#MemesonaItu Berani Hidup Mandiri

by Mei Lianti Arista / 10 April 2017

Manusia merupakan makhluk sosial dimana dalam kehidupannya dituntut untuk selalu hidup bermasyarakat. Hidup bermasyarakat memiliki keterkaitan akan hidup secara bergantungan dengan orang lain. Harus disadari bahwa tak selamanya orang lain dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan diri kita, karena pada hakikatnya orang lain pun memiliki kebutuhan dan keinginan pada dirinya sendiri. Hidup bersosial bukan berarti semua tentang kehidupan akan diri sendiri wajib diketahui oleh orang lain.


Dalam lingkup kecil kehidupan bersosial ada di dalam keluarga. Sejak lahir ke dunia, seseorang pasti dihadapkan dengan orang lain. Orang lain itu adalah orang tua kita. Orang tua kita mengasuh dan mendidik kita agar kita dapat tumbuh menjadi manusia yang “sempurna”. Dalam hal ini sempurna dapat diartikan sebagai kondisi kita yang tadinya belum bisa berjalan sendiri kemudian dilatih untuk bisa berjalan, dilatih untuk berbicara yang benar, dilatih untuk makan dan minum sendiri, hingga pada akhirnya kita dapat membedakan hal yang baik dan buruk dan berfikir secara luas.


Sejak saya dilahirkan oleh Mama saya, kurang lebih 25 tahun yang lalu, saya merasa bahwa diri saya adalah orang yang paling beruntung. Kehidupan saya ke depannya amat sangat terjamin dan menyenangkan. Saat itu saya tinggal serumah dengan Mama, Papa, dan Nenek saya dalam rumah sederhana tapi nyaman. Saat itu segala keinginan saya selalu dipenuhi. Saya disekolahkan di TK dan SD favorit yang ada di sekitar rumah saya. Dan ketika berlanjut ke SMP dan SMA saya dibebaskan untuk memilih sendiri sekolah favorit yang saya mau. Tak hanya itu, kehidupan saya saat itu yang bisa dibilang serba berkecukupan membuat diri saya terbentuk menjadi seseorang yang selalu bergantung dengan orang tua alias “manja”. Hingga pada saat orang tua saya menyuruh saya untuk melanjutkan study ke luar kota membuat saya untuk berfikir panjang dan merengek agar mereka tidak melakukan hal itu ke saya.


Percaya atau tidak percaya, seiring berjalannya waktu semua keadaan pun menjadi berbalik. Pada kenyataannya, saya yang awalnya tidak tertarik sama sekali untuk melanjutkan study ke luar kota tiba-tiba menjadi tertarik dan orang tua saya khsusunya Mama saya yang selalu menyuruh dan memaksa saya untuk melanjutkan study ke luar kota tiba-tiba menjadi ragu.


Suatu ketika saat saya masih duduk di bangku SMA, tiba-tiba hati saya pun tergerak untuk mendaftarkan diri melanjutkan study ke Institut Pertanian Bogor dan mengambil jurusan Agronomi dan Hortikultura a.k.a Pertanian. Psst..nekat banget ini padahal saya belum ada diskusi dengan orang tua saya. Dan pada saat saya selesai menyelesaikan segala administrasi, saya langsung memberitahukan kepada Mama saya tentang hal ini. Awalnya yang saya kira Mama saya akan senang mendengar hal ini namun kenyataannya Mama saya menjadi marah. Hmm kalo Papa saya sih santai saja karena Papa selalu mendukung apa yang saya lakukan dengan catatan yang saya lakukan bernilai positif dan tidak merugikan diri saya. Awalnya ragu dan tidak yakin pada hal ini, karena Mama saya tidak mendukung apa yang saya lakukan dan tentunya segala sesuatu yang baik itu kan atas dasar ridho dan doa dari orang tua. Akan tetapi saya selalu berdoa dan mencoba optimis. Daaaan..jreeng benar saja keoptimisan saya membuahkan hasil. Akhirnya saya lolos untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri yang saya daftarkan alias Institut Pertanian Bogor. Alhamdulillaah sujud syukurr pada saat itu..


Saat itu adalah kali pertama saya harus hidup jauh dari keluarga. Perasaan sedih pasti ada tetapi saya selalu meyakinkan pada diri saya bahwa keputusan yang saya ambil akan berpengaruh pada masa depan saya. Hingga menjelang hari keberangkatan ke Bogor, saya selalu meyakinkan pada orang tua saya khususnya Mama saya bahwa saya mampu untuk hidup mandiri meski saya tidak memiliki sanak saudara di sekitar Jabodetabek. Keluarga saya pun akhirnya mengantarkan saya untuk berangkat menuju Bogor. Dan setelah keluarga saya selesai dengan segala urusan saya di Bogor, mereka pun pulang meninggalkan saya. Huaa..air mata saya dan keluarga pun tidak terbendung. Untungnya saya tidak sendiri saat itu, saya ditemani Nindya, teman satu SMA saya yang lolos di kampus yang sama.


