#memesonaitu berani jadi diri sendiri

by Gusti Nurul / 10 April 2017

Menjadi perempuan itu cukup susah ya?. kita, sebagai kaum perempuan punya serangkaian “Dos and Don’ts yang (secara tidak sadar) dilengketkan ke para perempuan oleh masyarakat .Sayangnya dos and don’ts ini gak punya keseragaman. Sekelompok orang gak masalah kalo ada  perempuan yang melakukan A, sementara sekumpulan yang lain akan langsung mencaci maki dan berpandangan miring terhadap mereka yang melakukan itu. Beberapa orang gak masalah dengan perempuan yang mengejar karier. Sementara yang lain akan langsung nyinyir “hey, ngapain kamu berkarir tinggi?, nanti banyak pria takut”.  "gak perlulah perempuan itu sekolah tinggi tinggi, paling ujung ujungnya didapur”.

Ah, ribetnya menjadi perempuan. Terkungkung oleh serangkaian stigma dan stempel yang akan dilekatkan begitu kita melakukan sesuatu yang berseberangan. Karena itu saya selalu kagum dengan mereka, perempuan yang berani menjadi dirinya sendiri. Tidak merasa bahwa ia harus menampilkan dirinya as how people expected them to be. Berani mengeluarkan “warna” aslinya. They are authentic, dan mereka menarik dengan menjadi dirinya sendiri. Butuh proses yang panjang untuk sampai ditahap dimana kita nyaman dan menerima diri kita seutuhnya, untuk menjadi seorang perempuan yang percaya diri.

Menjadi diri sendiri itu memang susah. Butuh keberanian besar untuk mendengarkan apa yang hati kita inginkan. Butuh kekuatan untuk stick pada keputusan kita dan menutup telinga pada komentar nyinyir diluar sana.

Ngomong ngomong soal menjadi diri sendiri. Saya punya blogger yang saya kagumi karena keberaniannya menyuarakan isi hati. Bagi saya berani bersuara apa yang dirasakan itu adalah bagian dari menjadi diri sendiri. Dan mbak Langit amaravati, blogger yang saya kagumi itu adalah contohnya. Ia jujur menumpahkan uneg unegnya dalam “Anda dan saya blogger, bukan event cheerleader”. Sebuah tulisan yang cukup menampar dan menggelitik  bagi para blogger.

Dan tulisan itu bukan tanpa “serangan balik”. Beberapa komentar pedas dan balasan yang “memerahkan” kuping pun bermunculan. Tapi itulah mbak langit, ia dengan gagah berani melawan dan membalas para komentor. Dengan elegan dan berkelas.

Apa yang mbak Langit lakukan itu bagi saya adalah sebuah kejujuran. Kejujuran itu tak muncul tanpa keberanian. Termasuk menjadi diri sendiri. Tanpa keberanian, rasanya mustahil kita bisa menjadi diri sendiri.

Oh, ngomong ngomong ini bulan April ya?. Rasanya kita semua sudah tau peringatan besar apa yang bangsa Indonesia rayakan dibulan April  ini ? ya, Hari Kartini.

Ibu Kartini bagi saya adalah sosok wanita yang mencerminkan keberanian menjadi diri sendiri. Berani berjuang menyuarakan pemikirannya, bukan hanya untuk dirinya, namun juga bagi kaum wanita pada saat itu.

Raden Ajeng Kartini,  dengan keberanian dan pemikirannya, tidak pernah terkikis pesonanya. Bahkan hingga ratusan tahun sejak Ia tiada. 

Apa yang bisa kita, sebagai kaum wanita, teladani dari Ibu Kartini adalah kemampuannya untuk menolak apa yang ia rasa bertentangan dengan dirinya. Keberaniannya untuk mempertanyakan, kenapa wanita tidak boleh sekolah tinggi ?.kenapa adik adiknya harus menunduk ketika ia lewat di hadapan mereka?, dan hal hal lain yang mengusik nuraninya.

Mungkin saat ini kita tidak sedang memperjuangkan seperti apa yang RA Kartini perjuangkan di jamannya. Tapi nilai nilai itu tetap  bisa kita terapkan dalam kehidupan kita.

 Sebagaimana yang saya tulis, #memesonaitu berani menjadi diri sendiri. Bukan hanya sekedar menjadi diri sendiri, namun juga berani berubah untuk diri sendiri yang lebih baik. Be the best version of yourself.

#memesonaitu bukan hanya sekedar cantik

#memesonaitu berani

#memesonaitu berani jujur pada diri sendiri

#memesonaitu berani “egois” untuk kebahagiaan diri sendiri. Bukan hanya capek menuruti apa yang orang lain inginkan kita lakukan, menjadi people pleaser.

#memesonaitu berani berkata tidak untuk hal hal yang bertentangan dengan nurani.

#memesonaitu…

                                   Kamu