Being Memesona, Like a Flower!

by Indah Mutiara Putri IIDN / 10 April 2017
Di mana damaiku?

Mungkin sebagian dari kita tengah mencari “makna dan rasa” dari sebuah kata yang disebut “damai.” Yaitu kata yang sulit dideskripsikan meski telah dibicarakan dari banyak sudut pandang. Damai memang sulit terjamah meski bergelimang materi atau memiliki segudang ilmu sekalipun. Sebab orang yang bahagia belum tentu damai, karena bahagia bersifat sementara dan damai adalah sesuatu yang bersifat sakral. Setidaknya ini menurut saya.



Damai memiliki efek yang luas dalam pribadi seseorang.
Saya mendeskripsikannya seperti lelehan Mozzarela yang langsung tumpah ke pori-pori lidah!
Begitu sensasional dan jernih
Karena damai adalah sisi-sisi nyentrik dari kata yang disebut memesona.


Memesona merupakan momen di mana kamu akan merasa begitu teduh dan tenang. Bereaksi wajar di saat sedih ataupun sakit hati, dan begitu pandai memanipulasi pandangan sekitar yang begitu ingin tahu deritamu.

Memesona itu menyajikan sikap terbaik dalam kondisi terburuk sekalipun. Di saat kamu tetap menjaga perasaan orang lain sedangkan sebelumnya bertubi kata-kata pedas yang kamu terima darinya, itulah memesona. Di saat kamu mampu memberi toleransi yang tinggi atas karakter buruk orang lain, itulah memesona. Di saat kamu tetap menyediakan diri meski sudah begitu terjajah selama ini, itulah memesona. Di saat kamu begitu kecewa tapi tetap tidak suka melihat orang yang mengecewakanmu menderita, itulah memesona.

#Memesonaitu tidak melabel. Di saat orang lain melakukan kesalahan, kamu tetap menunggunya dengan doa, agar ia berbalik arah. Bukan meninggalkannya. Tentu ini bukan hal yang mudah, tapi memesona adalah ikrar diri untuk selalu baik. Bisakah kita melakukannya? Bisa. Kuncinya berpikir positif dan bersyukur.

Versi lain dari memesona adalah di saat kamu terbahak menertawakan kebodohanmu. Bukan kesal ataupun marah, tapi menangis di saat tidak melakukan perubahan setelahnya. Memesona itu belajar kawan. Belajar memahami diri dan orang lain.

Memesona bagi saya ya seperti sekarang ini. Waktu menunjukkan pukul 3 dini hari saat saya menulis ini. Mencurahkan seluruh perasaan lewat kata dalam gelap dan hening, merupakan saat-saat yang luar biasa. Saat ini saya begitu menyatu dengan alam dan melebur menjadi sebenar-benarnya diri. Menelaah setiap kejadian, merenungi kesalahan, serta terus memotivasi untuk tetap berdiri. Bukankah jiwa perlu bernapas? Proses ini pada akhirnya akan membuat seseorang memancarkan aura yang penuh pesona. Karena memesona itu seperti bunga, ia bisa membuat orang lain terpesona tanpa harus tebar pesona. Ya, memesona adalah sesuatu yang jujur, natural dan berkesan. Yaitu benang merah dari segala tindakan yang akan tetap berada pada pikiran, perasaan dan tindakan yang positif.

Memesona itu pelajaran seumur hidup. Berusaha selalu mendidik diri supaya cerdas dan proporsional. Melecutkan semangat untuk merealisasikan harapan, dan bukan menciut karena kebodohan. Memesona adalah momen di saat saya bisa meneteskan air mata. Bukan karena kemalangan atau kepedihan hidup. Tapi tentang titik balik dan introspeksi diri. Tentang bahagia karena bisa melakukan banyak hal untuk sekitar. Memesona itu di saat memahami kemalangan orang lain dan ikut terpanggil untuk membantunya melawan kekurangan itu.




Memesona bagiku adalah keseimbangan. Antara hubunganmu dengan Tuhan, antara hubunganmu dengan orangtua sebagai anak yang mulia, dan antara kewajaran, pamahaman serta kesadaranmu sebagai tulang rusuk dari malaikat pelindungmu. Yaitu sang suami. Juga sebagai ibu yang sadar kodrat. Bahwa mengandung, melahirkan, mengalirkan air susu ke tubuhnya, lalu mendidik dan membesarkannya merupakan sebuah tanggung jawab dan kita sama sekali tidak boleh menuntut timbal balik. Kerjakan saja bagianmu, selebihnya biar Tuhan yang mengatur. Karena permasalahan  itu sejauh jarak antara lutut dengan kakimu. Orang yang berlutut pada Tuhannya selalu mampu berdiri dalam keadaan apa pun.

