Generasi Memesona

by Dwi Kuspujianti / 09 April 2017


Bagi sebagian orang menjadi memesona itu harus dilakukan dengan berbagai usaha. Sebagian yang lain menganggap memesona itu terlahir dengan sendirinya.

 

Menurut saya, #MemesonaItu ketika seseorang mampu menembus jantung hati setiap insan dengan kehadirannya. Caranya bicara mampu menyentuh hati setiap orang yang mendengarnya. Pandangannya selalu terjaga pada hal-hal beraroma kebaikan. Mampu menjadi pendengar yang baik tanpa memaksakan pendapat pribadi. Pada setiap langkahnya senantiasa menuju ke arah yang membawa manfaat dan kesejukan bagi sesama. Menjaga diri dengan menghargai dan mensyukuri setiap apa yang ada pada dirinya. Harmoni antara watak dan fisik yang selaras dengan lingkungan itulah memesona yang sesungguhnya.

 

Lalu bagaimana dengan memesona yang cenderung identik dengan kecantikan fisik saja? Menurut saya pribadi, menjadi memesona tidak harus cantik, asalkan bersih. Menjaga kebersihan fisik dan menjaga kebersihan hati. Kadangkala ada orang yang hanya dengan diamnya pun mampu menyiratkan kesan yang dalam bagi orang lain. Adakalanya orang yang hanya dengan berada disekitarnya saja menyisakan pengaruh yang besar bagi kita. Ada pula yang hanya dengan melihatnya saja akan membuat batin kita bercahaya. Bukankah memesona yang seperti itu datangnya tidak hanya dari fisik melainkan juga dari hati yang bersih?

 

Menjadi memesona itu juga tidak harus selalu melakukan segala sesuatunya dengan sempurna. Karena kita tidak akan pernah mampu mencapai kesempurnaan tersebut. Mencoba menjadi sempurna di mata orang lain itu wajar. Setidaknya hal itu akan membawa kita mendekati hal tersebut. Tapi, melakukan kesalahan itu biasa, karena pada hakikatnya manusia itu tempatnya salah. Hanya saja, dengan meminta maaf dan memaafkanlah yang membuat kita mulia. 

 

Memesona itu harus diiringi dengan pembaruan setiap saat. Senantiasa memulai hari dengan optimisme serta menancapkan dalam-dalam di hati dan pikiran kita bahwa setiap hari yang kita jalani harus lebih baik dari kemarin. Tanamkan dalam diri bahwa melakukan hal yang sama setiap harinya saja sudah mebuat kita merugi, apalagi lebih buruk. Jadi, sebisa mungkin untuk tidak melewatkan setiap kesempatan baik yang hadir. Mencari dan merakit satu-persatu apa pun kesempatan yang ada agar dapat menjadi kebaikan yang utuh.

 

Pesona yang melekat pada diri kita mungkin berbeda-beda. Tapi yang pasti memesona itu ketika kita mampu mengambil dan menempatkan diri kita di satu sudut bagian hati orang lain. Seakan-akan kita tersenyum di bola mata mereka. Menjadi cemerlang dan membiarkan seolah bumi hanya berputar pada diri kita. Walaupun, kita mungkin bukan segalanya bagi orang lain. Tapi segala yang kita lakukan senantiasa berhubungan dengan orang lain. Tidak bisa tidak. Sehingga, menjadi memesona itu penting. Setiap orang yang kita sentuh hatinya, sedikit atau banyak akan membantu kehidupan kita dan membantu kehidupan mereka. Namun, bukan berarti kita harus menjadi seperti yang orang lain mau. Jadilah diri sendiri, yang menghargai diri sendiri, menjaga harga diri dan menghargai orang lain.

 

Siapkan diri kita menjadi generasi memesona yang sesungguhnya. Saya yakin setiap dari kita bisa menjadi memesona. Sebab, kesempatan baik untuk bermetamorfosa menjadi memesona ada untuk siapa saja. Setiap orang berhak dan memiliki peluang yang sama untuk menjadi memesona. Generasi memesona yang mampu membuat setiap detik yang dilaluinya menjadi lebih berarti.

 

Bagaimana dengan saya? Saya belum menjadi sememesona itu. Entah dengan berjalan ataupun berlari, satu hal yang pasti saya sedang menuju kesana. Saya akan menjadi generasi memesona.