#MemesonaItu Tetap Berkarya Tanpa Mengenal Batas Usia

by Eni Martini / 10 April 2017
Tahun  ini usia saya akan menuju 40 tahun. Sungguh, setiap melewati tahap usia itu seperti ada sesuatu yang terbang. Terlebih ketika akan memasuki tahap kepala 4, mengapa?

Dulu, saat akan melepas usia di atas 10 tahun, saya merasa akan menjadi gadis kecil dari seorang anak-anak. Gadis kecil yang bertumbuh, mengalami perubahan besar dalam fisiknya, seperti tumbuh dada, haid, dan lainnya. Lalu ketika memasuki usia 20 tahun, saya merasa menuju pra dewasa. Akan memasuki dunia kerja dan menjadi manusia yang lebih bertanggungjawab.

Tidak hanya itu saja, bahkan saya mulai memikirkan tentang perubahan status dari single menjadi seorang istri, ibu. Kemudian ketika memasuki usia 30 tahun, saya merasa benar-benar menjadi wanita dewasa yang sesungguhnya, sudah menikah dan ibu dari seorang batita cantik, Lintang.

Namun seiring waktu usia kepala tiga terus bertambah 31, 32, 33, hingga 39 tahun, saya merasa seperti mulai datang tanda-tanda tua. Ibu empat anak (1 alm) dengan perut yang mulai berkantung membuat beberapa jeans, rok, harus say goodbye. Sudut mata, kelopak mata, kantung mata yang mulai bertumpuk kerut, terutama ketika saya tertawa. Cream apa pun yang saya coba, seolah tidak mampu mengembalikan kemudaan di usia lalu.


Jadi teringat cerita seorang teman ketika menghadapi galau saat memasuki usia 40 tahun. Saat itu saya hanya tertawa, karena usia saya masih 30 tahun. Tetapi, ketika saya akan memasuki usia 40 tahun itu, sepertinya apa yang dirasakan para wanita terjadi pada diri saya. Terlebih bergaya seperti apa pun, saya tetap mendapat panggilan 'Bu', hahahaha! Sumpah, kadang pengen juga dipanggil 'Mba' saat mengenakan jeans dan boots misalnya. Naif banget dah!

Hingga berapa waktu yang lalu saya bertanya pada suami saat kami tengah duduk berdua menikmati teh hangat: 

"Yah, sebagai lelaki menurut kamu bagaimanakah wanita yang #MemesonaItu?"

Sejenak suami saya terdiam, lalu jawabnya, "Yang seperti Ibu."

"Ih, jangan subyektifitas dong! Ibu tanya serius!"

"Iya, yang tidak sekedar cantik saja. Cantik itu banyak bahkan saat ini siapa saja bisa cantik. Tetapi wanita yang tetap memiliki karya, bisa berkarya seperti Ibu itu tidak begitu banyak."

Jleb!

Berapa hari saya merenungi ucapan suami, lelaki yang menemani saya hampir 13 tahun. Yang di mata saya tidak memiliki perubahan dari dulu hingga kini, hanya tubuh gagahnya mulai bersahabat dengan lemak, hahahaha (istri yang jujur).

"Iya, yang tidak sekedar cantik saja. Cantik itu banyak bahkan saat ini siapa saja bisa cantik. Tetapi wanita yang tetap memiliki karya, bisa berkarya seperti Ibu itu tidak begitu banyak."

Toko buku Gramedia Penvill

Menuju 40 tahun, menjadi ibu empat anak (1 alm). Mengasuh mereka tanpa ART dengan novel yang berjajar cantik di rak toko buku, mungkin sekitar dua puluh judul novel fiksi sudah saya lahirkan. Bagaimana saya menulis? Kadang sambil ASI, sambil bolak-balik dapur untuk mengoreng ikan, mengolah sayur, atau sambil menemani anak bermain di samping saya.

Saat kemudian saya terjun ke dunia blogger, beberapa kali memenangkan lomba ngeblog. Lagi-lagi sama, semua proses dilalui seperti menulis novel. Kesibukan yang sering membuat saya mandi sehari hanya sekali, itu pun kadang menjelang tidur baru bisa mandi.

Entah mengapa, saya menjadi merasa #MemesonaItu adalah tetap berkarya tanpa mengenal batas usia. Bisa saja bukan, kelak memasuki usia 50 tahun disaat keriput tidak lagi di seputar mata, tetapi juga pipi dan lengan. Rambut ikal yang hitam ini sudah berubah warna menjadi keperakan, karya saya tetap berjajar di toko buku, blog saya tetap terisi aksara yang saya tulis, dan anak-anak bertumbuh menjadi seperti impiannya.


Atau saat saya sudah dipanggil 'Eyang Putri', karya itu tetap ada dan indah dinikmati orang banyak, seperti Bunda Pipit Senja, seperti novelis Inggris Lady Mallowa Agatha Mary Clarissa yang lebih dikenal dengan nama Agatha Christie yang pada usia menuju 70 tahun masih terus berkarya. Memesona yang benar-benar tanpa mengenal batas usia.

Ah, saya jadi ingin terus menulis dan menulis. Merangkai aksara yang dapat memberi manfaat bagi pembaca. So, kamu para wanita percayalah #MemesonaItu bukan bagaimana agar kamu terlihat memesona dengan menutupi 'tua', tetapi terus berkarya berapa pun usiamu. Apa pun karyamu, entah sebagai penulis, blogger, chef, penari, penyair, dan banyak lagi. Tetapi, setiap orang tentu memiliki kriteria #MemesonaItu secara berbeda. Menurutmu #MemesonaItu seperti apa? Yuk, ikutan lombanya dengan klik link di bawah ini: