MEMESONA ITU SELALU BERSYUKUR ATAS NIKMAT YANG TIDAK PERNAH BISA TERUKUR

by Nabella Alamanda / 09 April 2017

Sore itu aku memutuskan untuk menikmati langit senja sambil sesekali melihat ke arah lalu lalang kendaraan di jalanan. Ah! Betapa banyaknya manusia di bumi ini ternyata, tercipta dengan berbagai macam perbedaan, baik itu kesibukkan atau beberapa list yang ada dalam pikiran. Kulihat lagi langit senja yang pada sore itu berwanakan merah merekah, benar-benar sangat indah. 

Senja diciptakan dalam beberapa rasa penyajian untuk mata manusia, kadang senja indah dengan balutan warna merah dan oranye, tapi beberapa kali juga senja hanya menampakkan warna yang biasa saja dan cenderung membuat segelintir manusia di bumi kecewa, karena dibilangnya bahwa itu tidak Memesona.

"Mengapa senja kali ini tampak biasa saja, tidak seperti senja kemarin yang sungguh membuat mata takjub tak lepas dari penglihatan warna jernihnya?"

Dan sesungguhnya, apa yang dilihat oleh mata manusia hanyalah sebagian kecil dari radiasi elektromagnetik yang dipancarkan oleh matahari. Manusia memanglah makhluk yang sempurna, namun terkadang mata kita hanya bereaksi untuk beberapa bagian tertentu saja. Perihal senja yang indah atau terasa kaku tak merekah, itu hanya sebuah masalah perspektif tentang bagaimana kita memaknainya dan menikmatinya. Jadi, akan ada senja yang indah di setiap malam menjelang, hanya saja manusia terkadang tidak dapat menikmatinya dari daratan.

Sang Maha Pencipta yang mempunyai kuasa atas langit dan bumi tentu saja tidak membuat sesuatu atas dasar kesia-siaan. Lantas, mengapa selalu mengeluh pada setiap sudut ruang yang tak memberikanmu sebuah keindahan?

Setiap manusia telah ditetapkan waktu terbaiknya masing-masing untuk menuju keindahan, yang perlu dilakukan hanyalah mensyukuri atas segala karunia dan kehendakNya. Percayalah, dengan bersyukur kau dan aku yang telah diutus menjadi manusia di bumi akan terlihat Memesona di mata Sang Maha Kuasa.

Bagiku dan bagimu, ku tahu bahwa bersyukur bukanlah sesuatu yang mudah untuk dijalani, karena begitu banyak jalan berliku yang dihadapi. Manusia akan dihadapkan pada kesulitan yang membuatnya melakukan pengandaian atas segalanya. Berangan-angan tinggi tentang rasa-rasa keduniawian yang tidak disyukuri. Padahal kita semua tahu bahwa dunia hanyalah bersifat sementara, akhir zaman itu nyata adanya. Lalu, mengapa kita tidak berimajinasi untuk sesuatu yang bersifat keakhiratan? Mempersiapkan diri pada yang sifatnya kekal. Dan bersyukur merupakan satu bumbu penyedap yang akan membantumu menyelesaikan berbagai perkara keduniawian.

Ah! Sesungguhnya hidup ini sederhana, kau dan aku bisa membeli barang yang murah-murah saja, kau dan aku bisa makan seadanya, kau dan aku bisa tinggal dimana saja asalkan nyenyak tidurnya, kau dan aku bisa bergaul dengan siapa saja tanpa memandang dia miskin atau kaya, kau dan aku bisa hidup biasa saja tanpa perlu banyak bergaya. Tapi, gengsiku dan gengsimu telah mendarah daging sampai-sampai lupa bahwa ada yang hidupnya lebih layak dikatakan merana dari kita. Belajarlah bersyukur karena sungguh-sungguh nikmatNya tak pernah di tarik ulur. 

Cara bersyukur adalah dengan mengetahui sebenarnya apa tujuan kita hidup di dunia ini. Kemudian menurutmu, apa tujuanmu hidup di dunia ini? Pertanyaan yang terlihat mudah-mudah saja untuk di jawab, namun ternyata sangat sulit untuk dipikiran, sehingga pada akhirnya banyak orang yang menjawab sesuai dengan dasar-dasar menuju kebahagiaan.

"Tujuanku adalah ingin membahagiakan kedua orang tuaku, lulus sarjana dengan predikat yang memuaskan, kemudian aku ingin melanjutkan studi S2, atau aku ingin kerja dulu, supaya studi S2 nanti biayanya dari sendiri, aku sudah telalu banyak membebani orang tuaku dengan biaya-biaya yang tak terduga. Ehmmm habis itu aku ingin menikah dengan laki-laki yang mudah-mudahan baik, paling lambat di usia 26 tahun, kemudian punya anak. Aku akan coba menjadi wanita karir yang tidak meninggalkan keluarga, jadi antara keduanya simbang. Setelah itu aku bahagia."

Tujuan yang terdengar sangat menakjubkan, semua orang tentu menginginkan hal ini, langkah-langkah baik menuju kebahagiaan. Tapi, apa yang akan dilakukan setelah bahagia?

Sang Pencipta tentu telah menetapkan sesuatu tergantung pada garisanNya. Kau dan aku akan sangat Memesona apabila dapat mengetahui tujuan sebenarnya kita hidup di dunia, yaitu Sang Pencipta tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaNya.

Bahagia memang telah menjadi poros manusia untuk melakukan setiap kegiatannya. "Supaya aku bahagia!" katanya. "Yang penting aku bahagia!" tegasnya.

Tidak apa-apa, tapi kebahagiaan itu haruslah berlandaskan jalan kita menujuNya, dan setiap yang membahagiakan harus karenaNya. Kau dan aku akan Memesona karena perlahan dapat dikenalNya sebagai manusia yang selalu bersyukur atas satu detik oksigen yang diberikanNya, yang bernilai ribuan makna; beribadah kepadaNya.

Bersabarlah untuk terus menjadi yang terbaik bagiNya. Karena kelak segala yang kau dan aku lakukan di dunia ini akan diminta pertanggungjawabanNya. Segala daya dan upaya kita sebagai manusia hanyalah titipan yang akan dikembalikan kepadaNya.

Teruslah bersyukur, karena nikmatNya sungguh tidak pernah bisa terukur,

Teruslah bersyukur, karena bahagia tidak pernah bisa diatur,

Teruslah bersyukur, supaya tidak tersungkur hingga babak belur.

Memesona dihadapanNya akan lebih bermakna nantinya, daripada Memesona untuk tujuan yang tidak kekal adanya.