Semesta yang #MemesonaItu dan Aku

by Annisa Jasmine Rizkiani / 10 April 2017
Aku tahu sejak dahulu bahwa semesta itu memesona. Mekanisme kehidupan yang mereka canangkan, garis takdir yang mereka lukiskan, segalanya memesona diriku. Tahun demi tahun aku mengamati, tahun demi tahun pula aku terkagumi. Mengapa begitu? Tanyaku kepada diriku sendiri. Lantas aku observasi diriku sendiri, kemudian aku sadari sebuah hal.
            Masa jayaku dalam menjadi seorang perempuan – yang sangat menikmati esensi kehidupan – berakhir saat aku lulus Sekolah Menengah Pertama. Aku katakan masa jaya karena di masa-masa itu aku merupakan perempuan yang diminati. Uang yang berkecukupan, teman yang menyenangkan, senyum yang menggemaskan, wajah yang indah, tubuh yang langsing, rambut yang diirikan oleh banyak perempuan, ah aku suka merona bila mengingatnya kembali, terutama ketika mengingat berbagai laki-laki yang datang untuk mencoba menjalin hubungan saling meminati denganku. Ketika aku mulai menempuh Sekolah Menengah Atas, ada perubahan yang terjadi kepada diriku. Tidak sedikit, sama sekali tidak sedikit. Bahkan lebih banyak dari yang sanggup aku tampung.
            Tanpa aku sadari, embel-embel “diminati” itu hilang dari diriku. Tubuhku berukuran tiga kali lipat dari ukuran tubuhku dahulu. Wajahku tidak seindah bagaimana yang dulu terlihat. Entah itu aku terlalu terbuai oleh kegemilangan hidup yang aku miliki sehingga lalai akan perubahan ini atau sebuah perubahan memang sesulit itu untuk dilawan, aku tidak tahu. Sebelumnya aku memuja-muja takdir, sekarang aku mengutuknya. Penyesalan datang silih berganti. Aku menyesal telah menyia-nyiakan berbagai tawaran dari laki-laki yang datang kepadaku, karena tawaran itu kini tidak datang lagi. Terkadang aku bahkan mencoba untuk membohongi diriku sendiri, mengatakan bahwa bukan diriku yang berubah menjadi kurang diminati melainkan selera para lelaki yang mendadak menjadi tinggi sekali, namun itu tidak berhasil. Aku tetap tidak bisa berhenti menyalahkan diriku sendiri dalam kelalaianku menghadapi perubahan ini. Bisa dibilang apa yang aku lakukan setiap harinya hanyalah menangisi takdirku dan merindukan diriku yang dulu.
            Berulang kali terlintas dalam diriku minat dan semangat untuk berubah kembali. Melakukan ini itu, mencoba kembali langsing, mengatur segala sesuatu, semuanya aku coba lakukan. Masalahnya adalah seberapa tahan aku melakukannya. Segala yang aku lakukan merupakan hal yang benar, hanya saja selalu tidak bertahan lama. Aku tahu bahwa sebelumnya aku telah diingatkan bahwa ini semua tidak akan mudah. Aku berpikir bahwa aku bisa lebih baik dari mereka yang gagal melakukan hal semacam ini. Kenyataannya, aku sama saja seperti orang gagal yang lain. Aku menyerah kepada diriku sendiri. Aku marah kepada semesta ini karena terlalu sulit untuk ditinggali. Terus seperti itu, tanpa ada perubahan. Hidupku hanya berlalu seperti itu.
            Lalu, entah karena sudah lelah aku salahkan atau memang ini adalah rencananya sejak awal, aku tidak tahu. Tapi yang pasti, semesta mengagetkanku. Di saat aku mulai pasrah, saat aku mulai menerima nasibku dan mencoba menjalaninya sebaik mungkin, semesta memicuku. Ini terjadi saat aku menempuh masa perkuliahan. Aku diperlihatkan sebuah pemandangan. Pemandangan itu menceritakan seseorang yang berusaha lebih keras dari yang dia mampu. Melewati batas dirinya, melawan takdir yang kejam. Di masa-masa dimana dia seharusnya berada di puncak bersenang-senang, puncak mengekspresikan diri, dia dibebani oleh berbagai masalah. Dan itu pun dia tidak menyerah. Tidak mau menerima nasib, benar-benar tidak mau. Sama sepertiku, di masa lalunya dia merupakan sosok yang gemilang. Namun meskipun seperti itu dia tidak sekalipun melirik kebelakang. Apa yang dia pikirkan hanyalah apa yang akan dia lakukan besok, dan selanjutnya. Dia hanya memikirkan rencananya untuk kedepannya. Dan kalaupun rencana itu gagal, dia tidak akan terdiam untuk menyesalinya lalu memikirkan cara bagaimana menggantikan kegagalannya.
