#MemesonaItu yang membaluri hati dengan syukur

by Robiyatul Adawiyah / 10 April 2017

#MemesonaItu yang membaluri hati dengan syukur

Membidik pesona di diri mereka.

Pada anak yang baru lahir. Di kepalanya ada benjolan besar. Setelah dioperasi bukannya mengecil, malah mengeluarkan cairan berbau. Anak itu tidak rewel seolah mengerti akan gundah ayah ibunya. Jarum infus dipasang lepas pada tangan yang tinggal tulang. Anak sekecil itu sudah tak berbilang lagi obat-obatan yang masuk kedalam tubuhnya, saking banyaknya. Mencukupi kebutuhan sehari-hari saja terkadang gali lubang tutup lubang. Ditambah dengan pengobatan sang anak. Tegar. Kuat. Kulihat ada ketenangan di wajah mereka. 

Pesona kutemukan. Pada seorang ibu yang memiliki empat anak balita. Suami tiada. Harus merelakan anak-anaknya ikut berjuang menghadapi kerasnya hidup.  Pagi sebelum matahari menampakkan diri, bergegaslah ia mencari nafkah. Anak-anak itu seolah mngerti keadaan ibunya, tumbuh dengan kemandirian.  Tidak ada panggilan manja seorang ibu membangunkan mereka, memasakkan sarapan, menemani mereka bermain, apalagi mendekap mereka dengan hangat.

Kubidik pesona pada seorang istri yang tiga kali sudah dikuret. Janin tidak bertahan pada rahimnya. Suami, orangtua, mertua, saudara-saudaranya sudah lama mendambakannya hamil. Umur sudah 37 tahun. Belum cukup. Omongan tetangga yang berjenis-jenis macamnya ia terima. Mengatakan itu terjadi karena ia terlambat menikah, karena terlalu mudah lelah, karena mungkin ridho orangtua belum didapat, bisa jadi ada jin yang mengganggu, bisa jadi karena...karena...

Membuatku terpesona, ia tetap terlihat bahagia, kudapati wajahnya selalu cerah. Sering ke panti yatim membagi bahagia dengan mereka.

Kuterpesona pada umak. Yang melahirkan kami, delapan anaknya. Prinsipnya yang sederhana. Seperti di kebanyakan orang Batak, padiar marutang-utang, asal tarpasikola au anakki. Kurang lebih maksudnya, biarlah berhutang kesana-kemari, asal bisa menyekolahkan anak.  Keyakinannya, jika berilmu pasti hidup lebih bahagia. Benar saja. Bahagianya ia korbankan demi kedelapan anaknya. Tangan dan kakinya jadi kasar, kuku menghitam, ia terima omongan yang menyebut sombong karena jarang berkumpul pada hajatan saudara, seperti tak butuh saja pada saudara, kata mereka. Sebabnya tidak lain karena ibu harus berjualan. Dia tunjukkan keyakinannya di hadapan orang-orang yang menagih hutang bahwa dia bisa melunasi dalam waktu dekat. Gali lubang tutup lubang. Bolehlah kusebut ia penopang nafkah dikala ayah stroke. Dan ia benar-benar menuntaskan sekolah kami. Dari delapan anaknya, lima sudah mendapat gelar S1, satu orang meninggal ketika berusia satu tahun, dua orang lagi masih proses pendidikan.

Kuterpesona juga pada seorang suami istri yang dikabari anaknya ada kelainan kromosom, berakibat anak yang dilahirkan down syndrom. Pada trimester kedua dokter kandungan mengabari mereka setelah membaca hasil tes lab. Kulihat ada cucuran air mata di pipi sang istri. Belum yakin dengan apa yang didengarnya. Berbagai kecamuk dalam pikiran. Sabarkah mereka membesarkan anak itu kelak? Sabarkah mereka akan tatapan aneh orang-orang yang melihat kelainan anaknya? Olokan anak-anak yang  menjadikan bahan tertawaan karena belum mengerti. Kulihat suami menggenggam tangan sang istri sambil berkata, “Jangan terbersit untuk menggugurkannya. Ini anugerah terindah yang diberikan Sang Maha Pencipta. Tidak banyak orangtua yang diberikan anugerah seperti ini. Pertanda kita dipercaya untuk memeliharanya. Mulai saat ini kita persiapkan diri kita untuk membersamai calon bayi kita agar kelak ia menjadi hebat”

#MemesonaItu bagi saya ketika kita mampu membaluri hati dengan syukur. Setiap orang pasti melewati masa-masa tersulit dalam hidupnya. Pasti. #MemesonaItu akan muncul disaat kita mampu bersyukur atas setiap keadaan yang dihadapi. Sekalipun menyakitkan, melelahkan, menjengkelkan. Jika bersyukur, maka sabar, tenang, dan solusi akan datang dengan sendirinya. Tidak mudah memang. Sedikit saja, jika kita mau bertahan untuk tidak menuruti ego, maka syukur akan datang membaluri hati. Tak ada lagi hati yang sakit, lelah, jengkel. Karena syukur sudah memenuhi ruang hati kita

#MemesonaItu bagi saya ketika mampu membaluri hati dengan syukur. Akan sebanding pancaran pesona dengan syukur yang diusahakan. Semakin berat ujian kehidupan yang diterima, semakin besar syukur yang harus diupayakan. Dengan sendirinya pesona itu akan terpancar.  Makin bersinar, makin kemilau.

Bidiklah pesona pada orang-orang sekitarmu. Maka syukurmu akan bertambah. Dan pesonamu akan terpancar...