#MemesonaItu Bermula dari Cara Berpikir

by Frida Kurniawati / 10 April 2017

Memesona Itu Bermula dari Cara Berpikir

Setelah sadar bahwa selama ini saya dibodohi oleh Barbie, saya mulai merumuskan sendiri bagaimana perempuan yang memesona itu dari pelajaran-pelajaran yang saya pelajari dari hidup saya sendiri dan hidup orang lain. Terbiasa bergaul dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda (seperti suku, agama, latar pendidikan, sudut pandang), membuat saya berpikiran terbuka. Namun saya tetap berdiri teguh di atas akar prinsip pribadi, terutama tentang gender. Saya berpikiran terbuka tapi bersikap kritis terhadap hal-hal yang saya anggap tidak benar, misalnya tentang perilaku yang menyudutkan posisi sosial perempuan, terlebih jika para perempuannya sendiri tidak sadar, bahkan mendukung diperlakukan begitu. Misalnya, pernikahan di Indonesia yang menempatkan perempuan di posisi yang tidak menyenangkan. Masih banyak saya temukan, dari kalangan teman-teman seumuran, yang takut dianggap perawan tua jika tak segera menikah. Atau perempuan yang takut terlihat sendirian, dan oleh karena itu memutuskan untuk menikah. Perempuan boleh menikah setelah dia ingin dan siap, dan juga boleh tidak menikah; itu terserah dia. Istilah “perawan tua” adalah buah pikir masyarakat patriarkal yang menyudutkan perempuan.

Perempuan yang memesona tidak butuh menjustifikasi diri sendiri di depan orang lain, karena ia tahu siapa dirinya. Ia tahu apa yang ia mau dan berusaha meraihnya. Ia tak akan mengizinkan justifikasi orang lain memengaruhi apa yang ia yakini, apalagi mengizinkan mereka membentuk siapa dirinya! Enggak banget! Ia adalah siapa yang ia yakini.

jalan.di.lumpur

Perempuan yang memesona berani menantang diri sendiri dan melakukan hal-hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Untuk apa? Untuk menguji seberapa jauh kemampuannya dan untuk mempelajari kehidupan. Mengelakkan sebuah tantangan sesungguhnya membuang satu kesempatan untuk belajar dan bertumbuh. Oleh karena saya tahu saya tak piawai dalam bersosialisasi dan menjaga hubungan antarperseorangan, saya sengaja menjadi fasilitator masyarakat. Tinggal sendirian di suatu desa terpencil di Lampung, saya terlecut untuk bersosialisasi demi melaksanakan tugas. Tidak mudah menjadi seperti bukan alamiahnya kita, tapi saya berusaha bertahan karena percaya bahwa setiap perjalanan dan keputusan membawa pelajaran.

Perempuan yang memesona itu mudah terpesona oleh hal-hal di sekitarnya. Saya mendongak ke langit malam dan mengagumi bintang-bintang. Dalam perjalanan ke luar desa semasa menjadi fasilitator masyarakat, saya sering dibikin kagum oleh sapi penarik gerobak yang bisa berenang menyeberangi muara. Saya juga terpesona oleh kerlap-kerlip menyilaukan dari permukaan laut yang dibelai jemari mentari, atau kilauan pasir pantai yang mengandung bijih besi. Saya terkesima dan lalu mengajak bercanda kepiting-kepiting mungil yang mengintip dari balik lubang di pasir, yang lalu dengan cepat berlesatan tiap menangkap kehadiran manusia. Sembari berjalan, saya terpesona memandangi ombak yang berkejaran, membiarkan mereka membasahi kaki saya. Segala sesuatu di sekitar saya, yang terkecil maupun teremeh sekalipun, terjadi akibat keajaiban semesta. Oleh karena itu, saya terpesona.

CIMG9292

Perempuan yang memesona berani bermimpi dan melakukan sesuatu untuk orang lain. Pada akhirnya, untuk tampil lebih memesona dibutuhkan cara berpikir bahwa “saya adalah dan bisa menjadi siapa yang saya inginkan asalkan saya berusaha mencapainya”. Cara berpikir demikian yang berkolaborasi dengan hati akan membuahkan sikap dan karakter perempuan yang memesona. Kepercayaan diri akan memancar keluar dan itu membuat perempuan tampil lebih memesona.

*tulisan ini dibuat untuk menanggapi tantangan menulis #MemesonaItu.