#MemesonaItu Ibu yang Bahagia

by Leyla Imtichanah KEB / 09 April 2017
Pernahkah merasa hidupmu membosankan? Tidak ada aktivitas yang memberikan semangat hidup? Tidak ada aktivitas yang menggembirakan? Atau, pernahkah merasa menjadi ibu yang gagal? Ibu yang tidak bisa apa-apa. Ibu yang tidak punya sesuatu untuk dibanggakan. Pernahkah mengalami stres berkepanjangan, lalu depresi? Jika tidak membunuh diri sendiri maka membunuh anak-anak yang diasuhnya seolah menjadi jawaban.

Ibu yang depresi adalah momok mengerikan di zaman sekarang ini. Ada banyak faktor mengapa kini semakin banyak ibu yang depresi. Tekanan ekonomi, tidak dapat mengekspresikan diri, tekanan dari masyarakat, dan kurang dukungan dari keluarga menjadi beberapa penyebabnya. Hubungan dengan suami yang buruk juga akan meningkatkan kadar depresi. Jika tidak segera diatasi, bukan hanya si ibu yang hancur tetapi juga keluarganya. Terutama, anak-anak. Anak-anak tidak bisa hidup bersama dengan ibu yang depresi. Anak-anak akan mengalami trauma bila dibesarkan oleh ibu yang depresi.

Masih teringat dalam benak saya, seorang ibu yang memutilasi bayinya karena depresi. Juga bagaimana seorang temanku tumbuh menjadi sosok yang pemarah dan sulit dikontrol karena dibesarkan oleh ibu yang “gila,” begitu dia menyebut ibunya sendiri. Mengapa ibu itu depresi sedangkan dia sudah dikaruniai anak-anak yang lucu? Banyak wanita lain yang sangat mengidamkan memiliki anak. Lho kok wanita yang sudah dikaruniai anak justru depresi?

Jangan tanya mengapa, karena Allah menciptakan manusia beserta rejeki dan ujiannya masing-masing. Tingkat ketahanan setiap orang juga berbeda. Secara medis, juga ada penjelasan mengenai penyebab depresi. Yang penting adalah bagaimana mencegah dan mengatasi depresi agar tidak membahayakan pasien dan orang lain. Bagi saya, #MemesonaItu adalah ibu yang bahagia. Ibu yang bisa tetap bahagia menghadapi berbagai kesulitan hidup. Sebab, ibu yang bahagia adalah pangkal kebahagiaan anak-anak.

Tips bahagia ala saya, yang juga seorang ibu dengan 3 anak:

Dekat dengan Sang Pencipta
Memiliki kedekatan dengan Sang Pencipta akan membuat kita lebih tenang dan menerima ujian hidup yang diberikan oleh-Nya, karena kita tahu bahwa semua itu hanya tangga untuk mencapai kesuksesan. Bagi seorang muslim seperti saya, mendekatkan diri kepada Sang Pencipta minimal dengan menjaga ibadah wajib, seperti salat, mengikuti kajian agama agar mendapatkan asupan rohani yang menguatkan keimanan, dan memiliki teman yang bisa saling menasihati dalam kebaikan. Saat sedang stres, kita juga bisa mencurahkan semua isi hati kepada Allah. Dengan salat, hati akan menjadi tenang.

Menulis sebagai Katarsis
Sejak masih remaja, saya sudah biasa menulis di buku harian untuk mencurahkan isi hati. Rupanya itu berdampak positif sampai sekarang. Menulis tidak hanya sebagai katarsis, sarana menyalurkan emosi yang terpendam, tetapi juga bisa menambah penghasilan. Untuk hal-hal yang sangat pribadi, saya hanya menulis untuk diri sendiri, tidak dipublikasikan. Sebab, tidak semua orang bisa menerima apa yang kita tulis. Tanggapan berbeda dari setiap orang justru bisa membuat kita semakin depresi.

Ada orang yang bisa memberikan empati, ada yang justru menghakimi. Kemarahan-kemarahan lebih sering saya tuliskan dalam bentuk fiksi, menjelma menjadi tokoh-tokoh di dalam novel. Hal-hal bahagia saya tuangkan di dalam blog ini, itu mengapa judul blog ini “Catatan Hati Ibu Bahagia.” Sebenarnya hanya merupakan salah satu cara agar saya senantiasa ingat bahwa saya adalah ibu yang bahagia. Ibu yang sudah dikarunia 3 anak lucu, pintar, dan ganteng. Ibu yang sangat beruntung. Jadi, mengapa saya harus tidak bahagia?

