Try Me!: #MemesonaItu Tidak Manja

by Eva Natalia Rino Kusumaningrum / 10 April 2017

Wanita mana yang tidak tergiur dengan kemewahan yang satu ini? Dimanjakan. Baik melalui materi ataupun perhatian, entah besar atau kecil, tua dan muda. Siapapun tidak akan mudah menolak yang satu ini.  Bahkan Ada Band melagukan Karena Wanita Ingin Dimengerti untuk menegaskan, yah kurang lebih wanita itu makhluk manja. Dan apabila kita menghitung mundur waktu, masih ingatkah slogan yang dimiliki Cinta Laura yang bunyinya, “Takut becek, nggak ada ojek, capek deh”? Okay, ini berlaku untuk generasi 2000-an dan sebelumnya saja. Namun apapun itu, saya kira sudah menjadi kesepakatan umum kalau manja adalah kata sifat yang melekat pada perempuan.

Tidak. Menurut saya tidak tepat begitu. Meskipun, ya. Dimana kita bisa menemukan sosok perempuan yang tidak manja sekarang ini?

Untuk hal sesimpel mencuci rambut saja, sekarang ini banyak perempuan yang malas melakukannya dan memilih pergi ke salon. Belum lagi perawatan wajah dan tubuh sekalian yang apabila dirinci tidak akan ada habisnya. Alasan keterbatasan waktu dan kepraktisan dipilih untuk meluluskan aktivitas yang sesungguhnya jika dilakukan sendiri pun tidak serumit yang dipikirkan. Itu contoh sederhana.

Ada pula contoh lain yang tidak sesederhana itu semisal minta diantar-jemput pacar ke mana pun. Dan kemudian menjadi ngambek apabila tidak diindahkan. Tidak heran jika stigma manja dan merepotkan disematkan pada perempuan. Itulah yang sempat mampir di benak saya sebelum akhirnya saya berpikir, well, semua tergantung pada pilihan.

Kita bisa menjadi manja atau tidak itu adalah pilihan kita. Manja bukan berarti buruk. Sifat manja pada dasarnya wajar melekat pada siapa saja ketika kita merasa nyaman dan bergantung pada seseoang. Pun menjadi tidak manja bukan berarti tidak boleh mengeluh sama sekali. Bukan pula berarti tidak membutuhkan bantuan orang lain. Namun tidak manja adalah berani menantang diri sendiri dengan berkata “try me!

1 Mencoba Hal Baru

Hal pertama yang bisa dilakukan setelah mengucapkan mantra “try me!” adalah mencoba hal baru. Dengan rajin melakukan hal baru, kita bisa mendapat banyak manfaat seperti lebih mengenal diri sendiri. Apa yang selama ini tidak terlihat sebagai potensi diri perlahan bisa mulai nampak dan membawa keuntungan tersendiri. Misalnya ketika kita tahu disaat orang lain takut ketinggian, kita bisa mengalahkan rasa takut itu dengan cara yang tidak terduga seperti berhasil membetulkan genting atap yang bocor. Siapapun pasti akan takjub dengan perempuan yang seperti ini.

2 Berpikir Sebaliknya

Seiring waktu, manusia pasti mengalami apa yang disebut sebagai titik jenuh. Lantas apabila mencoba hal yang baru sampai pada titik jenuh, apa yang bisa dilakukan? Mantra “try me!” bisa juga bekerja pada cara berpikir sebaliknya. Ketika akhirnya kita berhenti pada sebuah kesimpulan, berpikir sebaliknya! Ketika kita berpikir, penambal ban adalah pekerjaan kaum adam, berpikir sebaliknya! Perempuan pun bisa melakukan asal mau. Jadi, sebuah kesimpulan pun bisa menjadi bukan benar-benar kesimpulan.

Bukankah menjadi tangguh seperti itu lebih menarik? Karena “MemesonaItu tidak manja dan berani bekata “try me!”. Pribadi yang memesona menurut saya adalah mereka yang selalu bisa melihat pilihan yang ada di depan mereka. Tidak berhenti sampai disitu saja. Pilihan tetaplah pilihan dan memesona itu terjadi ketika kita dengan ketetapan hati berani memilih dengan percaya diri berseru “try me!” untuk kesekian kali.