Memesona Itu Mengapresiasi Keunikan Diri Sendiri

by Ruth Ninajanty / 09 April 2017

Ternyata jaman sekarang, cantik saja tidak laku. Kita juga harus memesona agar bisa dilirik, stand out dari ribuan orang yang ada di sekitar kita. Memesona itu bagaimana maksudnya? Kalau ditanya begitu, saya jadi bingung juga. Memesona itu bisa membuat orang (saya) berhenti sejenak, tertegun, menghargai apa yang dilihat atau didengarnya, dan tersenyum kembali ketika mengingatnya.


Menjadi diri sendiri bisa berarti mendadak menemani Dudu cosplay (abaikan zombienya)

Kemarin, saya dan Dudu melihat pelangi muncul dari atas billboard di tengah kemacetan. Saking terpesonanya kita sibuk foto-foto lalu diklakson orang karena tidak kunjung maju padahal di depan sudah kosong. Ups. Sebenarnya kalau dipikir-pikir, memesona itu juga bisa hadir dalam bentuk benda atau pemandangan. Yang penting adalah hal-hal yang stand out dari kerumunan. Dan saya sadar bahwa setiap orang memiliki pandangan yang berbeda tentang apa yang memesona bagi mereka. Kasus pelangi di atas, kebetulan saja saya dan Dudu memiliki pendapat yang sama. Seperti ketika kita nonton acara pemilihan putri dan miss kecantikan yang sering ditayangkan di TV itu, jagoan kita seringkali berbeda dengan orang lain. Bahkan dengan jagoan yang ada di kepala juri. Yang memesona kita belum tentu memesona juri dan pentonton di studio. Jadi memesona itu sebenarnya subjektif juga ya. 

Contohnya? Astaga, apa ya? 

Memesona itu ketika Hua Ce Lei melakukan handstand supaya air matanya tidak keluar pada salah satu adegan serial Taiwan legendaris, Meteor Garden. Yang menyaksikan itu pasti terhenyak sendiri (what?) namun lama-lama jadi masuk akal dan berpikir bahwa adegan tersebut keren sekali. Sekarang, setelah F4 sudah tergantikan oleh adik-adik unyu dari Korea pun, ketika adegan tersebut diungkit lagi, saya masih senyam-senyum sendiri mengingat Hua Ce Lei. Banyak orang boleh suka Tao Ming Se karena (katanya) dia ganteng, tapi saya terpesona oleh Hua Ce Lei. Ada yang senasib?

Memesona itu sosok Ibu Susi yang sedang merokok sambil minum kopi di atas papan selancar. Pertama lihat di social media rasanya pengen tepuk tangan. Ibu mentri yang satu ini memang tidak cantik seperti Dian Sastro tapi tetap mempesona dengan caranya sendiri. Namanya juga Mentri Kelautan dan Perikanan di negara kepulauan, wajar dong kalau bisa berselancar. Saya menghargai kejujuran si ibu yang kalau tertawa sering lepas, tatonya banyak dan tidak sibuk sok-sok jaga image manis. Ada yang ngefans sama ibu Susi juga?


Yang begini keren kan? Haha. (photo credit: Twitter Ibu Susi)

Memesona itu Beast, yang terlihat intelek banget dengan koleksi bukunya. Pantas saja Gaston kalah, karena selain orangnya kasar, tokoh antagonis Beauty and The Beast ini juga hanya mengandalkan ketampanan wajahnya saja. Kan di awal postingan sudah dibilang kalau hanya cakep tidak akan laku. Meskipun kelakuan si Beast juga bikin kesal karena tipikal anak manja yang bikin gemas, tapi saya menghargai usaha dia untuk berubah jadi lebih baik ketika ada kesempatan dan berani

Memesona itu Kapten Kwon di film Korea berjudul Fabricated City. Atau Park Bo Gum di video Boombastic yang buat promo serial Moonlight. Atau si Goblin yang dipuja-puja sejuta umat (terutama para ibu-ibu). Itu buat saya. Kalau buat Dudu sih, dibandingkan Kapten Kwon yang diperankan Ji Chang Wook itu, lebih keren yang memerankan temannya si hacker perempuan. Ada yang punya tokoh drakor yang memesona? Mungkin bisa sharing sama saya yang sedang senang menonton drakor ini.


Yang atas atau yang bawah? Beda pesonanya. Photo: Asianwiki

Tapi jika dikembalikan ke diri sendiri, apa yang memesona dari saya, jawabannya berupa tanda tanya. Karena saya percaya yang bisa jawab yang orang lain. Yang bisa kita lakukan adalah berusaha untuk tampil lebih memesona. Caranya? Well, untuk yang ini saya harus meminjam kalimat yang pernah diutarakan oleh dua perempuan penulis, yang jadi idola saya.


Travel Blogger Marischka Prudence dalam satu workshop menulis yang pernah saya hadiri memberikan nasihat agar sebagai blogger, kita tidak mengkhawatirkan tulisan yang jelek, kalah kece dengan blog sebelah karena selalu ada audience untuk setiap jenis tulisan. Lalu Jenny Jusuf, penulis buku dan skenario film, di talkshow tadi pagi menuturkan bahwa jadi penulis itu jangan sampai terbeban deadline dan ambisi. “Don’t be too hard on yourself,” ungkapnya. 

Kedua nasihat itu sebenarnya memiliki satu inti yang menurut saya merupakan kunci untuk tampil lebih memesona: menjadi diri sendiri. Kita melakukan apa yang kita suka, sebaik yang kita bisa dan pesona itu akan timbul dengan sendirinya kepada orang-orang yang memang menjadi “audience” kita. Lalu kalaupun kita punya ambisi untuk memesona lebih banyak orang, jangan sampai ambisi itu menutupi jati diri dan keunikan kita. Setiap orang itu unik dan keunikan itulah yang akan menjadi pesona kita. Sama seperti foto di awal blogpost ini, kalau memang suka ngikutin anak cosplay The Walking Dead begitu (meskipun tanggung), kenapa harus jaim haha.

Terus mana foto yang memancarkan pesona saya? Ya tidak ada. Saya kan writer ya, jadi seharusnya memesona itu dilakukan lewat tulisan ini haha. Semoga saya tidak gagal memesona pembaca. Atau, karena harus dilakukan orang lain, coba saya tanya ke anaknya.

Mama: Du, Memesona itu apa?
Dudu: Memesona itu saat aku suka orang. Eh tapi itu suka ya? 
Mama: Biasanya yang membuat sesuatu jadi memesona itu apa?
Dudu: Bagus, cantik? Watak pribadinya baik? Tapi kalau film bagaimana ya? 
Mama: Seperti Sing yang kamu tonton berulang-ulang? Itu kenapa?
Dudu: Ah, entahlah, Mama saja yang jelaskan. Aku bingung.
Ternyata kadang-kadang, memesona itu tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata juga.