ISTRI YANG #MEMESONAITU BISA MENERIMA PERUBAHAN KARIR SUAMI DENGAN IKHLAS

by Diah Dwi Arti / 10 April 2017
Menjadi istri, baik istri bekerja di luar rumah ataupun tidak mestilah memiliki ketundukan kepada suami. Istri yang baik adalah istri yang mengutamakan pendapat suaminya tanpa mengesampingkan pendapatnya sendiri. Terlebih dalam persoalan ekonomi keluarga.

“Bapak penjual soto itu dulunya orang penting di bank BUMN,” kata suami saya.

“Lalu dia mengajukan pensiun dini dan sekarang buka warung sama istrinya.”

Saya mendengarkan dengan tidak percaya. “Wow, subhanalloh. Luar biasa dong,” batin saya.

Warung soto milik pasangan suami-istri yang diceritakan suami saya itu tampak sederhana. Ukuran bangunannya kira-kira 3 x 6 meter. Kecil memang, tapi untunglah di bagian depannya ada lahan kosong dan pohon mangga yang rimbun jadi nyaman untuk parkir pelanggan.

Sang istri melayani saya sekeluarga dengan ramah. Ternyata beliau sudah kenal dengan keluarga suami saya, jadilah obrolannya mengalir. Sang suami, menurut saya, masih tampak kikuk melayani pelanggan. Beliau lebih banyak mengikuti istrinya. 

“Mungkin masih belum sepenuhnya ikhlas pada pekerjaan barunya, ya,” kata saya kepada suami saya.

Tapi itu dulu, kira-kira setahun yang lalu. Kini, sang bapak yang berusia sekitar 50 tahun itu sudah terlihat sangat santai dan menikmati kegiatannya berdagang. Di siang hari, pas jam makan siang, malah si bapak yang lebih sering menjaga warung daripada si ibu. Suami yang bertanggung jawab, ya, hehe...

Lain lagi kisah salah satu saudara saya. Dia sekarang berbisnis fashion bersama istrinya setelah perusahaan tempatnya bekerja tutup. Saudara saya itu sempat menduduki jabatan kepala cabang di sebuah perusahaan komunikasi di Pulau Sumatera. Ketika harus pulang kampung, saudara saya itu dengan mantap menjalani bisnisnya. Dia menyewa sebuah kios dan mulai berjualan. 

“Aku kagum sama dia,” kata suami saya.

“Tidak pakai melamar kerja ke sana-sini, tidak pakai minta bantuan saudara lain, langsung buka bisnis.”

Ibunya sempat meragukan kemantapan hati saudara saya itu. Beberapa kali kalau ada lowongan pekerjaan, selalu ibunya menyarankannya untuk melamar. Tapi saudara saya itu tetap mantap pada pilihannya berdagang.

“Sembilan puluh sembilan pintu rezeki adalah dari jalan berdagang’” katanya mengutip hadits Nabi Muhammad SAW.

Perubahan dalam karir seseorang seperti yang saya kisahkan tadi memang memiliki dampak yang sangat besar bagi keluarga. Yang dulu mungkin memiliki gaji bulanan yang tetap, kini harus berjibaku agar tetap bisa gajian tiap hari. Dari dua kisah tadi, saya kagum terhadap pilihan mereka dan saya lebih kagum lagi kepada istri mereka. Dari mana para istri ini dapat kekuatan mental yang hebat menghadapi perubahan karir suami? Kalau saja para istri itu tidak ikhlas, saya bisa membayangkan keadaan rumah tangga mereka. Bisa jadi terjadi kekeruhan dalam rumah tangga. Istri yang seharusnya mendukung suami bisa berbalik menjadi musuh bagi suami. Kalau sudah begini, sulit menemukan kedamaian dalam rumah tangga.

istri-mendukung-karir-suami
Cobaan Hidup (Pixabay)

Sepanjang pengetahuan saya, perubahan kondisi ekonomi keluarga biasanya berdampak besar pada istri, sebab istrilah yang umumnya memegang kendali keuangan keluarga. Istrilah yang bertanggung jawab membelanjakan dan menyisihkan penghasilan keluarga untuk ditabung. Istri sebagai manajer keuangan keluarga tentunya akan terbebani secara mental untuk dapat tetap mengelola keuangan sebaik sebelumnya.

Dukungan yang kuat dari istri, saya yakin sangat berarti bagi suami. Segala resiko telah dipahami bersama. Ibaratnya jika hari ini tak dapat uang sepeserpun, istri sudah siap. Fokus keuangan keluarga akan lebih terarah dan ikatan batin antara suami-istri makin kuat. Saat-saat pahit dilalui bersama, susah senang dicicipi berdua,  tentunya menimbulkan perasaan saling menghargai yang tinggi. Sungguh mereka adalah para istri yang memesona.

Berkaca dari kisah hidup dua pasang suami-istri tadi, saya merasa malu. Saya masih kurang bersyukur kepada suami dan Alloh. Seharusnya kisah kehebatan para istri ini diabadikan agar dijadikan teladan bagi banyak pasangan, karena ada kalanya hidup itu harus melalui masa kemunduran.

Bagaimana dengan teman-teman? Pernahkah berjumpa dengan sosok memesona seperti yang saya ceritakan? Atau malah teman-teman sendirilah sosok #MemesonaItu?