            Diperlihatkan pemandangan seperti ini tentu saja tidak mudah. Hal ini membuatku berpikir banyak, menelaah kembali berbagai hal yang aku lakukan dulu. Mengapa aku menyerah secepat itu? Tanyaku. Orang itu sama sepertiku, dan dia tidak menyerah. Dia kehilangan banyak opsi untuk menjadi lebih baik, namun masih gigih mencari opsi lain. Sementara aku memiliki banyak opsi, namun memutuskan untuk menyerah. Ini lah masalah diri kita para gadis-gadis. Kita bisa saja tidak mengakuinya, namun jauh di dalam diri kita, kita menunggu sesuatu. Menunggu takdir berubah, menunggu keajaiban terjadi, menunggu saat dimana pangeran berkuda kita muncul. Aku sadari hal ini, karena memang itulah yang terjadi pada diriku. Aku sadari selama ini aku hanya menunggu. Usaha-usaha yang pernah aku lakukan dahulu hanyalah untuk menipu diriku sendiri agar berpikir bahwa aku sama sekali tidak menunggu, hanya sebuah selingan dalam proses menunggu yang mana sebenarnya itulah yang aku lakukan. Karena sebenarnya, segala usahaku dulu tidaklah sebenar-benarnya usaha, sedari memulai aku sudah kehilangan kepercayaan pada diriku sendiri, segalanya tanpa aku sadari. Bila kalian tidak percaya, atau menyangkal hal ini dengan sangat, maka telaah lah diri kalian sendiri. Misalnya saja, ketika kalian mencoba untuk langsing, kalian melakukan usaha diet. Dalam prosesnya itu, kalian benar-benar berdoa dan berharap semoga usaha kalian itu berhasil. Benar-benar berdoa bersungguh-sungguh sekali sehingga kalian tidak sadar bahwa itu secara tidak kalian sadari mengekspresikan ketidakpercayaan kalian terhadap diri kalian sendiri. Ketidakpercayaan kalian terhadap diri kalian sendiri itu secara tidak langsung membuat kalian menunggu keajaiban terjadi, menunggu sesuatu terjadi, menunggu takdir berubah. Itu lah yang terjadi, dan kalian harus terima itu.
            Dibekali pengetahuan akan hal ini, aku bergemuruh. Bergemuruh akan sebuah pembenahan diri. Apa yang orang tadi lakukan, kini aku lakukan. Kali ini tidak “mencoba” lagi, namun aku “lakukan” saja, tanpa aku mau tahu kapan aku selesai, tanpa aku mau tahu kapan aku berhenti. Ini lah yang kita butuhkan, gadis-gadis. Lakukan saja, tidak usah pikirkan mana atau kapan titik finish kalian. Cukup lakukan saja. Apa yang aku lakukan itu adalah mencoba untuk menjadi lebih baik lagi dari diriku hari ini, dalam bentuk apapun itu. Manfaatkan setiap opsi yang ada. Segera ambil setiap kesempatan yang muncul, jangan lagi ditangguhkan. Percaya lah bahwa dirimu yang sekarang selalu merupakan seseorang yang lebih baik dari dirimu yang sebelumnya. Lupakanlah soal apa yang terjadi di belakang, pikirkanlah hanya apa yang ada didepan, dan apa yang menantimu selanjutnya.
            Kalian mungkin bingung mengenai apa yang harus kalian lakukan, buntu. Aku juga seperti itu, namun tetap aku lakukan saja. Aku tidak membiarkan diriku memiliki waktu kosong, aku akan sangat marah kepada diriku bila aku tidak memiliki agenda dalam sehari saja. Setiap waktu kosong yang mungkin aku punya, selalu aku cari aktivitas lain yang lebih bermanfaat untuk menggantikannya. Aku tidak membiarkan diriku untuk istirahat, karena aku masih tidak memerlukannya. Istirahat bagi diriku hanyalah saat aku benar-benar membutuhkannya. Semesta ini bergerak dengan cepat, dan kita tinggal didalamnya. Maka kita juga harus seperti itu, menyesuaikan diri, tidak membiarkan diri untuk berhenti terlalu lama.
            Semesta memesonaku dengan berbagai cara. Melalui mekanisme kehidupan, melalui garis takdir, berbagai cara. Aku tidak pernah tahu kalau mekanisme kehidupan seperti itu, melalui bahagia, jatuh, lalu bangkit. Aku tidak pernah menyangka takdir akan membawaku kepada orang itu, membawaku kepada pemandangan itu. Aku tidak pernah menyangka takdir akan membiarkanku mencicipi kehidupan yang seperti ini, menemui pembelajaran yang mengubah begitu banyak, terbiarkan memutuskan sesuatu sebulat-bulatnya. Aku tidak pernah menyangka takdir akan membiarkanku memiliki pengalaman yang tidak ter-alami oleh kebanyakan orang, dan kini aku menuliskannya di sini untuk membaginya kepada yang kehilangan arah. Aku tidak menyangka semesta akan membiarkanku menggurui.
            Aku yang sekarang memang tidak se-diminati aku saat masa jayaku dulu. Aku tidak punya segala hal yang aku miliki ketika masa jayaku. Aku merindukan diriku ketika masa jayaku. Namun, aku tidak ingin kembali. Aku yang sekarang telah terbekali gemelut kehidupan, telah lebih dewasa. Perjalanan ini, lebih aku syukuri daripada segala yang aku miliki dulu. Aku memiliki tujuan, tidak mengambang. Aku tertuntun, tidak tersesat. Aku puas. Untuk semesta yang memesona ini, aku hadir sekarang di dalamnya menjadi sebuah bagian yang memesona.

            Memesona itu mau mengakui kesalahan diri sendiri, mau mengakui kekalahan diri sendiri. Memesona itu percaya kepada diri sendiri. Memesona itu percaya kepada semesta.
            Tidak, memesona itu adalah semesta, dan kita penghuninya yang percaya semesta itu memesona, akan sama memesonanya dengan semesta ini.


            #MemesonaItu , adalah kita yang percaya.