Jampi-jampi perempuan Memesona

by Sani Nurahayu / 07 April 2017

Seorang teman saya sering berkata, “San, pakai make up dong, supaya dapat pacar!”

Tertawa, tanpa menimpali pernyataan itu, saya membuat percakapan kecil di kepala saya. Kepada calon jodoh saya nanti, saya bertanya, “Menurut Mas, perempuan yang #MemesonaItu seperti apa?”


Dia berpikir sejenak sembari menopang dagu. “Perempuan yang #MemesonaItu adalah perempuan yang menjaga dirinya sebelum bertemu pendampingnya kelak, perempuan yang #MemesonaItu adalah perempuan yang tidak mengumbar dirinya pada laki-laki lain selain suaminya, perempuan yang #MemesonaItu adalah perempuan yang memancarkan pesona terbesarnya hanya pada lelakinya kelak.” 


“Itu maumu, Mas.” Saya kemudian teringat dengan wanita-wanita yang selalu berusaha tampil cantik, untuk mendapatkan pasangan. “Kamu tahu kalau laki-laki tak akan tertarik pada wanita yang tidak cantik. Lalu, bukankah selama proses pencarian itu wanita harus berusaha untuk memperlihatkannya padasmua orang?”

“Pertama-tama,  menurut kamu, sayang pesona itu apa? Apakah menurutmu, perempuan yang cantik itu selalu memesona?”

Menggeleng, saya rasa tidak. Terkadang saya melihat seorang wanita yang cantik, tetapi ketika dia berbicara terlalu lantang, tertawa terlalu keras, dan bersikap terlalu kasar, pesonanya menghilang. Ketika dia berbicara buruk tentang temannya yang hari kemarin bepergian bersamanya, pesonanya menghilang. Padahal kulitnya putih bersih, rambutnya panjang dan berkilauan, tubuhnya ideal, dan hidungnya mancung.


Memang, penampilan adalah hal pertama yang menarik minat lawan jenis. Akan tetapi, akan selalu ada kesan kedua yang tak kalah diperhatikan. Mungkin itu yang disebut pesona.


"Selanjutnya, apakah menurut kamu, sayang, pesona perempuan selalu berasal dari putih dan bersih kulitnya, panjang dan berkilau rambutnya, ideal tubuhnya, dan mancung hidungnya?”

Lagi, saya tidak sependapat. Hal yang pertama terlintas di kepala saya adalah ibu saya. Ketika masih muda, beliau sangat cantik rupa. Setelah melahirkan tiga anak, fisiknya tak secantik dulu tetapi pesonanya tak juga hilang. Dia terlihat sangat memesona ketika menyiapkan sarapan untuk saya dan adik-adik saya. Dia terlihat memesona dengan tetesan keringat yang membuat wajahnya licin saat mengerjakan banyaknya pekerjaan rumah. Dia juga terlihat sangat memesona ketika tersenyum dan bertanya, “kapan kamu dapat bonus lagi, Nak?”

“Arti katanya sendiri, sayang, pesona adalah guna-guna."

Penjelasan itu membuatku terkejut ketika pertama kali aku mengetahuinya. Ah, saya teringat kembali pada guru dan dosen saya yang pernah membawa gumpalan daging besar dalam perutnya ketika mengajar wajah-wajah lelah dan bosan dalam ruangan kelas. Teringat pula penjual makanan yang menunggui sayuran matang yang telah direbus di atas sebuah nyiru. Dengan sigap, beliau akan langsung menyiramkan bumbu kacang di atas sayuran-sayuran tersebut sesuai permintaan pelanggannya yang sudah berolahraga pagi. Mungkin mereka menggunakan 'guna-guna' untuk terlihat memesona. Katanya, orang-orang zaman dulu memang sering 'menempeli' diri dengan sesuatu.

"Tapi secara praktek, tidak semua yang memesona itu ada 'jampi-jampi'nya, sayang. Karena pesona adalah cahaya putih yang berhasil dipancarkan lewat prisma, menjadi cahaya berwarna-warni."

#MemesonaItu mereka. Memesona adalah ketika cahaya yang asalnya dalam hati kita dapat terpancar dan dilihat semua orang. Dari diri kita, dari prisma yang bentuknya indah itu.

“Sekarang menurut kamu, sayang, apakah pesona bisa menghilang?”


Saya jawab, “tidak.” Pesona tidak bisa dihilangkan dan pesona tidak bisa disembunyikan. Karena pesona bukan hanya cantik fisik. Pesona adalah cahaya putih dan perempuan adalah prisma. Karena itu, masing-masing mereka harus bersih dan membentuk ruang bangun yang sempurna. Untuk membentuk dan menjaga cahaya putih itu, perempuan memerlukan ‘jampi-jampi’ yang tentunya tidak akan hilang sampai perempuan-perempuan itu berhenti melapal mantranya.

