Memesona Itu Sebuah Paket Spesial

by Dwi Setyowati / 08 April 2017

Yang memesona akan melekat di jiwa. Menyentuh di rasa. Mengundang berbagai reaksi ; kagum, suka, nyaman, patuh, cinta, bahkan fanatisme. Bukan soal sempurna, tapi pesona terpancar dari karakter kuat yang dimiliki pribadi. Bisa jadi seseorang punya kurang di satu sisi, tapi kurang itu tertutupi oleh kuatnya karakter di sisi yang lain.

Pernah mendengar pesona Ir. Soekarno? Presiden RI pertama ini selalu meninggalkan kesan yang kuat bagi para pemimpin negara lain, rakyat Indonesia, bahkan masyarakat dunia. Kesan berani, cerdas dan pandai mempengaruhi orang lain melekat betul pada pribadinya.

Saat berpidato, Ir. Soekarno mampu menyihir banyak orang. Semua orang yang mendengarkan pidatonya seolah mendapat instruksi untuk diam, memperhatikan, lalu berakhir dengan riuh tepuk tangan. Padahal reaksi orang-orang tersebut adalah spontan belaka, diakibatkan dari pancaran pesona Soekarno yang sulit ditampik. Selain soal sikap, masih banyak pesona Soekarno yang menyedot perhatian publik, seperti kegagahan, kerapian dan kepandaiannya menulis surat. 

Apakah presiden Soekarno adalah manusia yang sempurna? Tentu tidak. Tapi dia adalah orang yang paham betul kelebihan-kelebihannya, dan menggunakannya untuk hal-hal positif bagi diri dan kebanyakan orang.

Maka untuk tampil memesona, seorang perempuan tidak perlu terlalu memaksakan diri untuk menjadi sempurna atau menjadi baik di segala hal. Tapi memaksimalkan bagian yang cocok dengan pribadinya tanpa mengabaikan bagian penting lainnya.

Ibarat nasi goreng spesial, pesona perempuan adalah sebuah paket spesial yang tidak bisa dipisah-pisahkan bagiannya. Kespesialan atau keunikan memang menarik, tapi hal-hal mendasar sebagai bekal hubungan sosial tetap harus diperhatikan. Kembali ke nasi goreng spesial, apalah arti nasi kualitas super kalau bumbunya asal-asalan. Begitu juga bumbu yang dahsyat akan merana jika nasinya hancur, apalagi minyaknya tak ada. Maka jangan terlalu fokus mengurusi satu hal saja. Karena semua unsur yang ada dalam diri kita juga perlu diurusi.

Boleh saja kita memilih jadi perempuan yang tegas dan pemberani, misalnya, tetapi perlu juga memperhatikan aspek feminin, toleransi, sampai pada hal-hal fisikly seperti kebugaran tubuh dan penampilan. Tanpa perimbangan karakter seperti ini, pesona yang awalnya menjadi kekuatan pribadi justru dapat berubah menjadi bumerang dalam situasi tertentu.

Contoh lain jika ada perempuan yang tampak memesona karena sisi kehumorisannya, maka dia pun harus punya sisi empati, dimana pada situasi tertentu-berkabung- dia harus menekan rasa humor dan memunculkan empatinya. Dengan perimbangan atau penempatan diri seperti tersebut, biasanya pesona seseorang justru akan bertambah. “Oh Mbak itu sungguh mengesankan, meski seorang pelawak tetapi mampu menggalang bantuan untuk temannya yang sakit.”

Siap Berbeda, Siap Bersama



Dalam dunia bisnis, produk yang berbeda mempunyai nilai jual lebih tinggi dibanding produk yang biasa-biasa saja. Begitu pun dalam dunia kerja, industri seni, atau pergaulan sehari-hari, “Apa yang membedakan Anda dengan orang lain”. Itulah daya tawarmu, daya pesonamu.

Saat ini dunia makin terbuka, manusia berlomba-lomba menunjukan pesonanya, memperlihatkan eksistensinya. Tapi ironinya, di saat ingin tampil beda, kita tidak siap menerima perbedaan. Tidak siap pula mempertanggungjawabkan perbedaan yang diekspresikan. Akibatnya terjadilah saling bully, saling menonjolkan diri. Disini Kita gagal berbeda karena hanya asal beda.

Demi berbeda, seringkali kita juga salah menafsirkan kalimat, “Jadilah dirimu sendiri.” Kalimat ini terdengar gagah dan menantang. Namun bisa menjadi racun pembunuh jika “dirimu sendiri” yang ditunjuk adalah “dirimu sendiri” yang negatif. Bayangkan sendainya kita adalah pemarah, kita adalah pembuat onar. Pantaskah tetap menjadi diri sendiri, diri yang negatif? Tentu bukan itu yang dimaksud. “Jadilah dirimu sendiri” adalah kalimat positif untuk mendukung keberbedaanmu yang positif. Tidak perlu menjadi orang lain, jika sesuatu yang positif darimu bisa dimaksimalkan dayanya.

