#Memesonaitu Dia yang Sederhana, Memberi Manfaat bagi Lingkungan, and So Stunning

by Anik Widarti / 06 April 2017

Assalamualaikum, bagaimana kabarmu kawan? Kuharap kau dalam keadaan sehat. Tulisan ini masih pada tema mengenai pesona diri, masih mengenai pertanyaan #MemesonaItu seperti apa? Kurasa masing-masing perempuan memiliki jawaban yang beragam mengenai pertanyaan tersebut. Aku akan menjawabnya melalui kisah yang hendak kutuliskan. Bercerita melalui sebuah kisah, bagiku akan lebih mudah dimengerti juga akan lebih mudah sampai ke hati. Di tulisan ini, kusampaikan definisi lainnya dari sebuah kata Pesona. #MemesonaItu seperti dia yang ada di dalam tulisan ini, aku akan senang jika kau mau mendengarkannya.

Aku adalah seorang mahasiswa yang sekarang sedang stay di Kota Hujan. Aku tinggal dengan teman-teman dari berbagai daerah, ada yang dari Ngawi, Ciamis, Tangerang, Jakarta, dan dari Lampung. Walau kami dari berbagai daerah dan juga kepentingan masing-masing (ada yang kuliah S1, S2, dan ada yang sedang bekerja), suasana kost-anku sudah seperti keluarga sendiri dan jauh dari kesan bahwa anak kost-an adalah individualis. Aku memiliki teman (Mbak-mbak lebih tepatnya), dia baru saja lulus S2 di kampus tempatku kuliah juga. Saat ini dia sedang bekerja di Rektorat kampusku. Sebenarnya dia sudah bekerja disana sejak masih S1. Saat masih S1, dia aktif dalam organisasi BEM kampus sambil bekerja juga. Kemudian selepas lulus S1 dia melanjutkan ke jenjang S2 di kampus ini juga sambil bekerja di Rektorat dan sampai saat ini sudah lulus S2-pun masih bekerja di Rektorat. Lantas apa yang membuatmu harus mendengarkan kisah ini? Kisah ini tentang apa yang dia kerjakan bukan tentang pekerjaannya.

Dengarkan baik-baik. Dia bekerja pada bagian yang berhubungan dengan kegiatan mahasiswa, mulai dari kegiatan-kegiatan BEM kampus, Rapat dengan Rektor beserta jajarannya dalam membahas mengenai kegiatan mahasiswa, sampai yang paling ribet ngurus PKM (Program Kreativitas Mahasiswa)-kalau kau tahu, masalah PKM ini adalah masalah yang sangat ribet. Jika sedang dalam musim-musim PKM, tak jarang ia berangkat kerja sebelum matahari terbit dan pulang sekitar jam 21.00 WIB. Tak ada yang spesial dari pekerjaanya, jika dilihat dari segi gaji, untuk seorang lulusan S2 gaji dari pekerjaannya jauh dibawah standard dan mungkin saja hanya sebatas UMR Bogor, ditambah beban kerja yang menguras otak dan emosi, serta jam kerja yang tak bisa ditentukan seperti yang sudah kutuliskan diatas. Tak jarang gaji atau uang lembur telat dalam pencairannya ataupun tak jarang ia tak mendapat uang lembur.

Dengan beban kerja seperti diatas, terlihat dia sangat menikmati pekerjaan dan hidupnya. Untuk seorang anak gadis yang sudah menginjak usia 27 tahun dan belum menikah, bisa saja ia berhenti dari pekerjaan itu dan lebih fokus pada kehidupannya sendiri. Namun ia tidak melakukannya. Ketika kutanyakan mengenai hal itu, jawaban yang ia berikan membuatku manggut-manggut (mengangguk).

“Mbak, kenapa masih bertahan bekerja di sana? Kan melelahkan?” tanyaku pada suatu hari.

“Kalau saya berhenti kasihan bos saya dan Pak Rektor, belum ada yang bisa mengatur segala hal tentang PKM”

“Ya, kan ada orang lain yang diminta untuk belajar ke Mbak” tanyaku lagi

“Tidak ada yang mau sayang, belum ada untuk saat ini”

ggg
Tetap tersenyum walau hidup terkadang memang harus jungkir balik (CC: @agessty)

Untuk seorang dengan pendidikan yang baik dan mempunyai banyak link, seperti dosen, professor, sampai rektor dari berbagai Universitas di negeri ini, mudah saja baginya untuk meninggalkan pekerjaan yang sekarang dan mencari pekerjaan yang lebih baik sebagai staf atau bahkan pengajar di Universitas lain (Karena di kampus ini lebih susah). Untuk saat ini dia belum dan tak melakukannya. Katanya suatu ketika “Aku hanya ingin apa yang aku lakukan bisa memberikan manfaat bagi orang lain dan lingkunganku. Kalau masalah gaji, itu tergantung kitanya. Yang aku percaya Allah memberikan rejeki pada kita itu akan selalu cukup untuk hidup berapapun itu, tapi tak akan pernah cukup untuk gaya hidup. Jadi pintar-pintar kita mengaturnya. Jangan lupa bersyukur karena bersyukur adalah kunci untuk kita bisa merasa bahagia”

Untuk seorang gadis berusia 27 tahun dia tak terlihat seperti gadis dengan usia tersebut. Dia lebih seperti gadis berusia 23 tahun atau Fresh graduate S1. Rahasianya, dia menikmati pekerjaannya dan juga suka traveling, solo traveling lebih tepatnya. Kurasa dari situlah pesona diri-nya muncul. Nah, kini sampailah pada definisi #MemesonaItu. Kisah diatas memberitahuku #MemesonaItu memberikan manfaat untuk lingkungan dari sekecil apapun yang kita lakukan, #MemesonaItu ikhlas melakukan pekerjaan dan dari hal itu kita bisa mengispirasi orang lain, dan #MemesonaItu menikmati hidup, betapapun menjengkelkan situasi yang sehari-hari kau hadapi, satu lagi #MemesonaItu selalu meluangkan waktu untuk mengunjungi tempat-tempat baru agar pengetahuan kita bertambah. #MemesonaItu so Stunning. Selain itu, yang membuatku kagum padanyaa adalah, selain memesona melalui inner beautynya, dia juga tak lupa memperhatikan style-nya dalam keseharian, terutama dalam berbusana. Dia selalu paham dengan apa yang harus ia kenakan pada setiap event yang berbeda. Kakak ini selalu tampil so stunning sehingga di usianya yang sudah bukan teenager, dia masih seperti gadis remaja. Bagiku kakak ini sangat mengispirasiku dalam berbagai hal. Bagaimanapun kondisinya, kita harus tetap bersyukur dan menikmati apapun yang datang dalam hidup kita.

kkk
Jungkir balikpun masih bisa dinikmati ^^ (CC: @agessty)

Jadi itulah definisi #MemesonaItu menurutku. Kuharap kisah yang kutuliskan ini sedikit banyak bisa memenangkan hatimu. Terima kasih telah bersedia mendengarkan kisah ini. Semoga ada hal-hal baik yang bisa diambil pelajarannya. Sampai jumpa di lain waktu. Wassalamualaikum.