#MemesonaItu Kepribadian yang Rupawan

by Farizza Noor Amalia / 10 April 2017

Pesona adalah kata yang lekat dengan kaum hawa, sering diasosiasikan dengan kecantikan lahir. Coba saja kita tengok apa yang kita bayangkan, yang ada dalam pikiran masing-masing saat mendengar kalimat “Pesonamu mengalihkan duniaku”. Jujur saja, tidak sedikit yang akan membayangkan perempuan berkulit mulus dan putih sedang tersenyum dengan tatap mesra. Pun di layar kaca banyak kita jumpai bagaimana pesona wanita adalah tentang keelokan parasnya yang mampu menarik mata lelaki. Kita sudah begitu memaklumi “kesalahan” ini, sehingga hal-hal lain di luar wajah rupawan tidak masuk dalam kategori memesona. Namun demikian, saya pribadi berpendapat bahwa memesona memiliki makna yang lebih dari sekedar tampilan fisik nan rupawan.


Memesona Itu adalah ketika wanita berani memutuskan untuk dirinya, bukan sekedar mengambil keputusan untuk menyenangkan orang lain atau pasangannya. Wanita sebagaimana lelaki adalah makhluk merdeka yang berhak untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Benar bahwa kita sebaiknya berpikiran terbuka dalam menerima saran atau kritikan. Namun, kita juga harus menanggapi dengan dewasa dan bijaksana bahwa kita sendirilah yang lebih mengetahui dan bertanggung jawab atas apa yang ingin dilakukan untuk kehidupan di masa mendatang. Jadi tidak perlu berkata “ya” terhadap setiap masukan hanya untuk menyenangkan orang lain. Belajar untuk berkata tidak, dengan begitu hidup akan menjadi lebih tenang dan bahagia, karena kita melakukan apa yang kita suka dan memang ingin kita tekuni dan kembangkan.


Memesona Itu saat wanita turut berkontribusi untuk kemajuan masyarakat, dalam lingkup sekecil apapun. Jika apa yang sudah diperbuat memberikan dampak positif bagi masyarakat, maka itu adalah hal yang memesona. Seorang pelajar yang tidak hanya sibuk berkutat dengan tugas kuliah dan presentasi kelompok, namun juga peka terhadap isu sosial dan kondisi di masyarakatnya, bersedia meluangkan waktu, tenaga, terkadang biaya, untuk dapat berperan meningkatkan pendidikan ataupun sosial ekonomi komunitasnya. Wanita tidak harus identik dengan kehidupan glamor khas masyarakat urban, kamu akan terlihat menawan bahkan ketika berada di bawah kolong jembatan bersama adik-adik yang berjuang bekerja sambil belajar.  Memang tidak ada yang salah dengan mengikuti  tren mode terkini, tapi pastikan bahwa itu sesuai dengan style, kepribadian, dan kemampuan, bukan karena latah mengikuti arus kekinian atau supaya mendapat pengakuan dari jumlah like di laman instagram.


Memesona Itu akan terpancar ketika wanita mampu mandiri, tidak melulu bersandar dan mengandalkan laki-laki. Memang tidak semua wanita bersikap demikian, namun yang segelintir ini terkadang dianggap mewakili keseluruhan.  Hal ini pula yang turut membenarkan stigma yang sudah terlanjur beredar bahwa wanita adalah makhluk yang rentan dan lemah, sehingga akan selalu membutuhkan lelaki. Walaupun benar bahwa kita membutuhkan lelaki, namun lebih kepada fungsi untuk saling melengkapi satu sama lain, bukan sebagai “alat” yang bisa dipanggil sewaktu-waktu kita inginkan.


Menjadi wanita dan Memesona Itu bukan berarti tidak boleh lekat dengan citra cantik dan fashionable. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut, karena kita berhak untuk menghargai tubuh dengan merias diri dan berbusana elok, lalu merasa cantik karenanya. Yang patut di garisbawahi adalah ketika kita melakukan hal tersebut demi mendapat pengakuan, bukan keinginan dari dalam hati untuk merawat tubuh dan tampil menawan sebagai bentuk penghargaan atas diri sendiri. Hal ini tidak akan mendatangkan manfaat untuk jangka panjang, karena kita hanya akan disibukkan dalam pencarian pengakuan akan eksistensi diri. Karena hakikatnya, Memesona Itu bisa dimaknai dengan lebih dalam, tidak hanya termanifestasi dalam tampilan fisik semata. Memesona Itu tentang bagaimana kecantikan kita bersinar melalui kepribadian yang matang dan kontribusi positif berkesinambungan.