#MemesonaItu Sang Saingan

by Widad Abida Rahmah / 09 April 2017


Cerdas memang bakat alami. Cerdas itu murni dari orang tua. Tetapi, kecerdasan tidak terus menerus ada. Bahkan bisa hilang begitu saja. Cerdas, jika tanpa belajar itu akan sirna. Cerdas, jika tanpa doa dan usaha pun akan sia-sia. Itulah mengapa kecerdasan itu hanya kefanaan.


                Laki-laki lebih cerdas daripada wanita itu memang kodrat. Tapi laki-laki cerdas pun akan dikalahkan wanita rajin jika ia tidak belajar. Orang cerdas bisa dikalahkan orang pintar jika kecerdasannya itu tidak diasah terus.  Begitulah bagaimana sainganku bisa memancarkan seberapa memesonanya dia.


                Sainganku itu memang wanita pintar nan rajin. Namanya adalah Kartika.Dia ramah kepada teman, suka membantu banyak orang lain, patuh kepada orang tua, juga hormat kepada guru. Dia cantik jelita dengan senyumnya yang penuh keikhlasan. Dia bukan hanya pintar di akademik. Dia pun hebat dalam non-akademik. Jikalau dibandingkan dengannya dalam hal pelajaran di sekolah, aku mungkin setara dengannya ataupun satu peringkat di bawah atau di atasnya. Tetapi, jika sudah berhubungan dengan matematika, aku mengakui dia tidak bisa diremehkan begitu saja. Ya, dia bukan lain adalah salah satu dari dua anak perempuan yang berhasil menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti ajang olimpiade matematika nasional tingkat  kabupaten. Dengan aku juga salah satunya.


                Tim olimpiade matematika kami terdiri dari tujuh orang pada awalnya. Aku, Kartika, Kak Iffa, Bila, Ipi, Daffa, dan Rafif. Kami bertujuh mengikuti bimbingan dari awal kelas 10 hingga bulan Desember. Lalu, pada bulan Januari awal, dari tujuh orang itu diseleksi lagi dan diambil 3 orang sebagai tim inti. Yang berhasil lolos pada seleksi ini adalah Kak Iffa, Daffa, dan Aku. Tiga orang ini dibimbing selama satu bulan. Lalu pada minggu ketiga masa bimbingan, ada penambahan perwakilan lagi. Dia tidak lain adalah Kartika. Kartika, Aku, Daffa, Kak Iffa, bersama-sama mengikuti bimbingan selama dua minggu.


                Kartika mungkin memang tidak secerdas Daffa, tapi dia sangat rajin belajar. Gaya belajarnya itulah yang membuat aku takut padanya. Ketika aku belajar, dia juga belajar. Tetapi ketika aku hendak beranjak tidur, dia masih berkutat dengan buku-buku dan latihan-latihan soalnya. Jika aku belajar hanya dari satu atau dua buku, dia belajar dari tiga buku bahkan lebih. Dia juga akan mencari dari sumber lain,  seperti internet, jika dia tidak puas dengan apa yang ada di buku. Dia mengalahkan banyak orang cerdas dengan rajin belajarnya. Melihat sifat rajinnya itu yang membuat aku jadi semangat untuk mengalahkannya di samping mengalahkan Daffa. Aku akan bertanya padanya hal-hal yang tidak kuketahui dan kumengerti. Aku akan berdiskusi dengannya jika jawaban soal yang kami kerjakan berbeda hasil. Jika dengan diskusi pun kami belum bisa mendapat titik terang, baru kami bertanya pada guru pembimbing kami. Ya, aku mendapat banyak hal baru dengan belajar bersama Kartika. Kami belajar seperti ini hingga kami menempuh seleksi olimpiade matematika tingkat kabupaten. Kartika yang memesona. Sainganku pun patnerku. Kartika, Sang Guru yang ingin aku kalahkan.


Memesona itu bukan dari apa-apa juga bukan dari siapa-siapa. Tetapi dari dirimu sendiri. Memesona itu bukan hanya dari luarmu saja tapi dari dalam juga. Ketika kau mempunyai sesuatu, lalu kau memperjuangkan dan mempertahankannya dengan tetap tidak meremehkan orang lain hingga kau mencapai puncak, sesungguhnya, pesonamu itu terpancar dengan sendirinya. Jadi, “Jadilah dirimu sendiri, hargai dan syukuri apa yang kau punya dan tidak kau punya, berjuang lewati batasan dengan penuh semangat”. Kemudian, " Ayo jadi memesona di puncak kesuksesan”. Semangat!