Sebab #MemesonaItu kamu, wahai wanita

by Apindania Foni Andari / 09 April 2017


Kata orang-orang, yang memesona itu yang cantik. Cantik dalam artian berbadan semampai, berkulit putih, berhidung mancung, bermata belo, beralis tebal, atau sering kali ditambahkan dengan memiliki lesung pipi dan atau gigi gingsul. Padahal menurut saya semua wanita itu memesona. Semua wanita itu cantik dengan caranya masing-masing.


Stereotipe tentang wanita cantik yang memesona itu seringkali menimbulkan pertentangan di diri seorang wanita. Kadang seorang wanita itu melakukan segala upaya untuk dapat dikatakan memesona. Padahal inti dari memesona itu bukan perkara fisik semata. Untuk apa memesona jika akhlak tak mulia? Untuk apa memesona jika tak patuh pada sang pencipta?


Jika kita bicara soal fisik wanita yang memesona, maka orang awam pasti menjawab dengan poin-poin yang telah disebutkan sebelumnya. Padahal masalah fisik itu bisa diatasi. Jaman sekarang sudah canggih. Banyak alat yang dapat digunakan untuk membuat wanita menjadi cantik dan memesona menurut selera pasar. Tapi sekali lagi bukan itu intinya.


Memesona itu bukan tentang make up yang terpoles rapi di wajah seorang wanita. Tapi tentang senyum manis yang tercetak jelas di wajahnya. Sebab make up terbaik seorang wanita adalah senyumnya. Senyum tulus yang menampilkan deretan gigi-gigi rapi dan bekasnya, atau bisa jadi gigi-gigi yang saling tumpang tindih tapi tak mengurangi estetikanya. Ya, mau bergigi rapi atau bergigi gingsul, berpipi tembam, berpipi tirus, atau berlesung pipi, wanita akan selalu memesona dengan senyumnya. Itu poin pertama.


Memesona haruslah satu paket dengan hati dan kepribadian yang memesona pula. Istilah kerennya inner beauty. Itu akan terwujud ketika wanita tak melulu mementingkan urusan fisiknya. Ia akan sadar betul posisinya di mana, sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial. Jadi ia akan beradaptasi dengan cepat. Kapan ia harus mengutamakan kepentingan dirinya dan kapan ia harus berbagi dengan sesama. Tak lupa untuk memanjatkan untaian kalimat doa pada sang pencipta menunjukkan jika ia tak sombong pada Tuhannya. Bukankah sikap dan sifat yang seperti itu menjadikan seorang wanita tampak lebih memesona? Itu poin kedua.


Merawat diri itu boleh karena itu merupakan salah satu cara untuk self-appreciation, tapi sewajarnya sajalah. Bermain lumpur di sawah tak akan langsung membuat kulit menjadi gatal-gatal. Beda kasus lagi kalau itu adalah alergi. Mencuci piring tak akan langsung merusak kuku-kuku cantik yang baru saja dipelihara. Memasak sebentar tak akan membuat kulit rusak karena terciprat minyak goreng atau air mendidih. Sebab pengabdian pada keluarga yang akan membuat wanita jadi jauh memesona. Itu poin ketiga.


Wanita memesona itu menginspirasi, baik keluarga maupun orang-orang di sekelilingnya. Tak hanya karena pesonanya tapi juga perilakunya. Apa yang ia lakukan dan kerjakan itu membuat orang lain berpikir untuk mengikutinya dan menjadiannya panutan. Ia selalu menyempatkan diri memperkaya wawasannya dan setelah itu membaginya pada orang lain. Ia tak mau menyembunyikan ilmu untuk dirinya sendiri. Baginya, kecerdasan itu milik semua umat. Pemikiran seperti itu pastinya akan membuat seorang wanita memesona berkali-kali lipat. Itu poin keempat.


Namun, semua kembali lagi pada individu masing-masing. Bagaimana mendefinisikan kata memesona itu dan bagaimana cara untuk mengembangkannya. Sebab semua orang memiliki definisi dan caranya masing-masing. Tapi saya yakin, semua wanita ingin disebut memesona karena memang itulah kodratnya. Tapi tetap diingat, memesona itu meningkatkan aura positif dalam diri tanpa mengorbankan diri sendiri. Dengan cara itu tentu orang lain akan menganggap seorang wanita itu memesona dan bahagia. Sebab #memesonaitu kamu, wahai wanita.