#MemesonaItu Berani Anti Mainstream

by Nurria Betty Indriyaningrum IIDN / 06 April 2017
Leona kecil, tumbuh dewasa dalam didikan yang keras dari orang tuanya. Keluarga sekuler yang sangat disiplin. Leona dan tiga kakaknya diharuskan untuk mematuhi segala peraturan yang ditetapkan oleh kedua orang tuanya tanpa kesalahan sedikitpun. Apabila terjadi pelanggaran sekecil apapun, pasti ada konsekuensinya. Tidak menerima alasan apapun, entah itu disengaja ataupun tidak, apakah itu benar-benar kesalahan dari anak-anak sendiri atau bukan. Selama ada peraturan yang dilanggar, pasti akan ada hukuman.

Dari sana Leona bersaudara dikenalkan pada dunia. Mereka dipersiapkan untuk bertarung. Untuk selalu siap menghadapi kehidupan yang kejam. Tidak ada waktu bermanja-manja. Semua harus sesuai jadwal, tepat sempurna. Harus mendengar dan melaksanakan instruksi, tidak boleh membantah, tidak bisa mengeluarkan pendapat, keinginan atau argumen. Harus langsung pulang setelah sekolah, tak boleh bermain-main, tak ada waktu bersenang-senang. Dengan cara ini Leona dan kakak-kakaknya menyelesaikan sekolah dengan lancar dan sukses. Nilai-nilai sempurna, tidak pernah lepas dari 3 terbaik, masuk kuliah jurusan favorit, lulus dengan  pujian, bekerja di perusahaan besar dan meniti karier dengan baik. Bagi orang tuanya, #MemesonaItu cantik dan pintar. Bagi keluarganya, #MemesonaItu selalu berprestasi dan membanggakan. Bagi Ayah dan Ibunya, anak gadis yang #MemesonaItu adalah yang sesuai gambaran umum, langsing, semampai, penampilan rapi, tutur kata baik, sopan santun dan pintar. Sekolah dengan benar, berprestasi, lulus tepat waktu, langsung bekerja, menikah, punya anak, dan seterusnya. Seperti itulah Leona tumbuh dan patuh.

Akhirnya, ketiga kakak lelaki Leona satu persatu menikah dan hidup terpisah dari orang tua. Tinggallah Leona sendiri bersama Ayah dan Ibu yang mulai tua. Leona pun telah bekerja. Sudah ada pria mapan yang direstui oleh orang tua Leona yang akan meminangnya tak lama lagi. Dia akan mulai membina keluarganya sendiri. Tapi ada ketakutan terpendam jauh di lubuk hati Leona. Dia takut gagal. Dia takut keluarga kecilnya nanti tidak seperti yang diharapkan oleh orang tuanya. Kakak-kakaknya pria, tidak terlalu terlibat secara langsung dengan anak-anak mereka karena mereka lebih banyak bekerja. Dibawah pengelolaan istri mereka, sejauh ini keluarga mereka baik-baik saja. Tapi Leona perempuan. Dia akan jadi seorang Ibu. Bagaimana kalau dia tidak bisa jadi Ibu yang baik? Bagaimana kalau anak-anaknya nanti nakal-nakal dan tidak berprestasi? Bagaimana kalau dia nanti tidak berhasil mendidik dan membangun keluarga seperti kakak-kakaknya? Semua pertanyaan dan ketakutan itu terus menghantui Leona.

Tapi untungnya Leona bukan gadis lemah. Dia tidak mau ditaklukkan oleh ketakutan-ketakutan itu. Dia bertekad untuk mengatasi kegamangannya. Dia tidak ingin hidupnya berlalu begitu saja, tanpa kesan, tanpa jejak. Leona ingin meninggalkan arti. Setidaknya bagi orang-orang di sekelilingnya.

"Leona, kenapa kamu pakai kerudung? Nanti sulit cari kerja lho. Gak ada cowok yang berani deketin kamu. Jadi perawan tua lho.." ujar Ibunya ketika Leona memutuskan untuk berhijab. Leona hanya tersenyum. Disampaikannya dasar-dasar perintah yang mewajibkannya berhijab tanpa bermaksud untuk menggurui. Sebisa mungkin dia tak ingin menyinggung perasaan Ibunya.

"Resign? Setelah beberapa tahun kerja, sampai di posisi ini, gaji sebesar ini, sekarang mau berhenti? Apa yang mau kamu cari, Leona?" protes Ayahnya ketika Leona menyampaikan niatnya untuk berhenti dari pekerjaannya. Diutarakannya alasan bahwa pekerjaannya saat ini sangat dekat dengan riba. Leona sebisa mungkin menjauhi dosa besar. Dia ingin mencari pekerjaan lain yang lebih berkah. Diyakinkannya Ayahnya agar merestui keinginannya itu.

