu persatu cowok yang naksir terang-terangan dan gelap-gelapan.


Saya meyakini memesona itu kecantikan yang terpancar dari dalam hati, bukan penampilan penuh polesan dan sikap penuh kepalsuan.

Memesona itu cantik dengan menjadi diri sendiri seutuhnya.

Ladies, ayo berpikir cerdas! 

Cantik itu tidak melulu memiliki tinggi badan minimal, berat badan maksimal, hidung mancung (ah jadi ngeliat hidung sendiri), warna kulit harus seputih tembok istana presiden, gigi harus rata, dada musti montok, rambut lurus macam jalan bebas hambatan, suara lemah gemulai seperti macam kelaparan, dan berbagai pakem cantik yang beredar mengepung kita.


Jadilah perempuan yang berhati mulia, berpikiran sebening kristal, dan memiliki kecerdasan sesuai anugerah yang telah diberikan oleh-Nya.


"Ah, aku perempuan biasa aja."


Eits, jangan mudah menyerah. Gali potensimu sebaik-baiknya.


Kalau kamu jago berargumentasi, berarti kamu memiliki kecerdasan antarpersonal. Daripada buat ngegosip ga jelas, mending dipakai buat kampanye kebaikan. Misalnya mengajak orang-orang untuk peduli sama kesehatan diri, promosi internet sehat di komunitasmu, bikin vlog tips yang bermanfaat untuk sesamamu.


Buat yang memilih sedikit bicara, banyak makannya eh enggak pakai bahas porsi makan, diam identik dengan merenung alias kontemplasi, bisa menghasilkan tulisan yang bermanfaat bagi pembaca. 


Kamu pasti punya dong akun media sosial? Tulis saja pesan kebaikan di sana. Itu jauh lebih baik daripada membagikan kebencian dan berita bohong. 

Bonusnya, kamu akan bertambah teman, nilai kebaikanmu juga semakin meningkat. Eh, siapa tahu ada penerbit tertarik dengan tulisanmu? Asyik, ga, tuh!


Kamu jago racik bahan makanan menjadi makanan yang nendang abis? Di sanalah letak kecerdasanmu. 


Asah terus keahlianmu! Bagikan hasil olahan tanganmu ke sahabat, tetangga, dan teman-teman. Pasti mereka akan senang hati menerima makanan apalagi gratisan. 

Bakalan banyak pintu terbuka untuk orang-orang yang mau berusaha dan berpikiran terbuka disertai doa.


Memesona Itu Kamu!