MemesonaItu Mudah untuk Ibu Rumah Tangga

by Astin Astanti KEB / 10 April 2017

Yes, aku menuliskan status pekerjaan di lembar halaman rapot anakku. Ibu Rumah Tangga. Sebuah pekerjaan yang tidak memiliki hak untuk cuti. Pekerjaan yang siap 24 jam bahkan lebih, jika diminta. Tidak ada tuntutan yang harus diajukan, karena pekerjaan itu gratis diberikan. Siap disandang setelah berstatus menjadi seorang istri. Dan bertambah setelah melahirkan anak-anak.

Cap ibu rumah tangga yang selalu berdaster. Ibu rumah tangga yang tidak dandan. Ibu rumah tangga yang gak up date informasi bahkan teknologi. Ibu rumah tangga yang tahunya hanya seputaran wajan dan pertumbuhan anak. Ibu rumah tangga yang selalu harus menyetorkan laporan kegiatan dan kesehatan anak-anak kepada suami. Ibu rumah tangga yang HANYA berkutat dengan kegiatan domestik rumah. Pernah di satu waktu, pekerjaan ibu rumah tangga dipandang sebelah mata. Oh, cuma ibu rumah tangga.

Jadi jauh dari kesan memesona. 

Lalu, detik ini aku menjadi ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga yang harus terlihat memesona. Apakah iya, harus menggunakan blazzer untuk mencuci ompol Si Kecil. Menggunakan bulu mata palsu badai pasti berlalu saat menggoyang pan work yang berat. Menggunakan high heels untuk membersihkan got yang mampet. Atau harus menenteng tas dengan tulisan tas branded saat mengendong anak atau menemani anak bermain di lapangan sebelah rumah?

Sepengalamanku sich enggak begitu untuk merasa memesona.

Iya, meskipun aku melihat perempuan pekerja kantoran yang sedang presentasi di depan banyak orang itu, sangat memesona. Menjadi center of point para rekan kerjanya. Gaya bicaranya ditata rapi. Pandangan matanya menebar dengan angun. Cara tersenyum juga sangat dijaga supaya menyenangkan. Body language-nya dipertontonkan dengan sangat indah. Sempurna, #memesonaitu mudah dilakukan oleh perempuan yang memiliki panggungnya. Seperti perempuan pekerja.

Ibu rumah tangga juga punya panggung, kan. Nah, ini caraku untuk terlihat memesona atau merasa memesona versiku.  

Menjadi #memesonaitu mudah untuk ibu rumah tangga. Bahkan sangat mudah untuk dilakukan, asal serius, ikhlas dan konsisten untuk dilakukan. Maa fkan pikiranku yang di atas ya, harus berblazer ria di rumah, kan enggak mungkin. Jadi, menurut pengalamanku, aku merasa memesona itu, adalah sewaktu;

Bangun di Pagi Hari dengan Senyum Seluas Samudera


Aku termasuk yang sering cemberut bangun di pagi hari. Alasannya banyak. Contohnya seperti ini " Duh, tidurku  belum cukup. Semalam Si Kecil nangis. Kan butuh tenaga banyak untuk hari ini. Jadi bolehlah yaaa, tidur beberapa meniiiiit lagi". Setelah itu bangun kesiangan. Bagaimana waktu bangun pagi akan terlihat memesona?

Jadi, harus dirubah. Suatu hari, aku mencoba dan terus mencoba sampai menemukan rasa yang nyaman dan membahagiakan.

Setiap perempuan yang sudah menjadi istri, menjadi ibu dari anak-anaknya. Pasti mempunyai insting dan naluri untuk bangun lebih pagi. Insting inilah yang aku pergunakan. Pasang alarm jam 4 pagi, jam 3 dini hari sudah terbangun. Tidur lagi? sayang banget kan? mending bangun atau sekedar menatap wajah-wajah yang dicintai. Berdoa dan bersyukur diberikan kesempatan yang indah untuk selalu bersama mereka.

Setelah itu, pasti ada energi yang menggerakan langkah untuk turun dari tempat tidur. Keluar kamar, meskipun sekedar membereskan ruangan yang berantakan sisa semalam. Atau langsung menuju ke dapar untuk menyiapkan masakan.

Keadaan bangun tidur pagi, enggak kesiangan. Enggak buru-buru dan enggak sakit kepala. Hati bahagia, pikiran tenang, senyum tersungging. Di situ, aku merasa memesona. Caranya mudah sekali bukan? niat untuk bangun pagi. Niat bangun pagi untuk beribadah kepada Allah dan untuk menyiapkan awal hari yang menyenangkan untuk seluruh anggota keluarga.

Membangunkan Anak dengan Sentuhan dan Kasih Sayang


Adakalanya seorang ibu juga menemukan bad mood. Bangun kesiangan, rumah berantakan. Makanan belum siap dan anak-anak susah untuk dibangunkan di pagi hari. Duh, ini yang namanya sindrom pagi-pagi di rumah. Rame, senewen dan mulut susah sekali untuk diminta tersenyum. Senyumpun mungkin dengan terpaksa.

Aku, pernah menghadapi keadaan tersebut. Mungkin sering. Tapi aku pernah mencoba untuk tidak masuk lebih dalam ke jurang yang lebih dramatis.

