Definisi #MemesonaItu dari Ibu Pembelajar

by Dessy Natalia / 10 April 2017

Bu Aisyah, begitulah saya memanggilnya. Kami pertama kali bertemu di acara pembukaan matrikulasi program pascasarjana di kampus kami. Beliau mengambil program studi Magister Ilmu Hukum Kesehatan dan saya Magister Manajemen. Beliau adalah seorang bidan senior sekaligus mengajar di sekolah kebidanan.

Oia, umurnya sudah dibilang sepuh, 63 tahun. Luar biasa, bukan? Di saat saya terkantuk mendengar sambutan dan penjelasan dari pihak kampus, Bu Aisyah sangat bersemangat mencatat poin-poin yang disampaikan. Di saat saya memutuskan membuka smartphone dan melakukan pekerjaan saya (berjualan online), Bu Aisyah masih bersemangat mendengarkan pembicara dan sesekali mencatat di notebook-nya. Hebat!

Bu Aisyah bercerita, bahwa dia memutuskan untuk melanjutkan sekolah dan mempelajari hal yang benar-benar baru untuknya - ilmu hukum - dengan alasan agar kompetensinya bertambah. Agar ia mampu lebih mendalami apa yang diajarkan pada siswa-siswanya. Hebat, totalitas tanpa batas!

Setelah pertemuan perdana kami tersebut, kami sering bertukar sapa (dan saya mencium tangannya) di lorong kampus atau mengobrol ringan saat bertemu di mushola wanita. Sungguh, setiap bertemu dengan nenek dari beberapa orang cucu ini, saya seperti mendapatkan tambahan energi. Seperti mengisi bahan bakar. Mengingatkan bahwa saya, yang jauh muda, seharusnya jauh pula lebih bersemangat dari beliau.

Bagi saya, Bu Aisyah lebih dari sekedar hebat, beliau.. memesona..

Ada lagi cerita dari Mbak Dewi N. Aisyah atau biasa disapa Mbak Dewi. Beliau adalah mahasiswi S3 di salah satu kampus terbaik di dunia, University  College London dan sedang melakukan penelitian di bidang kesehatan. Prestasi itu dilengkapi dengan gelar-gelar juara yang disabetnya di berbagai kompetisi internasional. Masih kurang hebat? Oke, ini fakta yang paling keren, beliau adalah seorang istri dan ibu dari seorang anak balita bernama Najwa. Luar biasa, bukan?




Pengalamannya sebagai mahasiswi -sekaligus ibu- berprestasi dituangkan dalam sebuah buku yang berjudul Awe - Inspiring Me! Di buku ini, Mbak Dewi berbagi tips untuk menjadi muslimah yang inspiring. Baru-baru ini, Mbak Dewi juga sedang mengembangkan alat diagnostik tuberkulosis otomatis untuk Indonesia dan negara berkembang lainnya.

Ah, bagi saya, Mbak Dewi bukan saja menginspirasi, ia.. memesona..

Mari kita beralih pada cerita seorang teman. Namanya Teh Shanty. Beliau adalah ibu dari dua orang anak, Raka (10 tahun) dan Sasya (7 tahun). Di tengah kesibukannya menjadi ibu rumah tangga, beliau menggunakan waktunya untuk belajar melalui berbagai seminar parenting, kepenulisan atau pengembangan diri. Yang menyenangkan, ilmu yang ia dapat tidak disimpan untuk dirinya sendiri, tapi dibagikan untuk lebih banyak orang melalui resume yang ia tulis di blognya. Bukan tulisan biasa, tapi tulisan yang benar-benar ber-'ruh' dan mengalir yang menjadikan pembaca seakan hadir pada berbagai seminat yang ia ikuti.




Teh Shanty juga merupakan inisiator dari Komunitas One Day One Posting (ODOP) yang memungkinkan para ibu untuk belajar konsiten menulis selama 99 hsri tanpa henti. Kelas menulis ini sudah berjalan selama dua angkatan selama dua tahun. Bagi saya dan ibu-ibu lain, Teh Shanty dan komunitas ini berhasil membangunkan potensi menulis yang selama ini tertidur lama di dalam diri kami. Ternyata, dengan manajemen waktu yang baik, ibu juga bisa menulis setiap hari!

Bagi saya, Teh Shanty bukan hanya fasilitator yang baik, dia.. memesona..

Menangkap persamaan dari ketiga perempuan hebat di atas, Maks?

Bu Aisyah melanjutkan sekolah di usianya yang sudah lanjut, agar dapat memberikan hal lebih pada siswanya terutama dalam memahami hukum kesehatan.

Mbak Dewi memerankan mahasiswi PhD sekaligus ibu, agar dapat berkontribusi dalam dunia kesehatan Indonesia dan menginspirasi para ibu untuk bersekolah setinggi-tingginya.

Teh Shanty menjadi fasilitator yang selalu setia mengawasi dan mengevaluasi komitmen para ibu untuk menulis dan mengembangkan potensi mereka.

Ya, bagi saya #MemesonaItu adalah ketika kita memiliki komitmen untuk terus mengembangkan diri, untuk terus mencari ilmu, dengan salah satu tujuan agar dapat memberikan kebermanfaatan pada orang lain.

Dalam dunia pendidikan, hal ini disebut sebagai longlife learner atau pembelajar sepanjang hayat. Artinya, mereka meyakini jika aktivitas belajar harus dilakukan selama raga masih bernapas. Menjadi ibu tidak menjadi alasan mereka berhenti belajar. Justru mereka semakin semangat untuk menebar kebermanfaatan untuk lebih banyak orang. Sungguh memesona.. 

Ingin menjadi ibu pembelajar seperti perempuan-perempuan hebat di atas? Berikut tipsnya:

  1. Mau mengosongkan gelas dan tidak mudah puas. Artinya adalah selalu merasa diri ini tidak puas dengan apa yang sudah kita ketahui dan tidak ragu untuk belajar dari siapapun.
  2. Selalu ingin kekinian, karena hakikatnya ilmu itu terus berkembang, selalu kekinian.
  3. Rajin mencari ilmu dari mana saja. Bersyukurlah kita dilahirkan di era modern seperti saat ini. Sumber ilmu ada di mana saja, mulai dari internet, komunitas atau rekan terdekat kita.
  4. Memiliki komitmen kuat untuk selalu belajar.
  5. Berbagi apa yang kita miliki kepada lebih banyak orang, karena semakin dibagikan maka ilmu akan semakin kaya kita dengan ilmu.




Ah, iya, saya juga ingin berbagi momen memesona, ya! Hihi.. Bagi saya, #MemesonaItu adalah ketika bisa memposting foto ini di akun media sosial saya dengan tujuan memotivasi para ibu tunggal, ibu menyusui dan ibu rumah tangga untuk dapat bersekolah setinggi-tinggi. 

Bagaimana? Sudah siap menjadi ibu pembelajar?