#MemesonaItu Pancaran Kilau Diri

by Paramita Handayani / 08 April 2017

Memesona. Sebuah kata yang sering kita dengar dan lekat dengan keseharian kita. Sebuah kata yang bermakna luas dan bisa berbeda-beda menurut pandangan setiap orang.  Menurut saya, memesona itu bisa disimpulkan menjadi dua aspek yaitu aspek fisik dan aspek non fisik.

Ada pepatah Jawa mengatakan,  "Ajining diri soko lathi, ajining sariro soko busono" yang artinya  berharganya diri kita itu dari ucapan kita dan berharganya badan atau raga kita itu adalah dari cara kita berpakaian atau cara kita berpenampilan. Makna filosofis dari pepatah itu begitu erat kaitannya dengan topik yang akan dibahas yaitu “memesona”. 

Aspek fisik memesona itu meliputi bagaimana cara kita berbusana, tak harus mahal, tak harus memakai produk luar dengan merk-merk yang mendunia, serta tak harus juga berlebihan. Rapi, sopan dan luwes. Bagaimana orang bisa menghargai kita jika kita tidak mau menghargai diri kita sendiri dengan berbusana yang baik?  Bagaimanapun juga penampilan fisik itu adalah kunci agar orang lain bisa menaruh perhatiannya kepada kita. 

Aspek yang kedua yaitu non fisik. Aspek ini meliputi banyak hal. Untuk bisa memesona, orang tidak hanya bermodalkan penampilan saja namun juga kepribadiannya. Menurut saya, pribadi yang memesona itu adalah pribadi yang bisa menjadi sosok yang inspiratif dan bisa memberi pengaruh positif yang luar biasa terhadap lingkungan sekitarnya.  Semakin ia mampu menularkan energi positifnya kepada orang-orang di sekitarnya semakin memesonalah ia.

Selain itu untuk menjadi sosok yang memesona kita harus mampu menjaga ucapan atau tutur kata kita dengan baik, kita harus tahu kapan waktunya untuk berbicara dan kapan waktunya untuk mendengarkan. Hal tersebut juga berlaku di dalam konteks dunia maya, dimana media sosial seringkali memicu orang untuk melontarkan hal-hal yang tidak baik. Fokuslah pada sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi orang lain, pun kalau memberikan informasi tidak boleh sembarangan.

Memesona selanjutnya yaitu pribadi yang berwawasan dan cakap di bidangnya. Kita perlu bangga bahwasanya wanita di zaman sekarang sudah banyak yang mandiri dan sukses menjadi sosok yang mereka cita-citakan. Seorang wanita yang memesona adalah wanita yang mengenal dirinya sendiri, memiliki kepercayaan diri yang kuat, ulet dalam bekerja  dan tidak takut mencoba hal yang baru sehingga ia bisa mengembangkan potensinya, meraih mimpinya.

Aspek non fisik tak lengkap artinya jika tanpa rasa kepedulian terhadap sesama. Seorang yang memesona adalah seseorang yang mempunyai empati dan rasa kepedulian yang tinggi. Ia bersedia mengulurkan tangannya kepada siapapun yang membutuhkan pertolongannya sepanjang itu tidak melanggar nilai-nilai yang ada. Dalam skala yang lebih luas, sosok memesona adalah sosok yang memperjuangkan hak-hak mereka yang terpinggirkan.

Terakhir,  untuk bisa menjadi memesona ialah ia harus pandai bersyukur. Apa yang kita punya adalah apa yang wajib kita syukuri.  Hal tersebut akan membuat kita jauh lebih bahagia. Mengucap rasa syukur bisa menjadi obat menyejukkan ketika hidup menjadi terlalu berat. Memiliki rasa syukur memberikan efek ketenangan bagi pikiran, tubuh dan jiwa kita. Energi dari rasa syukur semacam bahan bakar agar kita senantiasa bahagia.  Sederhana memang, namun dari rasa syukurlah kita bisa menikmati sepenuhnya berkah dan  karunia yang telah diberikan oleh-Nya. Dan seandainya kita hanya punya kesempatan untuk mengucap satu doa, maka ucapkanlah “terimakasih”. 

Memesona adalah ketika kita bisa menjadi sosok yang dapat menularkan energi-energi positif tersebut kepada orang lain. Siapapun bisa membuat dirinya memesona bagi orang lain. Tak terkecuali kita para wanita Indonesia.