Memesona Dibalik Keterpurukan

by Nurhidayat / 10 April 2017

Tahun 2014-2016 menjadi tahun yang tak terlupakan bagiku. Pengalaman di tahun itu benar-benar menempahku menjadi pribadi yang sabar, mandiri dan unggul. Ceritanya seperti ini, di penghujung tahun 2014 aku dan lima orang temanku  ditugaskan untuk magang di salah satu kantor pemerintah selama dua pekan. Kami diterima oleh kepala kantor dan ditempatkan di Bidang Pendidikan dan Pelatihan (Diklat). Dalam acara penerimaan peserta magang, kepala kantor menjelaskan bahwa diakhir program magang nanti, kami diwajibkan untuk presentasi hasil magang satu persatu di hadapan semua pegawai kantor.

Tanpa terasa, dua pekan telah berlalu dan tibalah saatnya kami mempresentasikan apa yang kami peroleh selama magang. Saat itu kepala kantor tidak dapat hadir dan diwakilkan oleh Kepala Tata Usaha (KTU). Aku mendapat giliran terakhir untuk mempresentasikan hasil magangku dan betapa bahagianya kami saat semua pegawai bertepuk tangan melihat paparan presentasi kami.

Saat akan meninggalkan kantor, tiba-tiba salah seorang kepala bidang berbisik padaku bahwa Bapak KTU menyukai presentasiku dan memintaku menerapkan ilmuku di kantor ini. Wow, aku sangat bersyukur dan menganggap ini adalah sebuah peluang besar yang tak bisa kulewatkan. Hari terus berlalu, rasanya tak sabar ingin segera meraih gelar sarjana dan kembali beraktivitas di kantor tersebut. Hari yang dinanti datang juga, Juni 2015 aku berhasil meraih gelar sarjana dengan predikat Cum Laude, dan saat ijazah sudah di tanganku segera kubuat lamaran untuk menjadi tenaga lepas  di kantor tersebut. Ya, aku tahu bahwa kantor tersebut tidak menerima tenaga honorer namun aku teringat tawaran yang pernah disampaikan padaku sehingga aku membuat lamaran sebagai tenaga lepas. Aku segera memasukkan lamaranku dan betapa bersyukurnya saat aku mendapat telepon (Juli 2015) bahwa lamaranku diterima dan aku ditempatkan di Bidang Diklat yang dulu kutempati.

Di hari pertama berkantor, kepala bidang menjelaskan statusku bahwa aku bukan tenaga honorer yang digaji tiap bulan tetapi hanya tenaga lepas. Aku setuju dan tidak keberatan dengan status tersebut. Yang terpenting bagiku, aku dapat mengaplikasikan ilmuku dan tidak menganggur. Tanpa terasa sudah 6 bulan aku bekerja di kantor terebut, berbagai kegiatan telah kuikuti baik di kantor maupun yang diadakan diluar. Aku sangat bahagia, aku juga mendapat “fee” dari berbagai proyek yang kukerjakan dan terbilang sibuk jika ada kegiatan. Aku cukup kreatif membuat materi presentasi. Beberapa staf sering memintaku mengedit bahan presentasi mereka agar lebih menarik dan mudah dipahami.

Namun siapasangka, kebahagiaanku ternyata hanya sementara. Saat aku sedang mengerjakan sebuah materi pemberdayaan masyarakat, rencananya aku akan lembur mengerjakan materi pemberdayaan untuk kegiatan esok hari. Saat itu sekitar pukul 16.00, para pegawai bergegas pulang namun tiba-tiba salah seorang staf KTU memanggilku, katanya aku dipanggil oleh Bapak KTU di ruangan beliau (lantai 2). Saat aku berjalan menuju ruangan beliau, aku tidak merasa ada yang aneh dan percaya diri namun ternyata beliau sangat marah padaku. Saat melihatku memasuki pintu ruangannya, beliau memperlihatkan wajah yang masam. Akupun mengucapkan salam dan duduk di hadapannya. Beliau begitu marah dan mengatakan kepadaku bahwa keberadaaanku di kantor tersebut ilegal, tanpa surat resmi. Beliau sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan dan hanya berkata mulai besok jangan masuk kantor lagi!

Aku sangat syok dan setelah mengatakan hal itu beliau langsung menyuruhku meninggalkan ruangan. Akupun keluar dan tanpa kurasa air mataku menetes, aku benar-benar merasa terpuruk. Akupun memutuskan untuk ke toilet karena tidak bisa menahn tangisku. Aku terus menangis dan karena tidak ingin ada yang melihatku, aku bersembunyi di salah satu ruang kantor yang tidak terpakai di lantai 3. Aku terus menangis dan mengingat perkataan beliau. Aku terus menangis dan menunggu semua pegawai pulang, aku tidak khawatir akan terkunci karena kantor tersebut dijaga 24 jam oleh security dan aku memang sudah terbiasa pulang malam jika harus lembur menyelesaikan pekerjaan.

Sekitar pukul 19.00 aku keluar dari ruangan tersebut, aku berjalan menuju meja kerjaku di lantai 1 dan betapa kagetnya karena ternyata kepala bidangku masih ada. Ternyata beliau mencari dan menungguku. Aku tidak dapat menahan tangisku. Beliau meminta maaf dan berkata bahwa seharusnya Bapak KTU tidak langsung memanggilku tetapi beliaulah yang harus dipanggil.

