#MemesonaItu Aku Kau Bersepakat dalam Kita

by indri yunita / 10 April 2017

Memesona adalah sebuah harmoni. Laiknya keselarasan bunyi-bunyian beragam alat musik yang saling berpadu. Mulai dari alat musik petik,  alat musik pukul, alat musik gesek, hingga alat musik tekan. Baik alat musik modern maupun tradisional. Kombinasi bunyi yang selaras akan menciptakan sebuah harmoni yang tak hanya memesonakan alat pendengar kita, melainkan mampu menyeimbangkan hati dan pikiran di empunya dengar.

Pun laiknya, lantunan ayat-ayatnya yang sarat akan makna diperdengarkan. Rangkaian-rangkaian huruf hijaiyah yang berjajar membentuk kalimat bijak sebagai pedoman hidup. agar insan-insan berjiwa hidup dengan keseimbangan hati dan pikiran.

Ya.. memesona adalah harmoni. Kala aku dan kau yang bersepakat dalam kita saling melengkapi. Kita yang hidup berdampingan. Engkau dengan segala keindahanmu dari warna-warna yang membentuk spektrum nan menawan. Engkau yang disebut alam. Engkau sebagai perantara yang Tuhan kultuskan sebagai sumber kehidupanku. Engkau yang kujadikan tempat berpijak dan memberikan kesejukan indera penglihatku. Engkau yang selalu melengkapiku. Dalam setiap hembusan nafas, dalam guliran waktu Tuhan jatahkan untukku.

Bagai sekeping mata uang dengan dua sisi yang berbeda. Karena aku kau bersepakat dalam kita. Maka, aku pun melengkapi dirimu. Karena akulah (kaumku lah) yang di utus Tuhan sebagai khalifah fil ardh. Tak lain untuk menjagamu kala ada tangan-tangan lain mencoba menyakitimu. Kala engkau tak bisa bernafas dengan jejalan aspal di permukaan kulitmu. Kala ragamu hancur dan porak-poranda oleh dentuman nuklir. Kala engkau menjadi sengketa. Dan kala-kala lain yang membuat engkau menetaskan air mata bahkan darah.

Aku kau yang bersepakat dalam kita, aku yang mampu merasakan suguhan milyaran keindahan darimu mencoba untuk berdiri tegak menjadi insan pertama yang akan membelamu, yang akan meneriakkan kata tidak agar kala-kala itu tidak terjadi. Karena tanpa keseimbanganmu, akupun porak-poranda.

Lalu, bagaimana cara kau aku bisa bersepakat dalam kita? Engkau kuhadirkan dalam doa-doaku, engkau kusapa kala terjaga dari lelapku di subuh hari, engkau kusapu dari tumpukan remah-remah rumah tangga. Dan aku takkan berpaling dari keindahanmu. Karena kenikmatan sebuah ketenangan hati saat bersamamu membuat kumemahami arti kebesaran Tuhan lewat sebuah tadabur. Bilamana aku memandang hamparan air di atas pasir dan bentangan langit yang memayungi. Maka aku tahu bahwa Tuhan Maha Lapang. Saat menghirup oksigen dan mendengar percikan air yang mengalir dari bukit nan tinggi maupun dari langit yang kehitam-hitaman, maka aku akan tahu bahwa Tuhan Maha Menyejukkan. Tatkala aku melihat kilat dan mendengar gemuruh petir, aku tahu bahwa Tuhan Maha Kuasa. Ya, alam selalu bersenandung, yang sebenarnya bila dilihat dari dekat, bila jiwa mau peka sedikit saja, maka tidak mungkin bila tidak terjadi sebuah harmoni. Bila saja kita tidak dihantui dan dikuasai rasa angkuh dan arogan, sikap serakah dan rasa ingin menguasai, maka alam akan setia menemani dengan anggunnya, menyajikan beribu kesejukan dan jutaan makna yang kan membawa mereka  pada Jannah-Nya.

Ya, Ku harap, aku kau yang bersepakat dalam kita mampu menghadirkan jannah bagi insan yang mencintaimu. Yang tanpa pamrih menjagamu hingga nafas habis. Sehingga kehidupan ini menjadi sebuah harmoni. Yang meski akan lekang oleh waktu, namun abadi dalam kenangan. Karena hidup takkan bisa terlepas dari kenangan. Dia ada agar kita belajar darinya. Namun dia juga tak ingin kita selalu menghadap kepadanya. Dia ingin kita juga memandang ke depan untuk sebuah masa depan.