#MEMESONAITU BUKAN SEBERAPA MOLEKNYA KAMU, TAPI BAGAIMANA DUNIA BISA MENERIMA KEBERADAANMU

by SILVIA AYUDIA KEB / 10 April 2017
Miris, ketika di zaman yang serba gila ini masih banyak orang judgemental dan seolah menolak untuk mempertimbangan hal-hal baik dalam diri seseorang. Apa yang orang-orang katakan mengenai kondisi fisik seseorang pun nyaris menjadi kebiasaan dan makin membudaya.

Source: pexels.com


Padahal jika kita mau menoleh ke belakang, setiap insan yang diciptakan Tuhan itu sempurna dengan masing-masing kebaikan dalam dirinya. Sang Pencipta juga sudah sangat matang mempertimbangkan akan jadi apa orang ini, meski masih tergolong sebagai misteri. Lalu, mengapa kita sebagai manusia biasa repot-repot mengurusi dan menghakimi kehidupan seseorang? Kira-kira, faedahnya ada di sebelah mana?


Pada kenyatannya, cantik dan #MemesonaItu bukan melulu soal seberapa centimeter tinggi tubuh atau mulusnya wajah kita, melainkan ada hal lain yang lebih berharga. Menjadi pribadi yang murah senyum dan pandai bergaul bisa menjadi salah satu tolok ukur, bahwa percuma saja cantik dan molek, tapi attitude-nya nihil.
Bayangkan saja jika kriteria cantik dan #MemesonaItu masih saja 'dangka'l, bagaimana dengan mereka yang wajah dan penampilannya biasa saja? Bagaimana dengan mereka yang sudah terlanjur nyaman terhadap sepatu boots-nya dan enggan mengenakan high heels? Apakah ini sebuah dosa besar dan mereka berhak dikucilkan sebagai orang yang tidak cantik dan memesona?
Jika pikiran kita masih waras, menilai seseorang tidaklah cukup dalam satu kedipan. Sama dengan kita, orang lain pun pasti memiliki latar belakang dan zona nyamannya masing-masing. Jangan pernah memaksakan kehendak seperti anak kecil yang merengek minta dbelikan es krim, kalau kita mengaku sudah dewasa dan siap 'bertarung' dengan kekejaman dunia. 
Bahkan, mengenal seseorang bertahun-tahun pun belum menjadi jaminan bahwa kita tahu betul apa yang dia mau dan butuhkan. Butuh pengertian dan pemahaman ekstra ketika kita benar-benar ingin menjadi 'dewa' yang tahu segalanya, lalu berhak bersuara.

Kemudian pada faktanya, kita tidak akan pernah bisa menjadi 'dewa' bukan? Haha. Kita ini siapa? Hanya manusia biasa.


Hobi baru seperti berkomentar 'pedas' terhadap penampilan seseorang juga semakin mengudara. Bagi orang-orang kurang kerjaan ini, berkomentar adalah pekerjaan paruh waktu yang menguntungkan dan membawa banyak kesenangan. Lihat saja, keseharian mereka pasti dipenuhi dengan omongan-omongan kurang mengenakkan yang tentunya merugikan.

Apakah ini wajar, ketika kita sendiri hidup di negara demokratis dengan jutaan background penduduknya yang beragam? Sepertinya, sudah saatnya kita-kita ini butuh yang namanya kesadaran.


Sebenarnya, tidak sedikit orang yang masih bertanya-tanya apa makna dari cantik dan #MemesonaItu. Apakah dengan mengubah bentuk fisik dan mengoleksi barang-barang branded, lalu kita baru bisa diterima di kelompok tertentu? Atau, cukup dengan memiliki segudang prestasi namun minim dalam segi materi, kita sudah bisa menjadi bagian dari lingkungan yang bergengsi? Ah, rumit bukan?
Cantik dan #MemesonaItu dua sebutan yang berhak disandang siapa saja, asal mereka sadar apa dan bagaimana perannya di dunia. Entah dunia nyata atau maya, mereka yang merasa cantik dan memesona sudah seharusnya menjaga apa yang di punya, supaya tidak lekang termakan zaman dan hasutan-hasutan kurang berguna.

Sadari juga betapa pentingnya memaknai cantik dan #MemesonaItu sebagai bagian dari usaha, agar keberadaannya dapat diterima semesta.


Rasanya aneh dan sulit diterima, namun inilah kenyatannya. Penilaian mengenai cantik dan memesona yang sangat relatif tidak boleh menjadikan kita gelap mata dan bersikap seenaknya. Cukup sadari saja bahwa kita semua ini istimewa, seperti janji Tuhan yang tak pernah lenyap termakan masa.

...

Nah, daripada kamu cuma menggerutu karena membaca tulisan saya ini, yuk ikutan blog competition daripancarkanpesonamu.com ini! Tenang, kamu nggak perlu punya blog karena bisa langsung submit dimicrosite-nya.

Ini dia detilnya!