Memesona itu bersyukur dan menerima takdir dengan ikhlas. Memesona itu tatkala tetap ingat sejarah meski sedang berada di puncak kejayaan. Karena memesona adalah kekuatan. Tentang kharisma seorang perempuan. Sampai kapan pun Kartini-kartini baru akan terus bermunculan. Karena zaman yang berbeda akan menciptakan keterbatasan dan tantangan yang berbeda pula.

It is hard to be a woman
You must think like a man
Action like a lady
Look like a young girl
And work like a horse

Bahwa perempuan adalah mahluk yang lembut, bukan lemah. Bahwa perasaan perempuan memang lebih berperan ketimbang logika, tapi bukan berarti Ia tak punya otak. Mereka hanya butuh waktu untuk menelaah lebih jauh agar dapat menyelesaikan segala permasalahan dengan cara yang indah. Bahwa perempuan tercipta dengan mulutnya yang ramai, tapi ini semua tumbuh karena cinta. Mereka harus mengajarkan banyak hal pada putra putri kehidupan yang notabene belum tahu apa-apa. Bahwa perempuan tercipta sebagai mahluk yang detil, rapi dan teliti dibanding lawan jenisnya, sehingga segala sisi kehidupan bisa dimanajemeni dengan baik. Perempuan adalah sosok yang kuat dan tegar, cerdas, berprinsip tapi tetap berperasaan. Inilah yang mengindikasikan bahwa R.A Kartini adalah pelopor hak dan kebebasan perempuan, tapi akan tetap ada kartini-kartini modern sebagai pejuang, yang akan menaklukkan segala ketidakseimbangan dalam hidupnya, sesuai perkembangan zaman.




So, meski memesona adalah sesuatu yang alami, tetap saja kan, perlu pelestarian. Ia tidak akan bertumbuh dengan baik bila tidak dirawat. Bukankah pepohonan juga seperti itu? Begitu pun dengan kepribadian kita. Berikut langkah sederhana yang selalu saya terapkan dalam keseharian.

1. Mengenal diri
Supaya tidak menjadi golongan galauers, saya perlu mengenal diri secara menyeluruh. Kenapa dan untuk apa saya hidup, tujuan terbesar, juga alasan-alasan yang menguatkan saat melemah. Mengenal diri akan memberi pemahaman lebih, bahwa apa yang sudah dimulai haruslah mencapai akhir, bukan berhenti di tengah jalan.

2. Manajemen diri
Menajamkan pikiran, mengasah kepandaian dan memperluas pergaulan termasuk caraku memotivasi diri. Dengan ini maka kepribadian positif akan terus meningkat, sehingga label memesona akan melekat dan diakui, meski tidak disampaikan secara langsung.

3. Memiliki relationship yang baik
Orang yang memiliki korelasi yang baik dengan sesama dan Tuhannya, akan selalu memiliki energi positif karena tidak menyimpan amarah, kebencian dan dendam dalam hidupnya. Inilah sebab mengapa kita perlu memupuknya. Sebab memesona termasuk perkara kenyamanan diri, yang pada akhirnya akan memancarkan aura positif secara alamiah.

4. Merawat diri
Menjaga kesehatan, merawat kebersihan dan memelihara kecantikan, merupakan refleksi diri dari rasa syukur saya terhadap sang pencipta. Maka tak heran jika kata memesona melekat pada orang-orang seperti ini. Sebab tubuh yang sehat membuat seseorang mampu beraktivitas dengan maksimal. Begitu pun dengan kecantikan yang terjaga. Jangankan manusia, malaikat saja akan betah berlama-lama jika kecantikan ganda kamu miliki, cantik luar dalam. Sempurna!

5. Memaksimalkan kecerdasan
Ada hal yang tidak bisa ditoleransi oleh alam dan zaman, yaitu kebodohan. Karena kecerdasan, keluwesan pikiran, dan tajamnya pandangan merupakan parameter dalam bersosialisasi. Baik dalam lingkup keluarga, pertemanan, maupun di dunia kerja. Tanpa adanya pilar-pilar di atas kita akan menjadi orang yang kaku, stuck dan tidak mampu beradaptasi. Relaksasi dan belajar dari banyak media adalah caraku mengoptimalkan bidang ini.

6. Berpikir dan bertindak positif
Pikiran yang positif biasanya akan diikuti dengan tindakan yang positif pula. Maka wajib hukumnya memaksimalkan aspek yang satu ini menjadi live skill kita. Jangan berhenti berproses, teruslah merasa lapar dan haus supaya tetap bertumbuh. Tidak ada kata cukup untuk sebuah pencapaian, karena di atas langit masih ada langit. Sesungguhnya arogansi adalah musuh utama yang akan menghancurkanmu dengan sangat mudah.


So, teruslah bermimpi
Teruslah bermimpi
Bermimpilah selama engkau masih dapat bermimpi
R.A Kartini


Karena hal terkeji di dunia ini adalah ketika kita membiarkan diri terjajah oleh kebodohan, ketidaktahuan dan ketidak mengertian.