Memesona.

by Ixora Tri Devi / 10 April 2017

Ribuan mil dari tempat ibumu berpijak, dunia menahan napas saat memandangimu berkonsentrasi memusatkan tenaga untuk menetaskan nyawa dari dalam rahim menuju alam ini. 

Bidan, dokter, suster, kekasih, bahkan mungkin semut di atas sisa makananmu di dalam ruangan itu sepakat untuk tenggelam dalam indahnya alunan kehidupan yang mereka saksikan di depan mata bak gerak lambat. Memesona.

Lahirlah dia darimu. Seorang bayi mungil yang menjanjikan begitu banyak cita dan tawa. Bayi mungil yang lahir di penghujung musim panas yang pasti akan selalu memancarkan hangat, pikirmu.

Kelak kamu sadar bahwa dia juga membawa gelisah. Dinding, sarung bantal juga cicak dan nyamuk di kamarmu berdiskusi, betapa tidak peduli kau dengan perih demi melunasi naluri memberi kasih kepada bayi. 

Musim gugur datang bersama seorang tamu bernama Depresi. Saat suamimu pergi, ia mengendap masuk, mengetuki pintu kamarmu. Kau ajak dia ke dalam untuk menemanimu saat tidak ada siapa-siapa selain kamu dan bayi.

Tidak butuh waktu lama bagi Depresi untuk menjadi sahabatmu. Ketika kau sendiri, ia bersamamu menguras air mata sambil memerah tetes demi tetes nutrisi utama bagi bayimu. 

Ia memelukmu saat mendengar rintihanmu ketika efek obat pereda nyeri memusnah. Ia juga setia menunggu ketika kamu terbangun kesepuluh kalinya malam itu untuk menyusui bayimu. 

Tidak butuh waktu lama bagi Depresi untuk sepenuhnya merengutmu dari hari. Kau masuk ke dalam gelap tanpa mengingat hangatnya sinar matahari. Kau lupa pada canda dan tawa yang kelak pasti akan kau tuai bersama sang bayi. Kau peluk Depresi begitu erat karena kau terlalu takut akan tugas barumu sebagai ibu, terus meratapi.

Suatu malam saat fajar hampir menyingsing, darah memancar deras keluar dari dalam tubuh melewati jalur rahimmu. Tumpah ruah bak kendi yang terjatuh menghampas tanah di bawahnya, menghamburkan isinya. Kamu menggigil, mengelutupkan gigi menahan dingin saat menanti para petugas cepat tanggap menghampiri.

Dunia menahan napas, menunggu kepastian. Petugas memapahmu ke atas kendaraannya. Tidak pernah kau bayangkan, rasanya tidur di atas sana. Tidak pernah kau rasakan ketakutan yang begitu dalam ketika mendengar mereka berbincang bukan dengan bahasa ibumu. 

Riuh rendah suara kendaraan mengantarkanmu ke atas meja operasi. 

Beberapa saat sebelum kesadaranmu akan ditanggalkan kamu menemukan kekuatan yang sebelumnya hilang, tertutup punggung Depresi. Tidak. Kamu tidak ingin pergi, kamu tidak akan meninggalkan bayi yang kau antar ke dunia ini.

Kelopak matamu mulai terbuka bersama kesadaran yang kembali saat bius memudar. Terbatuk-batuk kau mencari bayi yang sedang tidur di rumah lain. Kamu menangis, merindu. Tidak pernah kau merasa gairah untuk hidup sebesar ini.

Dunia menahan napas, melihatmu keluar dari rumah pesakitan. Digiring dengan menggunakan kursi roda kamu terlihat berbeda dari malam sebelumnya. Senyummu merekah walau matamu masih berkaca-kaca.

Sampai di rumah kamu terus menciumi bayimu lalu mengusir tamu besar itu dari kamarmu. Sesekali tamu itu datang lagi, tapi kamu selalu ingat malam itu. Malam di mana kamu hampir lenyap di negara asing ini. 

Kamu tidak lagi diam di kamar merutuki nasib. Kamu berpakaian, memakai parfum, memoleskan riasan dan melangkahkan kaki ke luar rumah dengan bayi di gendongan. Bangku taman, tupai yang berlarian serta bunga kamelia yang bermekaran sepakat ketika memandangi senyum yang kembali bersemi di wajahmu. Inilah #memesonaitu.

Dunia menahan napas karena ia selalu terpesona melihat perempuan yang berani menghempaskan segala cemas. #Memesonaitu adalah perempuan yang melewati hari demi hari dengan penuh percaya diri, berdiri tegak dengan segala tanggung jawab di pundaknya, berdamai dengan perih dan depresi serta mau bermain dalam keseruan ruang kehidupan.