Di blog ini, saya menceritakan tentang ketiga anak saya beserta aktivitas mereka yang menggemaskan. Saya juga menceritakan tentang diri saya sendiri, tentunya hal-hal yang positif. Alhamdulillah, blog sederhana ini juga beberapa kali memberikan pemasukan tambahan yang membuat saya menikmati kegiatan menulis yang saya lakukan di sela mengasuh anak-anak.

Menjadikan Suami sebagai Sahabat
Suami mestinya menjadi orang yang paling dekat dengan kita, karena kita melakukan banyak hal bersamanya. Namun, tidak semua istri berhasil menjadikan suaminya sebagai sahabat. Hubungan suami istri sekadar hubungan biologis tanpa kedekatan hati. Kurangnya komunikasi membuat istri sungkan mencurahkan isi hati kepada suaminya.

Awal menikah dulu, saya juga punya kecanggungan untuk menceritakan perasaan saya kepada suami karena kami berasal dari dua planet berbeda yang memiliki daya tangkap berbeda. Urusan komunikasi itu perlu dilatih terus menerus dan kita harus membiarkan diri kita mengeluarkan semua perasaan yang terpendam. Jika belum bisa berbicara dengan mulut, bisa dengan tulisan. Mengirim sms, email, atau catatan pada secarik kertas pun saya lakukan.
Lama-lama, saya terbiasa berkomunikasi dengan suami sesibuk apa pun. Terbiasa mengeluarkan seluruh isi hati, sehingga saya lega. Suami pun terbangun empatinya, yang tadinya tidak peka menjadi peka. Suami jadi lebih memahami istri. Kami jadi saling memahami. Pokoknya, tidak ada satu uneg-uneg pun yang dipendam. Suami pun demikian.

Memiliki Teman Dekat untuk Berbagi Cerita
Dari berbagai kasus ibu yang depresi, sebagian besar adalah ibu yang penyendiri, tidak punya teman, dan memendam perasaannya sendiri. Setelah menikah, sebagian orang hanya fokus kepada pasangannya padahal belum tentu pasangan itu memiliki waktu untuk berbagi cerita. Selain menjadikan suami sebagai sahabat, kita juga sebaiknya memiliki sahabat wanita. Mengapa sahabat wanita? Sebab, bagaimanapun wanita hanya bisa dipahami oleh sesama jenisnya. 
 
Ada hal-hal yang tidak bisa dipahami dan disukai oleh lelaki, seperti Drama Korea, diskon fashion dan make up di sebuah situs belanja, berita terkini di media sosial yang hanya berkaitan dengan dunia kita, drama ibu-ibu, dan sebagainya. Kalau kita bercerita kepada suami, paling dia hanya mendengarkan tapi sebenarnya tidak mendengarkan. Ya, kita harus memiliki teman wanita yang bisa mendengarkan hal lain yang tidak didengarkan oleh suami. Hidup lebih bahagia jika kita memiliki setidaknya satu teman wanita untuk berbagi cerita.

Membuka Pergaulan
Masih dari berbagai kasus ibu yang depresi, sebagian besar adalah ibu yang tidak bergaul dengan sekitarnya, tertutup, dan misterius. Saya dulu juga merasakan tidak enaknya sendirian di tengah masyarakat. Mau bergaul, tapi sungkan. Merasa tidak cocok dengan ibu-ibu di sekitar. Malas keluar rumah. Akibatnya, hidup terasa membosankan.
 
Lain halnya setelah membuka pergaulan dan sesekali keluar rumah untuk mengikuti aktivitas yang menambah lingkaran pertemanan dan wawasan. Saya jadi lebih bahagia. Bertemu dengan teman-teman, mendapatkan wawasan baru, dan pengalaman baru yang menyemarakkan kehidupan saya sehingga tidak hana terfokus pada pikiran yang sedang sumpek. Apalagi jika pergaulan itu juga bisa membawa tambahan rejeki yang bermanfaat bagi keluarga besar saya.

Selalu Bersyukur
Bersyukur itu tidak mudah dilakukan. Banyaknya rejeki belum tentu membuat kita pandai bersyukur. Sering kali kita hanya melihat rejeki yang didapatkan oleh orang lain, tapi luput menghitung rejeki yang sudah kita dapatkan. Takaran rejeki setiap orang tidaklah sama. Hanya rasa syukur yang bisa membuat kita selalu bahagia dengan rejeki yang kita dapatkan.

Masih banyak sumber bahagia lainnya yang dapat kita temukan dari dalam diri dan sekitar kita. Seorang ibu yang bahagia akan menularkan rasa bahagianya kepada anak-anak. Tetaplah bahagia, karena #MemesonaItu adalah Ibu yang Bahagia. Carilah sumber kebahagiaan dari hal-hal sederhana di sekitar kita, contohnya saja anak-anak.


#MemesonaItu