#MemesonaItu Berani Keluar Dari Zona Nyaman

by Wahyu Tri Lestari / 05 April 2017

Dear Apak,

Apak...tahukah Apak akan perasaanku saat ini?. Aku takut pak,takuttt sekali hingga aku tak berani menghadapi setiap pergantian waktu dari detik,menit,jam dan hari. Apak,aku takut hari dimana kita harus memenuhi panggilan itu ????. Tak ada sesuatu hal pun yang bisa menguatkan aku,tak ada hal positif yang bisa menyemangati diriku sendiri. Aku merasa marah pada keadaan,ya Tuhan bukan berarti aku marah pada takdirMu. Mungkin aku belum bisa sepenuhnya menerima keadaan ini. Keadaan dimana aku harus melakukan hal yang tak pernah aku inginkan. Bisakah aku menghadapi tiap detik bergulirnya waktu ini pak?. 

Apak,maafkan aku yang tak pernah bisa membuatmu jatuh cinta. Maafkan aku yang telah merebut hidupmu. Dan maafkan aku juga yang selalu meminta  hal yang berlebihan. Sungguh aku sayang Apak dengan berjuta kekurangan mu. Aku tak pernah bisa tak memikirkanmu.

Entahlah Pak..aku ingin bersembunyi dimana waktu tak berjalan linear. Aku ingin melompat melewati dimensi antar waktu,menggerus rasa cinta ini membiarkannya hancur menjadi  debu-debu galaksi, agar tak menghadapi hal-hal yang tak aku inginkan ini.

Apak,aku ingin menghargai setiap detik waktu kebersamaan kita. Aku tak tahu,kapan semuanya akan berakhir. Aku tak sanggup memikirkannya.


Yang mencintaimu,



Ayu.


Surat diatas adalah surat dariku untuk suamiku  dikala aku menanti panggilan dari Pengadilan Agama atas gugatanku kepada suami yang sangat aku cintai.

Tak ada yang tak ingin memiliki kehidupan pernikahan yang menyedihkan. Begitu pula denganku, yang selalu berharap pernikahanku dengan pria yang sangat aku cintai akan bahagia hingga akhir hayat. Tapi kenyataan berkata lain,mungkin hanya 3 tahun aku merasakan indahnya pernikahan. Sakit hati ini kala suamiku tak lagi memiliki hati untukku,dia tak lagi mencintaiku. Bukan karena ada wanita idaman lain,saya tahu betul dia tidak pernah menghianatiku. Ini masalah hati. Hatinya telah membeku kepadaku. Tetapi disisi lain,dia masih menafkahi aku dan anak kamj,dia tak pernah berlaku kasar secara fisik kepadaku,dia sayang dan perhatian dengan anak lelaki kami satu-satunya.

Tapi dia sering pulang malam hanya untuk melampiaskan kekosongan hatinya,dia merasa tak nyaman berada dirumah. Memang bukan kekerasan fisik yang aku dapat,namun kekerasan secara emosional. Bukan aku tak berusaha memperbaiki pernikahan kami, berbagai upaya aku coba semampuku untuk membuatnya jatuh cinta lagi padaku. Tak ada yang bisa mengubah sikapnya terhadapku.

Aku sangat mencintainya,dan aku tidak ingin membuat luka dalam hati anakku karena perceraian kedua orangtuanya. Dan aku hanyalah seorang ibu rumah tangga yang tak berpenghasilan sendiri. Bagaimana nanti jika aku bercerai dan harus menghidupi anak dan diriku sendiri. Itulah beberapa keraguanku untuk mengakhiri pernikahanku. Bahkan aku beranggapan ini adalah zona nyaman saya,karena dengan adanya suami aku bisa memenuhi kebutuhan tanpa bekerja.

Namun,lambat laun aku berpikir. Aku adalah wanita yang juga berhak bahagia,berhak dicintai dan berhak dihormati. Aku tak ingin mengorbankan harga diriku hanya karena berharap pada cinta yang tak terbalas. Memang sulit,tapi apapun resikonya harus aku hadapi. Sulit sekali melepas orang yang kita cintai,melepas pernikahan ini,namun aku harus realistis. Untuk apa mempertahankan pernikahan yang selalu membawa kesedihan bagi kita. 

Banyak perceraian yang terjadi dengan kejadian yang lebih buruk dari yang aku alami. Dan mereka mampu menjalaninya. Perlahan tapi pasti dengan berbekal keyakinan hati dan impian masa depan yang lebih cerah,aku beranikan untuk mengajukan gugatan cerai kepada suami. Suami yang masih sangat aku sayangi. Untuk menghidupi diriku sendiri,kini aku bekerja freelance sebagai tenaga administrasi di kantor pengembang data. 

Memang ini keputusan yang teramat berat bagi saya. Aku belum memiliki pekerjaan tetap,aku takut tak mampu menafkahi anakku. Tapi aku yakin,bila niat kita tulus berjuang demi anak maka akan selalu ada jalan. Aku tak akan pernah berhenti berusaha, semua demi masa depan anak tercinta. Banyak wanita single parent yang mampu,mengapa aku tak mampu.

#MemesonaItu berani keluar dari zona nyaman. Zona yang membuat kita terbuai akan kemudahannya hingga kita mengorbankan harga diri dan kebahagiaan yang sejati.