"Mengajar? Di Yayasan Agama Islam? Mau ngajar apa kamu disana? Kamu kan gak punya latar belakang pendidikan agama? Lagian dibayar berapa kamu disana? Sukarela?" nyinyir tantenya ketika tahu dimana Leona akan bekerja setelah berhenti dari tempat kerja sebelumnya. Sambil tetap tersenyum dengan sabar, dijelaskannya bahwa dia hanya ingin mencari pekerjaan yang halal, berkah dan mengamalkan ilmu untuk amal jariyah. Dia tidak peduli pada bayaran karena dia sangat percaya bahwa rizki sudah diatur sepenuhnya oleh Tuhan.

"Kamu sudah hampir umur 30, kenapa gak cari pacar? Mau sampai kapan membujang? Mau tunggu pangeran datang naik kuda putih melamarmu?" desak tantenya yang lain ketika Leona tak menunjukkan gelagat bahwa dia sedang dekat dengan pria manapun. Leona menyampaikan lagi bahwa dia tak mau berpacaran. Dia ingin langsung menikah pada pria baik yang datang melamarnya. Sementara ini dia ingin merawat Ayah dan Ibunya yang semakin tua.

"Kok mau sih kamu susah payah ngurus orang tua sendirian gitu? Kenapa gak sewa suster, atau titip di panti jompo aja? Sudah pikun, lemah, sakit-sakitan, gak bisa ngapa-ngapain. Lagian kan mereka dulu galak banget sama kamu. Kita sering tahu kamu dan kakak-kakakmu dihajar pakai gagang sapu kalau berbuat kesalahan. Sampai sekarang pun mereka bisanya cuma marah-marah kan, karena pikunnya itu. Kapan kamu punya waktu buat dirimu sendiri?" bisik tetangganya suatu kali. Leona pun menjelaskan lagi, bahwa sudah jadi kewajiban anak untuk berbakti pada orang tua. Hutang anak pada orang tua tak akan bisa terbalas dengan bakti seperti apapun. Kalaupun mereka dulu mendidik anak-anak mereka dengan cara yang salah, itu bukan sepenuhnya salah mereka. Mungkin hanya itu cara mendidik yang mereka tahu. Semua dilakukan agar anak-anak mereka tidak salah jalan. Sekarang giliran anak-anaknya yang mengurus mereka. Dan karena kakak-kakak Leona berada jauh di kota lain, maka Leona lah yang akan mengambil alih tanggung jawab itu. Leona sama sekali tak keberatan, karena berbakti pada orang tua jelas besar pahalanya.

Dan ketika akhirnya orang tua Leona satu persatu dipanggil oleh Tuhan, Leona tetap bersabar dan mendoakan kelapangan untuk keduanya. Sampai beberapa lama Leona tetap tinggal sendiri di rumah itu, menjalani hari-harinya seperti biasa. Mengajar anak-anak mengaji, memberi makan gelandangan dan orang miskin, menyerukan kebaikan menjauhi riba, memasyarakatkan hijab dan membaca Al-Qur'an, tanpa pernah khawatir akan hidupnya sendiri.

"Tidak, saya tidak mau merepotkan saudara-saudara saya. Mereka memang sudah mapan. Tetapi saya tak mau membebani mereka. Mereka sudah punya keluarga masing-masing untuk diurus. Biarlah saya menyibukkan diri dengan pekerjaan saya sekarang. Menyibukkan diri dengan Tuhan saya. Mengisi hati dengan cinta pada-Nya. Saya puas saya sudah bisa keluar dari doktrin lama orang tua saya tentang kehidupan ideal menurut mereka, dan bisa menjalani hidup saya sesuai keinginan saya. Seandainya pun saya diijinkan untuk membina keluarga saya sendiri kelak, saya pun tak akan mendidik anak-anak saya seperti orang tua saya mendidik saya. Saya berterimakasih pada orang tua saya karena mereka telah membuat saya jadi seperti ini, tetapi saya tak akan menerapkan cara mereka dalam mendidik anak-anak dan membina rumah tangga."

Itulah Leona kini. Begitulah cara pandang Leona pada kehidupan. Baginya, #MemesonaItu bukan lagi seperti apa yang dulu ditanamkan padanya. Tetapi, #MemesonaItu adalah bisa menjalani hidup seperti apa yang diinginkan. Tidak perlu mengikuti norma kebanyakan bila itu tidak sesuai dengan hati nuranimu. Tidak harus terpaku pada nilai-nilai duniawi. Bagi Leona, #MemesonaItu adalah hati yang terang oleh hidayah, rasa yang dipenuhi cinta pada sesama dan Tuhan, semangat yang membara untuk berhijrah menuju kebaikan, konsistensi yang tak kenal lelah untuk berdakwah, menyeru pada kebaikan, dan tujuan yang tak terbelokkan oleh gemerlap kilau dunia. Bagi Leona, #MemesonaItu adalah berjalan menuju surga bersama sebanyak mungkin sahabat yang disayanginya. Lepas bebas dari penindasan dalam segala bentuknya.