Memasuki bulan pertama dan kedua menjadi bulan yang amat suram bagi saya. Sepanjang hari saya selalu kangen rumah, keluarga, dan ingin pulang. Sampai setiap malam saya ditelepon oleh Mama saya dan saya selalu menangis dan bilang ingin pulaaaang. Psstt..maklum anaknya cengeng. 


Untung dan untung lagi, saya mendapatkan banyak teman bahkan sudah saya anggap menjadi sahabat dan saudara bagi diri saya saat ini. Mereka yang selalu peduli dan menghibur saya dikala saya sedih dan ingin pulang. Hingga suatu ketika perasaan ingin pulang pun seketika berubah menjadi tidak ingin pulang. Horeee betaaah di Bogor..lol


Banyak sekali suka dan duka yang saya alami selama di Bogor. Sukanya adalah saya memiliki banyak teman yang super super baik, berbagi dan bertukar cerita dengan teman-teman dari beberapa daerah yang berbeda, mendaptkan ilmu dan pelajaran baru yang sebelumnya belum pernah saya dapatkan, makin ngerti hidup, makin ngerti tentang tanggung jawab dan hidup sabar, melatih mental saya menjadi kuat, belajar memanage waktu dengan baik dan sebagainya.


Dukanya adalah ketika saya sakit dan pernah mengalami kehilangan handphone saat di Kampus. Saya dituntut untuk megurusi segala sesuatunya sendiri. Tak hanya itu, percaya atau tidak percaya bahkan saya pernah merasakan keterpurukan dengan keuangan saya. Jatah saya per bulan yang dikirim oleh Mama saya super pas-pasan, sedangkan banyak keperluan tak terduga yang saya alami di Bogor. Hal itu membuat saya harus berputar otak agar saya bisa tetap bertahan hidup di Bogor. Keputusan awal saya yang ingin sekali hidup secara mandiri inilah yang pada akhirnya menuntut saya untuk bisa mencari solusi dalam diri saya ketika saya sedang ada dalam masalah. Saya tidak mau meningkutsertakan masalah yang saya alami ketika itu pada Mama saya, karena saya tidak ingin Mama saya khawatir dengan keadaan dan kehidupan saya di Bogor. Akhirnya saya pun berusaha untuk mendaftarkan beasiswa  dan mendaftarkan menjadi asisten praktikum beberapa mata kuliah yang ada di kampus saya. Dan keadaan pun memihak kepada saya, saya mendaptkan beasiswa yang saya daftarkan dan saya diterima menjadi asisten praktikum. Alhamdulillah lagiii...


Buat saya pribadi perjalanan hidup yang #MemesonaItu adalah berani hidup mandiri. Perjalanan hidup yang tidak mudah untuk saya jalani selama kurang lebih 4,5 tahun. Banyak hal-hal yang dikorbankan dan diprioritaskan serta terjadi di luar dugaan. Pengalaman hidup bagi saya yang sungguh luar biasa. Saya yakin sekali tidak semua orang mampu menjalani hidup mandiri jauh dari keluarga di usia dini, usia yang masih terbilang muda menuju usia dewasa, usia dimana seseorang masih memiliki karakter labil, usia yang harusnya seseorang masih diperhatikan oleh orang tua dengan jarak dekat akan tetapi mereka dituntut untuk mampu memanage kehidupannya sendiri dan dituntut untuk bisa bertanggung jawab akan dirinya sendiri. Hal-hal itulah yang akhirnya merubah hidup saya menjadi sedikit lebih baik, menjadi lebih mengerti tentang tanggung jawab akan diri sendiri maupun kepada orang lain, menjadi lebih menghargai sesama, dan menjadi seseorang yang lebih dewasa.


So...jangan takut untuk hidup mandiri sejak dini. Karena dengan kamandirian, banyak banget segudang pelajaran hidup yang akan kalian dapatkan dan membuat kalian bebas mengekspresikan apa yang ingin kalian lakukan. Tentunya untuk hal-hal yang positif ya demi masa depan kalian yang lebih baik dan cemerlang. Awalnya memang terasa sangat berat sekali, akan tetapi percayalah bahwa kalian akan merasakan hasilnya yang sungguh luar biasa.


Berani hidup mandiri??? Hmmm....siapa takut :)