Memesona Itu Tidak Harus Sempurna

by Disty Julian Mandasari / 08 April 2017

Sejak jadi seorang ibu, kita seringkali dihadapkan dengan banyak ekspektasi, khusnya ekspektasi yang muncul dari masyarakat untuk jadi ibu yang sempurna. Padahal, semua orang juga tau kalau kesempurnaan itu hanya milik Yang Maha Kuasa saja. Betul nggak?

Tapi seriusan deh, sejak anak kita lahir, sudah berapa puluh nasihat yang kita dengar soal menjadi seorang ibu? Bahwa jadi ibu itu harus begini, begitu, seperti ini, seperti itu. BUANYAAAK! Belum lagi perdebatan-perdebatan soal anak ASI vs SUFOR atau Ibu Bekerja vs Ibu Rumah Tangga. Masyarakat akan mendefinisikan bagaimana sih seorang ibu itu, lewat berbagai macam hal yang mereka anggap wajar. Intinya, jadi ibu itu harus sempurna. Padahal, ibu itu kan manusia biasa, bisa sakit, bisa lupa, bisa salah, tapi tetap berhak untuk bahagia.

Menurut saya, #MemesonaItu ketika kita bisa menempatkan diri kita sesuai dengan tanggung jawab kita. Tarohlah contoh seorang Ibu bekerja dengan anak balita, seperti saya ini. Sebaga ibu dan istri, tentu tugas kita adalah sebagai roda penggerak rumah tangga, seseorang yang harus meyakinkan bahwa anak dan suami dalam kondisi terawat, rumah teratur, makanan selalu ada dan mendampingi anak dalam proses tumbuh kembangnya. Sebagai seseorang yang bekerja, tentu tanggung jawab kita adalah memberikan performance terbaik kita di kantor. Jangan lantas karena kita punya anak, maka kita memberikan kualitas pekerjaan yang di bawah ekspektasi. Jangan dong! Disinilah kita diuji, bagaimana caranya kita bisa juggling antara mengurus rumah tangga dan menyelesaikan tugas kantor dengan optimal. Susah? Pasti. Tapi disitulah tantangannya. Bagaimana kita pandai-pandai membuat manajemen waktu dan skala prioritas. Awalnya mungkin terasa susah, namun saya yakin lambat laun ketika sudah mengetahui ritmenya, semua bisa kita handle dengan mudah. Bukan tidak mungkin kita bisa membuat achievement di kedua bidang itu loh.

Yang sering kita lupa ketika menjadi seorang ibu adalah menjadi diri kita sendiri. Being a mom doesn't mean that you have to forget about yourself. Your happiness matters. Don't let anyone defines your happiness, it's yours.

Just because your world revolves around your kids, doesn't mean that you have to forget about yourself. Jadi ibu itu berhak untuk tetap waras kok. Sesekali luangkan waktu untuk me-time. Merawat diri, memanjakan badan, berpakaian yang menyenangkan. Hey, bukankah itu adalah cara kita untuk menghormati tubuh kita? Membuat diri kita merasa bahagia itu salah satu cara untuk mengungkapkan sayang terhadap diri kita sendiri kan? Jika kita mampu menyayangi diri kita, pasti kita akan bisa menyayangi orang lain.

Cobalah untuk ikut kegiatan yang memperkaya pengetahuan kita, menambah keterampilan, berdiskusi dengan banyak orang. Semakin kita  banyak tahu, semakin kita bijak dalam menghadapi sesuatu. Ibu seperti inilah yang diperlukan seorang anak untuk tumbuh. Anak yang berpandangan terbuka, berwawasan luas, melihat segala sesuatu dari banyak sisi. Saya percaya, seorang anak yang hebat itu tidak lepas dari tangan dingin seorang ibu yang membesarkannya.

Disinilah saya merasa, bahwa wanita itu akan terlihat sangat memesona ketika dia mengeluarkan potensi penuh akan dirinya, tanpa melupakan kodratnya sebagai seorang wanita. Jadilah diri sendiri, #MemesonaItu bukan soal menjadi yang paling sempurna kok, tapi bagaimana caranya jadi manfaat bagi sekitarnya tanpa lupa cara untuk bahagia.

Selamat berbahagia, wanita! Kalian berhak untuk itu :)