Dalam relasi sosial kita memang dibebaskan menjadi diri sendiri. Tapi ingat, tidak hanya untuk menyamankan diri, kita juga perlu menyamankan orang lain. Percayalah, sehebat apa pun prestasi, keteguhan hati dan iman kita, tak jadi memesona kalau menegasikan orang lain.  Jangan melakukan hal yang paradoks, seperti di satu sisi suka sedekah, tapi disisi lain suka mencaci penerima sedekah. Di atas panggung pandai ceramah, tapi di waktu lain tak mau menyapa tetangga. So, apa yang memesona dari kita jika demikian?

Yakini dan lakukan apa yang kita suka, tapi jangan mengorbankan kenyamanan dan apa yang dibutuhkan orang lain. Maka menurut saya, ada beberapa hal mendasar yang perlu terus kita latih agar pesona jadi berharga bukan derita :

  Rendah Hati

Percayalah, rendah hati tidak akan membuat kita rendah. Tidak akan membuat prestasi atau kedudukan kita runtuh. Bahkan sifat ini akan terus menunjang diri kita untuk berkembang.

Buang jauh-jauh sifat sombong. Karena orang yang sombong akan sulit sekali menerima kebenaran, akan berat sekali menerima masukan. Akibatnya orang sombong pun susah berkembang, gampang jatuhnya. Sifat ini juga tidak menyamankan orang lain, karena orang sombong biasanya mudah meremehkan orang lain. Sifat meremehkan pasti akan meredupkan pesona kita.

  1.  Tulus Berbuat Baik

Melakukan segala kebaikan dengan tulus dapat menghadirkan kebahagiaan diri. Dengan berbahagia, pikiran dan perasaan tidak terbebani, fisik tidak lelah, dan yang tak kalah penting orang lain akan turut merasakan aura positif dari diri kita. Kebaikan kita pun tidak menjadi sia-sia.

  1.   Pandai Bersyukur

Orang-orang yang pandai bersyukur akan kelihatan sangat memesona. Hati mereka biasanya penuh sesak oleh cinta dan penerimaan diri. Selain kepada Tuhan, rasa syukur atau terimakasih ini juga diberikan pada orang-orang di sekitar.

Betapa berharganya Tuhan dan orang lain itu saat kita bersuka cita menerima karunia-Nya. Semakin kita menghargai karunia Tuhan, semakin Tuhan ingin menambahkan karunia-Nya kepada kita. Semakin kita menghargai pemberian atau kebaikan manuisa sekecil apa pun, semakin manusia termotifasi untuk berbuat kebaikan yang lebih.

  1.  Toleran dan Suka Bekerja Sama

Habislah hidup kalau tidak ada toleransi terhadap sesama. Boleh kita meyakini sesuatu, tapi janganlah melenyapkan apa yang diyakini orang lain sebagaimana kita juga tidak ingin dilenyapkan.Belajarlah saling memberi ruang. Dengan begitu jiwa sesorang akan semakin memukau dan bercahaya.

Lalu bekerjasamalah dalam hal-hal yang bisa dikompromikan untuk mencapai kepentingan bersama. Ingat, sebuah sistem yang memesona, mensyaratkan bagian-bagiannya untuk saling mendukung dan bekerjasama.

  1. Mengasah Kepedulian

Peduli adalah soal kemauan mendengar, melihat dan berbuat. Dalam memberikan solusi atau menghadapi masalah sekitar, sekecil apa pun peran tetap akan berharga. Disitulah manusia atau semesta akan menilai arti hadir kita. Jangankan memesona, dianggap ada pun tidak kalau hidup kita tak mau peduli dengan sesama.

  1. Menakar Kepantasan Tampilan

Selain berfungsi melindungi dan memperindah diri, apa yang kita tampakan, baik busana, make up, atau perhiasan adalah sebuah bentuk penghargaan kita kepada orang lain. Jika kita berbusana rapi, sopan dan bersih ketika menemui orang atau menghadiri sebuah acara, berarti kita menghargai orang atau acara yang kita hadiri. 

Jadi, memesona bukanlah soal “ini saya” tapi lebih kepada “Bagaimana saya”. Bagaimana Saya menjadi spesial dan menganggap orang lain spesial. Bagaimana Saya menjadi berbeda dan menghargai orang yang berbeda. Bagaimana Saya punya kelebihan dan menggunakannya untuk hal-hal positif. Bagaimana Saya ada dan membuat keberadaan Saya bermanfaat untuk orang lain. Pribadi yang memesona memang seperti paket spesial yang unik dan menyeluruh. Tidak ada manusia sempurna, tapi setiap pribadi dengan keunikannya ditugaskan untuk terus berproses menyempurna.

#MemesonaItu #MemesonaItuSebuahPaketSpesial