#Memesonaitu: Jika Bisa Merawat Orang Tua Dengan Baik

by Nazlah Hasni / 10 April 2017

    "Asni, abah mau pipis....!!!" pekik beliau dari kamar. 
     Aku yang sedang sibuk dengan si bungsu langsung menyamber pispot dan segera berlari ke kamar Abah. Namun terlambat, di lantai sekitar dipan telah tergenang air berwarna kekuningan. 


*****


     Setiap orang pasti menginginkan menjadi pribadi memesona dan mengesankan. Dengan tampil memesona, tidak hanya secara lahir namun juga batin, maka proses berinteraksi dengan orang lain, terutama orang-orang tercinta, menjadi mudah. Secara logika, siapa yang betah bergaul dengan orang yang tak bisa menjaga penampilan dan sikap, betul tidak?   

     Tentang memesona, saya memiliki definisi berbeda seiring usia yang semakin bertambah. 

     Ketika masih anak-anak, memesona itu bila memiliki beragam mainan yang membuat teman ingin meminjam. Ketika SD, memesona itu bila mendapat nilai bagus dan perhatian lebih dari guru. Ketika remaja, memesona itu bila diperhatikan oleh lawan jenis. Ketika berkeluarga, memesona itu bila bisa berbakti sebaik-baiknya kepada suami dan 4 anak yang telah Allah amanahkan. Ketika memutuskan membuka usaha bakery, memesona itu bila bisa melayani konsumen dengan baik. Ketika mulai bertekad untuk giat berliterasi, memesona itu jika bisa istiqomah setiap hari membaca dan menulis di blog.

     Dan kini, di usia yang ke 37, Allah memberikan kesempatan untuk merawat ayah dan ibu yang sudah berusia lanjut dan sakit, maka definisi memesona adalah ketika saya dapat menggunakan kesempatan ladang pahala ini dengan baik. Seperti termaktub dalam hadits yang sudah familiar yaitu: celaka, celaka, serta betul-betul celaka, orang yang mendapati kedua atau salah satu dari orang tuanya hingga lanjut usia namun tak dapat mengakibatkan dia masuk surga.




      Banyak yang mengatakan bahwa orang lanjut usia akan kembali childish. Mereka mengompol, emosi kurang stabil sehingga sering marah tanpa sebab yang jelas, makan berceceran atau disuapi layaknya anak kecil. Bedanya, jika merawat anak kecil, kita merasa bahwa tingkah polah anak-anak itu adalah hal yang lucu dan menggemaskan. 

     Perilaku orang lanjut usia yang kekanakan dan terkesan menjengkelkan ini tak lain karena proses penuaan yang secara alami akan menurunkan berbagai fungsi organ tubuh. Contohnya, penglihatan semakin buram, pendengaran dan daya ingat menurun, daya tampung kantung kemih semakin mengecil sehingga sering mengompol, daya genggam otot semakin melemah dan otak serta sistem saraf mengalami kemunduran.

     Terkadang juga kita mendapati tingkah orang lanjut usia yang kurang menuruti saran atau anjuran supaya tidak melakukan hal-hal yang dapat membahayakan diri sendiri. Contoh kecil yang sering saya alami, terhadap ibu yang memiliki riwayat hipertensi, saya selalu mengingatkan supaya mengurangi makan makanan gorengan, berlemak dan gurih namun tetap saja beliau tanpa sepengetahuan, membeli aneka makanan itu, sehingga menyebabkan muntah dan pusing karena tensi naik.
Atau misalnya kita mengatakan bahwa mereka tak perlu mencuci baju sendiri dan menyikat kamar mandi. Namun mereka tetap melakukannya, sehingga menyebabkan kecapekan dan sakit.
  
     Terhadap perilaku orang lanjut usia yang seakan susah diatur ini, para ahli mengatakan bahwa secara psikologis mereka masih merasa sebagai orang tua dengan segala peran, fungsi dan otoritas terhadap anak-anaknya. Intinya mereka masih merasa bisa seperti ketika masih usia produktif dulu.

    


     Itulah beberapa hal penyebab mengapa merawat orang tua yang telah lanjut adalah hal yang memesonakan karena butuh cinta yang tulus, keikhlasan, kesabaran dan ketelatenan ekstra.  Tak ketinggalan harus disertai keyakinan kuat bahwa usaha kita dalam berbakti ini pasti terganjar, tidak hanya berbalas pahala di akhirat namun juga kemudahan-kemudahan di dunia.

     Tulisan ini juga sebagai self reminder bagi saya untuk selalu meluruskan niat dan doa semoga Allah mempermudah segala urusan dalam merawat orang tua.

  



    
Malang, 10 April 2017