Tarik nafas panjang. Lemaskan badan dan buat senyum semenarik mungkin. Masuk ke kamar dan menyentuh anak dengan lembut. Membisikan kalimat yang menyejukan. Memintanya bangun dengan tenang. Anakpun akan bangun dengan lebih mudah. Tidak ada rengekan, tidak ada perlawanan dan yang terjadi pasti ingin mengecup dan memeluk si anak.

#Memesonaitu ada di keadaan tersebut. Tidak berteriak ke anak untuk bangun. Tidak ada bolak-balik mengoncang-goncang badan anak, dan memesona itu ternyata membahagiakan orang lain.

Menggunakan Kalimat Baik dalam Berkomunikasi dengan Anak


Komunikasi ibu rumah tangga paling banyak dilakukan dengan anggota keluarga. Suami dan anak-anak. Waktu ibu bersama anak-anak adalah yang paling banyak. Anak merajuk minta mainan, sama ibu. Anak minta dibelikan mainan pesawat terbang, meminta ke ibu. Anak-anak berantem, ibu yang turun tangan. Anak berselisih paham dengan temannya, ibunya yang menengahi. Anak memainkan isi lemari es, ibu yang bertanggungjawab membereskan.

Dalam keadaan lelah, kata-kata dan kalimat mungkin akan sulit untuk dikendalikan. Tapi setelah dipikirkan kembali, penyesalanlah yang datang.

Jadi, berusaha untuk mengendalikan kalimat adalah penting untuk ibu rumah tangga. Apalagi untuk berkomunikasi dengan anak-anak.

Pernah, keceplosan pernah. Masa iya enggak pernah. Tapi tidak sampai fatal dan berlangsung lama. Semua ibu rumah tangga, apalagi dengan anak-anak. Pasti memiliki naluri keibuan yang menjadi pengendali setiap kalimat yang akan keluar.

Setiap hari, setiap kali aku berkomunikasi dengan anak-anak. Meskipun sedang menghadapi tantangan terberat sekalipun. Aku belajar menggunakan kalimat yang baik. Bertutur dengan lembut tapi tegas. Berkata sedikit tapi penuh makna. Bertindak lebih banyak dengan sentuhan kasih sayang.

Di situ aku merasa, akulah wanita paling memesona yang mampu mengendalikan diriku sendiri. Menyingkirkan rasa kesal. Melupakan tumpukan cucian piring, tumpukan baju yang akan disetrika dan lebih memilih mengajak anak membereskan mainan. Mencari senyum dan bahagia bersama.

Berdiskusi Mesra dengan Suami


24 jam bahkan lebih. Kemampuan multitasking. Rasa kantuk datang, namun anak-anak tak satupun memejamkan mata. Suami pulang larut malam. Masa iya ditinggal tidur.

Iya sich, pernah melakukan hal tersebut. Tentunya ada satu alasan, badan kurang begitu fit. Esok pagi harus bangun lebih awal untuk menyiapkan perlengkapan yang harus dibawa bepergian.

Mohon maaf ya, suamiku. Jika kau pulang larut istrimu sudah tidur. Manusiawi kan ya? seorang istri juga kadang tak mampu menahan kantuk. Tak mampu menahan lelah hanya tuk berjaga di balik pintu.

Alhamdulillah suamiku mengerti dengan keadaanku. Mengurus anak-anak yang banyak memberikan tantangan. Salah satunya adalah, anak-anak tidak pernah membiarkan lantai rumah hanya 1 warna. Jadi, mereka memberikan warna-warni yang sangat cantik dengan memberantakan mainan mereka.

Suamiku memintaku untuk menunda membereskan. Memintaku untuk menemani beristirahat. Kadang langsung terlelap, kadang berdiskusi tentang banyak hal. Ada saja yang menjadi bahan diskusi aku dan suami, selain anak-anak.

Suamiku suka ngobrol dan aku suka kalau suamiku sudah mengeluarkan banyak teori-teori yang dibacanya dari berbagai sumber. Yap, akulah patner ngobrol suamiku tentang politik, agama, tentang buku-buku barunya, tentang hal-hal yang terjadi di pekerjaannya.

Mau tidak mau, aku harus mengikuti semua bacaan yang dibaca suamiku. Terakhir aku jadi kecanduan membaca buku karya Kiyosaki. Maafkan aku suami, buku pertamanya belum kelar. Hihii. Untuk apa aku harus mengikuti? toh suamiku pasti akan menjelaskan kepadaku?

Alasanku adalah agar aku tetap terlihat memesona sewaktu berdiskusi dengan suamiku. Aku gak mau asal angguk atau mendengarkan penjelasannya. Aku harus menjadi patner yang seimbang untuk suamiku dalam pembahasan yang sedang didiskusikan.

MemesonaItu mudah untuk ibu rumah tangga sepertiku. Apalagi sewaktu berbaring di sisi suami. Mendengarkan penjelasannya tentang mengapa orang kaya selalu menambah investasinya. Mengapa dia tidak membeli saham perusahaan rokok atau bank.

Aku mau menjadi ibu rumah tangga yang meskipun menggunakan daster, tapi aku berkenalan dengan informasi dan teknologi.

Aku mau terlihat memesona dengan ilmu yang selalu kucari. Dari pekerjaan-pekerjaan di rumah, dari anak-anak dan dari suamiku. #MemesonaItu mudah, bukan?.