#MemesonaItu

“Yu, kalau mau dapat pacar sih nggak perlu pakai make up, yang penting mandi, hilangkan daki, dan jaga hati. Sebagai tambahan, aku beritahu jampi-jampinya!” Kembali pada teman saya tadi, saya uraikan ‘jampi-jampi’ yang dibisikkan oleh calon jodoh saya itu.

Percaya diri
Perempuan yang memesona selalu percaya pada dirinya sendiri. Dia tahu dia benar. Dia percaya perbuatannya tidak merugikan orang lain dan dirinya sendiri. Dia melakukan segala hal yang baik berdasarkan pengetahuan dan kepercayaan yang dia yakini itu.

Berani Menjadi Diri Sendiri
Setiap orang sudah dibekali keberanian sejak lahir. Keberanian untuk menunjukkan keunikan dirinya kepada semua orang. Sayangnya, ada yang melupakan keberanian itu karena sebuah pengalaman buruk, ada yang membuangnya karena membutuhkan keberanian lain untuk mengubah dirinya menjadi orang lain, dan ada yang melepaskannya karena merasa bahwa menjadi diri sendiri tidak membuatnya mendapatkan apa yang dia inginkan. Tetapi perempuan yang memesona akan tetap memertahankan keberanian itu bahkan setelah berbagai pengalaman buruk, keinginan menjadi orang lain, dan ambisi untuk mendapatkan keinginannya.

Tahu Tempat
“Air selalu mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah.” Pernahkah terpikir, kenapa dari sekian banyak benda di alam semesta, air dianggap cocok untuk dijadikan peribahasa itu? Saya rasa jawabannya adalah karena air adalah zat berwujud yang mengetahui tempatnya. Meskipun ditempatkan di atas, ketika dia tahu ada kekosongan kecil di bawahnya, dia akan mengisi kekosongan itu. Seperti halnya perempuan. Perempuan terlihat semakin memesona ketika dia tahu di mana harus menempatkan dirinya. Perempuan yang #MemesonaItu tahu kapan dia harus tersenyum untuk orang lain, kapan dia harus ikut bersimpati, kapan dia harus tertawa riang, dan kapan dia boleh menikmati waktunya sendiri.

Senang Berbagi dan Tidak Selalu Menyendiri
Karena perempuan yang memesona tahu di mana tempatnya berada, dia akan senang berbagai pemikirannya, cita-citanya, kebahagiannya, kesedihannya, dan bahkan penghasilannya (Teringat Ibu saya yang sering bertanya, ‘kapan kamu dapat bonus lagi?’). Perempuan yang memesona tak akan terus-menerus menyendiri, memikirkan dirinya sendiri. Karena dia tahu, pesonanya harus dia bagikan kepada orang-orang di sekitarnya.

Berpikiran Luas
Laki-laki akan menjadi kepala keluarga dan perempuan akan menjadi pengisi keluarga. Laki-laki akan membimbing keluarganya dan perempuan akan menemani keluarganya menuju tujuan yang diarahkan sang pembimbing. Karena itu, perempuan yang memesona pasti akan membuka pikirannya seluas mungkin. Perempuan yang memesona akan menjadi pengisi yang manis dalam keluarganya. Dia akan menjadi teman suaminya dalam membimbing anak-anak mereka kelak. Dia akan menjadi pengingat yang dalam mengoreksi perjalanan hidup keluarganya.

Selalu Positif
Dengan sikap positifnya, perempuan yang memesona akan memancarkan pesonanya tersebut, menetralkan hal-hal negatif di sekitarnya, memberi warna-warni dalam bias cahaya putih.

Selalu Melapalkan Mantranya
Pesona perempuan semakin terpancar ketika mereka melapalkan, meyakini, dan mengamalkan ‘jampi-jampi’ itu dalam kehidupan sehari-hari. Ini dia mantranya:

“Perempuan yang #MemesonaItu adalah perempuan yang percaya diri, berani menjadi diri sendiri, tahu tempat, senang berbagi dan tidak selalu menyendiri, berpikiran luas, serta selalu positif.” 

Saya lihat calon jodoh saya itu tersenyum bangga karena saya berhasil menangkap apa yang dia maksud. #MemesonaItu ... kamu.


“Cie ... Jomblo bersabda,” katanya, masih tak mau disangkal bahwa #MemesonaItu hanya bisa didapat dengan ber-make up.

“Biar, lebih baik jomblo rasa jomblo, daripada cantik, selalu ber-make up, punya pacar, tapi rasa jomblo.”


***



Bandung, 06 April 2017


(P.s. untuk para pembaca, biarkan jomblo berimajinasi.)