Memesona Itu…

by Dini Astari / 10 April 2017

Apasih yang terlintas pertama kali bila mendengar kata memesona? pantai dengan pasir putih? pemandangan alam indah? perempuan cantik? tinggi? putih? semapai? cerdas? hmm saya rasa iya. tapi apakah hanya itu?. Menurut KBBI memesona adalah sangat menarik perhatian atau mengagumkan. Lalu apa arti memesona bagi saya?

Memesona tak hanya sekedar urusan visual saja, namun jauh dari pada itu. Memesona itu adalah sebuah kejujuran yang bersinar lewat diri kita lalu memberikan efek kagum bagi orang lain. Bagi saya, kejujuran yang hakiki lahir dari hati yang tulus, lalu bertransformasi menjadi sebuah kegiatan yang kita lakukan dengan ikhlas. Kejujuran juga bukan hanya soal berbicara, tapi perilaku serta sikap kita terhadap sekitar dan diri kita sendiri. Bagi saya, menjadi pribadi yang jujur terhadap lingkungan, diri kita sendiri, bahkan Tuhan, menjadi sebuah modal untuk membuat orang lain terkesima dengan kita.

Memilih jalan hidup dengan sebuah kejujuran juga tak kalah penting. 4 tahun lalu, saya memilih jujur pada diri saya sendiri untuk memilih apa yang dikehendaki, memilih jurusan kuliah yang jauh dari harapan orang tua saya. Saya memilih sastra sebagai jalan hidup, jurusan yang masih dipertanyakan akan jadi apa alumninya nanti. Melewati perkuliahan dengan puisi dan cerita-cerita luar biasa adalah pengalaman yang tak pernah lupa saya kenang setiap malam. Lalu lewat sastra, saya juga jatuh cinta pada panggung pertunjukan, drama.

Awal mulanya saya tidak pede dengan diri sendiri, maklum sebagai barisan anak cupu, bermain drama dan tampil di depan banyak orang merupakan momok paling menakutkan di dunia ini, tapi saya mencoba memulainya. Menggeluti dunia panggung juga berarti menjadi pusat perhatian, saya yang tak terbiasa dengan hal itu mau tak mau keluar di zona pemalu menjadi pribadi yang lain untuk menarik minat orang menonton. Inilah sebuah tantangan bagi diri untuk memancarkan potensi serta pesona yang saya miliki.

Menjadi pegiat teater, bermain lakon, memerankan peran, adalah kejujuran lain yang saya jalani. Walau sulit saat memulainya, nyatanya beberapa panggung saya jajaki, beberapa judul naskah telah saya hafal, berbagai peran pernah saya dalami, belasan festival saya ikuti bukan untuk membuat saya menjadi besar kepala, namun membuat saya lebih jujur dengan diri saya, bahwa saya mencintai kegiatan ini.

Melakukan proses pementasan dengan sebuah kejujuran dan tanggung jawab adalah kunci sukses sebuah pertunjukan. Katanya, Proses tidak pernah mengkhianati hasil. Yup! saya percaya itu, semua hal yang dilakukan dengan kejujuran hati kelak mendapatkan hasil yang baik, yang dikagumi banyak orang, memsona. Dari sini juga saya paham, apapun peran yang didapat, bila dilakukan dari hati dan jujur, pasti akan mendapatkan respon positif dari orang lain.

Sastra dan drama kini telah menjadi bagian dari diri saya, jalan yang saya tempuh untuk jujur kepada diri sendiri dan lingkungan saya, termasuk orang tua. Lewat sastra dan drama pula, saya mencoba mencari jati diri saya, menggali potensi diri. Sastra dan drama menjadi sebuah panggung yang membawa saya, si anak cupu menjadi sosok yang berbeda, menjadi pusat perhatian yang menarik minat penonton. Dari panggung ini pula saya mencoba memancarkan pesona yang saya miliki lewat rentetan kata-kata, dan peran yang dimainkan dengan sedemikian rupa untuk memsona mata setiap penonton yang melihatnya.