Menjadi yang Terbaik

by dina kurniawati / 10 April 2017
Dulu saya ini minder banget sama yang namanya kondisi fisik. Karena hobi dari SD aja saya suka main kasti sampe siang. Main betengan (anak 90an banget ya hehe) sampe sore. Masih ada kegiatan renang dari siang sampai sore juga. Jadi fisik saya selain banyak makan ya hitam. 

Memasuki kehidupan remaja, saya mulai minder. Banyak teman teman saya yang putih mulus, langsing, berambut panjang dan klimis. Sedangkan rambut saya ini tebal dan sering saya kuncir jadilah bentuknya semrawut dan ada tekukan bekas ikat rambut disekitar bahu. Sungguh jauh dari kata fashionable. Setiap hari aja saya di bully.

Stress? cukup stress. karena 60% kegiatan sehari hari saya banyak yang bully. Saya bahkan berusaha mencoba menjadi seperti mereka. Mulai dari luluran, rebonding rambut, menjadi fashionista, dan banyak. tapi tetap saja yang namanya luluran kan ga instan  ya. Wong saya sekarang udah nikah aja tetep gelap kulitnya. Secara hobi motret dan jalan-jalan. Hahahaha

Lalu bagaimana saya mengatasi krisis gambar diri tersebut? Saya dipertemukan dengan satu orang yang juga sama tidak sempurna nya dengan saya tapi versi bahagia. Bahkan luar biasa bahagianya sampai saya menemukan bahwa dia selalu merasa dirinya cantik. 

Pertanyaan saya gini, "kok bisa ya?" Jujur saya ga tanya sama dia. Takut menyinggung juga kan ya. Huahahaha Cuman saya belajar dari teman saya ini bahwa 'hidup kadang perlu di tertawakan' hahahaha. Emang bener sih, sejak itu pun secara perlahan saya mulai ambil sisi positif dari setiap kejadian yang menimpa saya. Saya mulai berdamai dengan fisik saya. Saya mulai mencintai diri saya. Dan saya tidak mau ambil pusing dengan bully-an. Saya percaya saya cantik. Apalagi didukung skill saya (halah).

Saya mulai mencintai diri saya sendiri dan menjadi yang terbaik yang saya bisa. Saya tetap main basket. Saya bahkan mulai ikut pertandingan antar kelas juga. Pokoknya saya mau melakukan yang saya suka.
Semakin dewasa semakin banyak keinginan saya. Salah satunya adalah terjun di dunia photography. Terjun di dunia photography jelas ga bikin saya tambah putih, yang ada malah tambah hitam.
Bertemu dengan model-model cantik, putih, mulus, tidak lagi membuat saya minder. Karena apa? Karena saya juga cantik kalau lagi pegang kamera. LOL. Dengan hasil karya foto yang bagus amat sangat meningkatkan rasa percaya diri saya kembali. Saya meyakini saya pintar. Saya kreative. Jadi saya bangga!



Kesimpulan saya #memesonaitu adalah keadaan dimana saya bisa menjadi yang terbaik yang saya bisa. Baik dari fisik maupun skill, sehingga orang lain pun percaya dengan saya. Fisik disini saya tidak mengharapkan yang muluk-muluk. Saya kan ditakdirkan pendek ya, jadi ga harus operasi peninggi badan juga hahaha. Saya tidak melupakan kegiatan luluran, ke salon, facial, olahraga, dan lain lain yang mendukung fisik saya juga. Bagaimana saya bisa melupakan kegiatan mengasyikan itu secara saya wanita yang suka dimanja hahaha. Dan juga saya berpikir perawatan memang penting, ga harus putih mulus, yang penting  bersih, menarik, berpakaian sesuai situasi dan kondisi, karena saya adalah marketing dari produk saya sendiri kan!

Saya juga terus berkarya dan belajar walaupun orang pasti ada saja yang mencerca. Kalau saya berhenti, mereka akan lebih puas. Mengejar cita-cita itu wajib hukumnya! Ngga perlu minder dengan pencapaian sekarang, namanya juga belajar. Seumur hidup juga bakal belajar terus. Bahkan sudah hampir 8 tahun saya berkutat dengan kamera dan baru di tahun ke 7 ini saya akhirnya punya studio dirumah. Terima kasih buat suami saya yang selalu mendukung hobi dan pekerjaan ini. Bahkan hamil pun saya masih bisa motret! hehe 

#memesonaitu ketika saya bisa menjadi yang terbaik yang saya bisa.


me, one of the happiest mother to be