Aku hanya diam tertunduk sambil menahan tangis. Beliau kembali menjelaskan bahwa beliau juga dipanggil KTU sesaat setelah aku meninggalkan ruangan Bapak KTU dan beliau telah menjelaskan bahwa keberadaanku dikantor tersebut sesuai aturan dan resmi melalui persuratan. Beliau menenangkanku dan mengatakan aku masih bisa berkantor besok dan aku harus masuk kantor besok karena akulah yang ditunjuk menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan pemberdayaan besok.

Mendengar penjelasan beliau, aku sangat terharu dan tetap tidak bisa menahan tangisku. Kurang lebih 15 menit, kepala bidang pamit pulang dan aku juga mulai bisa mengontrol tangisku. Aku juga memutuskan untuk pulang dan melanjutkan untuk menyelesaikan materi presentasi yang akan dibawakan kepala kantor dan materi yang akan kubawakan sendiri. Sesampai dirumah, aku sangat bersyukur karena orang tuaku sedang keluar sehingga mereka tidak melihatku. Di tengah kesedihanku, aku terus menyelesaikan kedua materi tersebut. Subuh hari kepala bidang menelponku untuk memastikan bahwa aku akan tetap ke kantor, aku mengiyakan dan akupun ke kantor dengan kondisi mata yang bengkak.

Beberapa staf kantor memperhatikanku dan nampaknya kejadian kemarin sudah tersebar. Aku merasa sangat tidak nyaman dan semakin merasa terpuruk namun banyak juga yang bersimpati padaku. Aku bahkan masih sempat menangis saat salah seorang staf memelukku dan mengatakan, “Sabar ya Dek!”.

Pesertapun berdatangan dan sebentar lagi acara akan dimulai dan betapa kagetnya aku saat mengetahui bahwa yang akan membuka acara adalah KTU berhubung kepala kantor masih dinas luar. Rasanya aku ingin bersembunyi, namun kepala kantor meyakinkanku untuk tetap berada di kursi bagian depan. Saat itu perasaanku sangat berkecamuk dan serasa ingin menangis lagi apalagi pandangan Bapak KTU sangat datar padaku walau aku tersenyum padanya. Kegiatan pun berlangsung, kepala KTU tampak menyukai bahan presentasi yang kubuat tetapi mungkin beliau tidak tahu bahwa akulah yang mengedit materi presentasinya.  Acara berjalan sukses, kepala dan staf di bidangku memuji materi yang kubawakan bahkan beberapa staf memelukku dengan hangat dan mengucapkan selamat.  Pesertapun demikian, banyak yang meminta nomor handphoneku. Aku bahagia dan begitu terpesona dengan pujian mereka. Aku sangat bersyukur dapat memberikan yang terbaik. Setelah kejadian tersebut, aku terus berkantor, berusaha melupakan segalanya dan selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap pekerjaaanku.

Kejadian ini mengajariku bahwa #MemesonaItu  saat mampu diam dan sabar dalam kemarahan orang lain dan membiarkan fakta berbicara dengan sendirinya, #MemesonaItu adalah saat mampu memberikan yang terbaik dalam kondisi terpuruk sekalipun dan #MemesonaItu saat mampu menjadikan kemarahan atasan sebagai motivasi untuk menunjukkan kualitas diri.

Beberapa bulan setelah kejadian tersebut  (Juni 2016) aku dinyatakan lulus dan mendapat beasiswa untuk program magister dan aku memilih melanjutkan pendidikanku. Akupun memutuskan untuk keluar dari kantor tersebut. Sebelum meninggalkan kantor, aku pamit kepada semua kepala bidang dan pegawai namun saat itu Bapak KTU sementara dinas luar. Ada rasa sedih dan juga haru saat akan melangkah meninggalkan kantor tersebut.

Hari baru kujalani dengan kembali  bertatus sebagai mahasiswa. Momen tak terduga kembali terjadi di bulan November 2016. Sebuah konferensi guru besar tingkat nasional digelar di kampusku dan aku ditunjuk sebagai salah satu panitia dan diamanhkan sebagai koordinator sesi acara. Betapa kagetnya aku saat harus menjemput salah seorang peserta konferensi dan ternyata beliau adalah Bapak KTU. Begitu melihat beliau, aku langsung menjabat tangan dan menundukkan kepalaku dan ini kali pertama beliau tersenyum padaku. Aku sangat bahagia dan tidak sedikitpun aku marah dan dendam padanya. Bagiku beliau seperti orang tuaku. Selama konferensi berlangsung aku terbilang sibuk dan cukup aktif memastikan semua kebutuhan peserta tersedia dan betapa terpesonanya aku karena setelah acara penutupan konferensi, Bapak KTU menghampiriku lalu mengatakan, “Jaga kesehatan ya!” Aku menimpali dengan senyuman sambil berkata, “Terima Kasih Pak.”dalam hati aku berpikir sepertinya Bapak KTU melihat keaktifanku. Sungguh aku sangat terpesona, #MemesonaItu adalah saat orang mampu menilai kualitas diri kita dengan melihat kerja dan karya kita, dan #MemesonaItu saat melihat orang yang awalnya tidak menyukai kita berbalik memberi motivasi kepada kita.

Bagiku, keterpurukan yang pernah  kualami tidak boleh menjadi momen yang akan semakin menjatuhkan dan meluruhkan semangat dan impianku. Sebaliknya, “keterpurukan” harus menjadi titik awal semangat baru untuk hidup yang lebih baik dan yakin bahwa dibalik keterpurukan ada pesona kesuksesan dan kebahagiaan yang menanti. Hingga kini aku masih sering diundang dalam berbagai kegiatan yang diadakan dikantor tersebut.  Banyak pelajaran yang telah kupetik selama bekerja disana dan semuanya akan kurangkai dalam kisah indah yang akan terus memotivasiku untuk menjadi pribadi yang unggul.