Memesona itu tahu prioritas diri

by Ratna Dwi Kumala Sari / 09 April 2017

Di era media social sekarang ini visualisasi diri kadang lebih utama dari aktualisasi diri. karena lebih utama visual seolah jadi kebutuhan urgent demi tampil memesona baik di media social atau yang orang lain pikirkan.

Memesona sesuai dikte mereka dengan tampil yang bukan apa adanya dan terkesan tak mau kalah dengan selebgram. Cape ? pastinya. Itu makanya saya nggak berniat mencoba.

Mencoba menjalani hidup yang dibuat-buat dan menjadi diri yang palsu. Yang imitasi dan tak menunjukkan authentic dirinya. 

Bukan saja butuh energy, tapi butuh budget yang tak sedikit untuk jadi yang paling artistic secara visual di media social. Panen pujian pastinya, namun jelas jika anggaran tak sesuai akan besar pasak daripada tiang.

Akan terengah-engah kita mengkondisikannya. Bisa-bisa gali lubang tutup lubang untuk menghidupkan yang visual sesuai dikte lingkungan.

Sulit memang untuk menjadi diri yang asli ditengah lingkungan yang selalu menuntut seragam, untuk lebih banyak meluangkan waktu demi kesenangan daripada meningkatkan kualitas hidup

Namun management diri selalu menjadi skala prioritas saya, bagaimana mengendalikan kebutuhan daripada keinginan. Mengendalikan apa yang penting dan tak penting. Kapan waktu untuk keluarga kapan waktu untuk pribadi.

Hidup tak melulu mengambil, hidup bagi saya adalah proses memberi, bekerja, menjadi berarti semaksimal mungkin. Untuk Allah SWT, keluarga dan diri sendiri. Dari mengerjakan hal sederhana seperti membimbing anak-anak dan menjadi istri yang baik, hingga berkreativitas untuk aktualisasi diri.

Dalam hidup ada waktu yang tak mungkin menunggu kita memboroskannya. Ada waktu yang tak mengenal hari kemarin. Waktu yang terus berputar dan siap menghunus kita jika tak kita pergunakan dengan sebaik-baiknya. Dan dalam waktu hanya ada hari ini, bukan hari esok yang tak pasti.

Ketidak pastian membuat saya sadar untuk mampu memanagement diri, mengendalikan diri untuk kembali pada akal sehat. Untuk tak menyia-nyiakan waktu hanya untuk visualisasi diri. 

#Memesonaitu tak harus di dedikasikan untuk orang lain. memesona harusnya di dedikasikan untuk diri sendiri. memesona untuk diri sendiri bagi saya adalah bentuk penghormatan pada diri sendiri. bentuk menghargai apa yang telah diberikan Allah SWT pada saya. panca indera yang lengkap, akal dan nurani untuk berpikir 

“Mau diapakan diri yang sempurna ini ?, mau hanya jadi penonton ?, penghibur ?, atau pelaku hidup sesungguhnya yang tahu arah hidupnya ?”

Pelaku hidup bukan berarti selalu serius menjalni hidup. Sekali-kali bermain boleh, namun lebih banyak bekerja akan lebih membahagiakan. Terutama pekerjaan mengurus keluarga yang akan memanen hasil kerekatan antar anggota keluarga.


Memasak untuk suami dan anak, mengurus keperluan mereka, membantu si kecil mengerjakan PR. Menjadi sandaran ketika mereka letih diluar dan menghibur mereka saat mereka butuh di hibur.

Dan diantara kesibukan mengurus keluarga, kerja menulis menjadi pengisi waktu senggang sekaligus ruang mengaktualisasi diri. Dimana saat menulis saya menemukan ruang untuk belajar, ruang untuk menuangkan segala kegelisahan hidup, ruang untuk menerjemahkan apa yang ditangkap indera, dimunculkan imajinasi, diracik akal dan diterjemahkan dalam bentuk fiksi atau artikel yang membawa saya pada kepuasan diri.

Pada akhirnya usaha untuk terus memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang lebih baik merupakan kunci untuk tampil memesona yang tak dibuat-buat. Memesona dari dalam dimana orang mengenalmu bukan karena apa yang kamu tampilkan, tapi kualitas dirimu.


Pesona yang seperti ini membuat kita dicintai dengan tulus oleh orang-orang yang mengenal kita.