Memesona Itu Ketika Semua Mimpi Dipeluk Sang Pencipta

by roikhatuz zaroh IIDN / 06 April 2017

Ini kisahku, kurang lebih dua puluh tahun yang lalu. Cerita semasa kecil tentang sebuah impian dan cita-cita. Layaknya seorang anak yang masih polos dan lugu, segudang impian dan angan pun dikantonginya. Ingin jadi ini ingin jadi itu, semua begitu mudah untuk diucapkan dan lepas  untuk diekspresikan tanpa berpikir bagaimana cara mencapainya.

Layaknya anak kecil lainnya, dulu ketika masih duduk di Taman Kanak-kanak tentu sering ditanya “Besuk kalau sudah besar ingin jadi apa?” masih teringat dengan jelas pertanyaan ini sering aku dengar waktu itu. Entah hanya untuk menggoda ataupun memang mereka ingin bertanya. Pertanyaan yang sering aku dengar dari orang-orang dewasa di sekitarku. Dari ibu bapak, nenek, paman dan guru sekolahku. Bahkan pertanyaan ini juga sering diajukan oleh anak-anak seusiaku pada teman-temannya. Aku sendiri pun kalau ditanya tentang cita-cita, ingin jadi dokter atau guru adalah jawaban yang paling enteng, mudah dan rata-rata jawaban anak kecil lainnya. He ... cita-cita yang teramat polos, tanpa mengerti hakekat jadi dokter atau guru itu seperti apa.

Aku yang dulu masih duduk di taman kanak-kanak tidak begitu mengerti akan sebuah cita-cita dan impian. Yang saya tahu hanyalah ingin jadi apa? Termasuk ketika ditanya “Ingin naik kelas atau tinggal kelas.” Masih teringat di angan suasana kelas waktu itu begitu sunyi, tak ada suara yang berkeliaran dan nampak menegangkan. Yang ada hanyalah suara sang komando kelas. Pertanyaan yang sama pun selalu diulangi dan setiap anak tak bisa lepas dari pertanyaan itu. Aku sendiri bingung dan tak mengerti harus jawab apa atas pertanyaan itu. Takut salah menjawab, itulah yang terbesit dalam anganku. Dan sayangnya aku pun berkata “Tinggal kelas saja” tanpa tahu arti dan maknanya. Heuuh ... enggak menyesal jawab yang ini karena rata-rata pendidikan di usia TK kan memang dua tahun. Meski ada juga yang cuma satu tahun saja. So, memesona itu tatkala jujur menungkapkan isi hati tanpa banyak berpikir ala anak-anak.

Bertambah usia bertambah pula kemampuan berpikir. Kalau dulu di TK ditanya ingin jadi apa? Jawabannya itu dokter atau guru, sekarang masuk di tingkat sekolah dasar jawabannya sudah beda lagi. Kali ini cita-citaku berubah tak ingin jadi dokter atau guru lagi, namun ingin jadi pemain bulu tangkis. Hihihi ... dasar pemikiran anak-anak. Mungkin waktu itu aku terpesona dengan penampilan Susi Susanti yang memesona itu. Dan yang paling memesona itu ketika ganda putra Chandra Wijaya dan Tony Gunawan meraih juara di olimpiade 2000. Amazing dan mampu membangkitkan rasa nasionalisme dan merasa bangga dengan mereka yang berhasil mengharumkan nama bangsa. Sampai-sampai keinginanku yang ingin seperti mereka aku ungkapkan di depan sang guru. Aku tak tahu apa yang dipikirkan oleh guruku setelah aku mengutarakan keinginanku, yang jelas beliau berkata “Kalau kamu suka bulu tangkis dan memang ingin seperti mereka, datang saja ke lapangan di belakang rumah, bawa raket dan suttlecock.” Aku yang setengah terkejut kala itu pun langsung melakukan apa yang diminta Bapak guru. Sejak itu pula hampir setiap sore aku berlatih badminton bersama beliau sampai beberapa waktu yang aku sendiri juga lupa untuk mengingatnya.

Sebagaimana memesona itu menurut versi saya ketika semua mimpi dipeluk Sang Pencipta. Dari ketiga impian tersebut, mimpi menjadi gurulah yang terwujud. Dan dari sinilah semua mimpi baru dimulai sesuai jalannya masing-masing. Lambat laun aku pun mengerti akan arti sebuah mimpi, cita-cita dan harapan.

Ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama tepatnya di kelas tiga tanpa sengaja aku membaca sebuah kata “Akuntan” yang terpampang di jendela kantor. Aku merasa kata itu keren dan seketika itu pula aku berpikir jadi akuntan itu mungkin enak, kerjanya di kantor, duduk manis depan komputer, pakaiannya bagus, rapi dan tentunya keren. Kata “Akuntan” ini menggambarkan sosok yang briliant dalam anganku. Suatu pandangan yang masih dinilai dari fisik semata.

Berbeda dengan keinginan menjadi sosok akuntan semasa SMP, cita-cita dan impian itu berubah dengan seiringnya waktu. Kali ini tepat di masa orientasi siswa sekolah menengah atas cita-citaku ingin jadi seorang penulis. Tanpa sengaja aku melontarkan kata itu ketika sang kakak kelas bertanya “Apa cita-citamu?” penulis. Ya aku jawab penulis. Mungkin saat itu pikiranku terpengaruh oleh karya-karya Kahlil Gibran dan Andrea Hirata. Aku suka sekali membaca karya-karya mereka. Aku yang selama ini enggak begitu suka membaca novel dibuat bertekuk lutut membaca karya novel Andrea Hirata, ontologi laskar pelangi. Keempat novel itu bagiku sungguh memesona. Mampu menggerakkan imajinasiku secara liar. Inilah pertama kali aku melahap sebuah buku yang bergenre novel. Saat itulah aku mulai mengenal sosok penulis Asma Nadia Indari Mastuti Kang Abik dan masih banyak lagi. Mimpi yang terus berubah, I like it and I wanna be like them.

Dari semua perjalanan impian dan cita-citaku yang memesona itu, saat sang Rabb memeluk semua mimpi-mimpiku. Tak tanggung-tanggung ketika masih kuliah pun aku sudah menjalani profesi menjadi akuntan kecil-kecilan alias staff administrasi selama enam tahun. Meski enggak jadi akuntan betulan, menjadi seorang kepala administrasi bagiku merupakan jelmaan dari seorang akuntan. Bersamaan dengan itu pula aku diberi kesempatan untuk mengajar. Ya Allah ya Rabb terima kasih engkau telah memberiku kesempatan untuk merasakan nikmat menjalani profesi ini.

Beberapa tahun kemudian setelah menikah dan mempunyai seorang anak, aku tak mampu lagi menjalani dan menjaga amanah untuk kedua profesi ini. Di rumah dan mengasuh anak dengan tanganku sendiri menjadi pilihan terbaikku. Ya memilih bekerja dan membangun karir dari rumah. Dan dari sinilah karir menulisku dimulai dan berkembang. Bersinergi dengan komunitas orang-orang yang suka menulis, membuat diri ini merasa jalan membangun karir di dunia penulisan terbuka lebar. Dan saat inilah mimpi ketika SMA aku jalani. Tuhan menunjukkan jalannya. Memberikan penunjuk jalan untuk mewujudkan mimpi menjadi seorang penulis semasa SMA, Internet marketer dan dosen ketika kuliah.

Amazing dan memesona itulah yang ada dipikiran dan hatiku. Satu demi satu Tuhan memeluk mimpi dan menunjukkan jalannya. Aku sungguh sangat bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk menikmati menjalani semua mimpi dan cita-cita.

Tak ada yang kebetulan di dunia ini, yang ada hanyalah kolaborasi antara kesempatan dan kesiapan. Semua sudah terencana dan tersistem olehNya. Tak ada yang sia-sia dan tak ada yang Ia kehendaki tanpa maksud. Dari semua kisahku, Tuhan tanamkan bahwa kita harus belajar menghargai semua profesi tak ada yang kekal dan tak ada mana yang lebih baik. Terbaik dihadapanNya adalah mereka yang bertakwa. Mau menghargai dan mengambil hikmah dari nikmat yang telah diberikan. Yuk ah, kita cintai profesi kita masing-masing, tanpa keluh kesah dan harus tetap amanah. Insyaallah memesona itu akan terpancar dari dalam diri lewat ketulusan dan keikhlasanmu. Yuk ... ceritakan arti memesona itu menurutmu?