#Memesonaitu Apa Adanya

by Hasna Mawaddah / 09 April 2017

             Pernah suatu kali seorang pria mengatakan ini padaku.

          

          "Itu yang membuat kamu memesona di mataku. Kamu itu aneh, invisible, dan bego. Jarang ada perempuan kayak kamu. Kamu benar-benar menarik,"

        

           Ingin rasanya aku memeluknya erat, tapi sayang, hubungan kami berakhir sebelum dimulai. Ugh, lupakan.


            Aku berterima kasih, sangat berterima kasih padanya karena ucapannya aku memiliki pertanyaan yang jarang kutanyakan pada diriku sendiri.


            Sebelum kuberitahu apa pertanyaanku, biar kujelaskan sedikit seperti apa sifat dan rupa diriku. Aku bukanlah perempuan bertubuh mungil idaman para pria. Tubuhku besar dan berat badanku sedikit berlebih. Sifatku tak anggun dan lembut seperti perempuan pada umumnya. Cenderung bertindak liar dan kasar. Bahkan, aku jarang berbicara dengan bahasa yang sopan. Jadi, kurasa aku sama sekali tidak memikat di mata orang lain. Sebagian besar mengatakan, bahwa diriku terlalu menyebalkan untuk menjadi seorang perempuan.


            Alasan yang cukup untuk membuatku minder dan tak percaya diri.


       Sebenarnya, pertanyaan ini sering kutanyakan pada diriku sendiri, namun aku tak terlalu memikirkannya dan sekilas aku hanya meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tidak menarik. Akan tetapi, perkataan pria itu membuatku berpikir kembali dan aku pun mengajukan pertanyaan ini  pada diriku.


                                                Apa aku menarik di mata orang lain?


          Apapun itu, mau memesona, menarik, atau mengagumkan, bagiku sama saja. Aku tak pernah membayangkan akan ada seorang pria yang mengatakan itu padaku. Jujur, walaupun keluargaku mengatakan bahwa aku ini memiliki sifat yang unik, aku yakin mereka hanya menghiburku.


               Aku pun bertanya pada kekasihku via Line lalu dia menjawab.


            “Kamu itu beda. Maksudku, aku baru pertama kali bertemu dengan perempuan seperti dirimu. Tak pernah ragu untuk bertanya to the point dan kamu jarang mempermasalahkan sesuatu yang sepele—kecuali kalau kamu PMS. Kamu itu orangnya seperti pinnata, selalu membuatku penasaran seperti apa kamu yang sebenarnya. Walaupun kamu menyebalkan dan sering membuatku pusing, aku tetap sayang kamu,”


                Tolong abaikan kalimat terakhir.

    

            Harus kuakui, secara tak sadar aku menarik perhatian beberapa orang dan akhirnya mereka berusaha mendekatiku. Sayangnya, tidak sepenuhnya usaha mereka berhasil karena aku tipe orang yang sangat pemilih dalam urusan teman dekat.


            Kukatakan di awal bahwa diriku terlalu menyebalkan untuk menjadi seorang perempuan karena aku sering menggunakan logikaku ketimbang perasaan. Terkadang, ucapanku yang kuanggap baik-baik saja ternyata menyakiti beberapa pihak. Berbeda dengan mereka, mereka yang berusaha mendekatiku seakan-akan mengabaikan hal itu dan tetap bertahan berteman denganku.


            “Kamu orangnya memang kasar dan kalau sekalinya berbicara, tak pernah disaring atau dipikirkan matang-matang. Tapi itu yang menjadi daya tarik kamu karena orang-orang tahu, sekalinya kamu berbicara seperti itu, itu adalah suara hati kamu,”


            Kekasihku memang orang yang terlalu jujur. Aku jadi makin sayang padanya.


            Menurut fakta-fakta dan jawaban-jawaban yang aku kumpulkan dari beberapa pihak, aku bisa menyimpulkan bahwa aku memiliki pesona yang jarang dimiliki oleh perempuan umumnya. Aku tidak terlalu percaya diri untuk mengatakan hal seperti ini, tapi inilah adanya.


            Aku pernah berusaha menjadi seperti orang lain, tapi itulah penyesalan terbesarku. Aku seperti melakukan hal bodoh yang seharusnya tidak dilakukan. Aku tidak menemukan diriku yang sesungguhnya. Bahkan, aku merasa bahwa waktu itu aku hidup dalam kepalsuan dan hidupku diatur oleh skenario-skenario yang membuatku tersiksa. Aku merasa terpuruk dan aku memutuskan untuk hidup seperti apa yang aku mau tanpa melanggar nilai dan norma yang ada.


            Keputusanku membuahkan hasil yang tak pernah aku sadari sebelumnya. Aku menjadi diriku seutuhnya dan menarik perhatian orang-orang agar mereka mau mendekatiku. Mereka tak pernah mempermasalahkan bagaimana sifat dan rupaku karena mereka tahu bahwa inilah diriku.


            Tidak sulit untuk memiliki pesona yang unik, menjadi diri sendiri sudahlah cukup dan tak malu untuk mengakui hal itu di depan umum. Kapan-kapan, kalau kalian berkenalan dan cukup mengenal diriku, kalian akan mengatakan bahwa aku termasuk perempuan yang tak punya malu di muka umum.


            Pelajaran hidup tak selamanya berawal dari kejadian sulit dan menyiksa. Hal kecil yang membuat kita berbeda pun bisa kita jadikan sebagai pelajaran hidup yang berarti. Jangan pernah takut untuk melawan derasnya arus air, sekali kalian melawan, kalian akan menemukan sesuatu yang berbeda.


            Setidaknya itulah yang aku alami saat ini. Mungkin tidak terlalu penting, tapi langkah-langkah kecil inilah yang akan menentukan kita di masa depan. Sekarang aku pun yakin, walaupun diriku seperti ini, aku yakin bahwa aku masih memiliki pesona yang tidak pernah kusadari sebelumnya.

                Kurasa aku sudah menemukan jawaban dari pertanyaanku selama ini.

                                                    “Apa aku memesona di mata orang lain?”


                            “Ya karena kamu punya pesona yang tidak disadari oleh dirimu sendiri,”