#MemesonaItu Tampil Berani dan Tangguh Mendampingi Suami Tercinta

by Yeti Nurmayati / 05 April 2017
Kami adalah keluarga yang sering berpindah-pindah tempat tinggal mengikuti tugas suami. Terpisah dari keluarga besar adalah sebuah pilihan yang sangat berat buat saya pribadi yang tidak pernah jauh dari rumah. Tetapi demi mewujudkan keluarga yang bahagia, harmonis dan sejahtera saya rela melakukannya. Saya berkomitmen kemanapun suami pergi saya harus ikut. Meskipun ada pihak-pihak yang kadang menyayangkan keputusan yang telah saya ambil itu.
Pada umumnya mereka yang “nyinyir” adalah ibu-ibu yang mempunyai pikiran sempit, yang menganggap saya ini seorang yang berpendidikan tinggi namun gagal karena tidak kerja kantoran. Prinsip saya ketika seorang wanita menikah, dia harus hidup bersama-sama. Tampak tidak lucu ketika sepasang manusia menikah, suami tinggal di kota berbeda dengan segala kerja kerasnya untuk menghidupi keluarga sedangkan istrinya tinggal di kota lain dengan kesibukannya juga. Lalu dimana  letak pernikahannya?
Memang tidak mudah menjalani hidup berpindah-pindah rumah. Ribet, menguras tenaga dan pikiran juga materi tentunya. Belum lagi mengurusi masalah kepindahan sekolah anak-anak yang tidak bisa semau orang tuanya, apalagi anak saya yang paling besar dia sudah mempunyai kriterianya sendiri untuk pemilihan sekolah. Mending jika pindahnya ke kota besar dengan fasilitas yang memadai, nah yang menjadi masalah ketika pindahnya ke kota kecil yang fasilitasnya kadang terbatas. Dikarenakan suami saya yang sangat sibuk mengurusi urusan kerjanya, semua hal kepindahan dan lain-lainnya termasuk masalah sekolah anak-anak saya yang handle.
Memiliki suami yang sibuk jelas tak memberikan peluang buat saya untuk bekerja keluar rumah. Saya mengalah untuk kebaikan rumah tangga kami dan sebagai persembahan ketaatan saya kepada Tuhan YME. Sebagaimana fitrahnya istri adalah pendidik pertama anak-anak, mengurus rumah tangga dan menjaga keharmonisan rumah tangga. Saya sadar saya adalah jantung di rumah kami, jika saya tak memperdulikan kewajiban saya, maka alur kehidupan rumah tangga kami akan bermasalah.
Saya bertindak sebagai suami juga ketika suami tak bisa ikut untuk bakti sosial, mengantarkan anak laki-laki ke mesjid untuk berjamaah, mengurus rumah tanpa bantuan asisten, mengajarkan anak saya mengaji, menghapal, dan mendisiplinkannya. Suami saya bukan tak mau memerankan fungsi dirinya, tapi memang situasi dan kondisinya yang membuat dia tak mempunyai banyak waktu untuk itu. Saya harus memerankan tugas itu semaksimal saya, supaya anak-anak tetap mendapatkan pendidikan dan pendampingan terbaik dari orang tuanya.
Bahkan ketika kami harus hidup terpisah untuk beberapa bulan ketika saya barusan melahirkan anak ke dua kami. Suami saya training selama 10 bulan di kota sebelah. Dia pulang seminggu sekali. Dan saya harus mengurus satu bayi dengan 1 balita juga. Bagaimana rasanya? Sangat amazing..! tahulah bagaimana mengurus bayi baru lahir ditambah dengan kakaknya yang belum mandiri juga. Saya paling tidak ingin merepotkan kedua orang tua, biarlah mereka istirahat dan beribadah dengan khusyuk di usia senjanya. Semua saya lakoni dengan ikhlas dan sabar, alhamdulillah semua telah berlalu dengan baik.
Resepnya cuma satu, sebagai ibu dan istri yang repot pun tetap harus punya me time yang membahagiakan. Saya hobi menyanyi, dengan karaoke di rumah saya sangat terhibur. Saya juga hobi menulis cerita, dengan mengirimkan cerita kita ikut kompetisi atau sayembara yang diselenggarakan penerbit buku dan hasilnya memuaskan, wow itu adalah pelecut semangat ibu rumah tangga macam saya. Saya juga menulis artikel di blog saya, in sha Allah dalam waktu dekat tulisan saya akan dibukukan bersama dengan tulisan teman-teman satu kompetisi yang diadakan oleh salah satu penerbit buku. Banyak hal positif yang saya lakukan di sela-sela kerepotan saya, dengan berdagang online, belajar merajut, ikut training-training online, bergabung bersama komunitas online yang positif alhamdulillahsemuanya menjadi lebih terang benderang, jauh dari kepenatan.
Menjadi ibu rumah tangga yang seutuhnya tidak berarti kita kehilangan kesempatan untuk berkembang dan berprestasi. Saya telah membuktikan bahwa stay di rumah tak selamanya membosankan. Saya berkreasi, saya bahagia dan berdmpak pada kehidupan suami dan anak-anak saya. Suami selalu semangat bekerja dan anak-anak saya tumbuh menjadi anak-anak yang bahagia pula. Saya akan selalu tersenyum dan memancarkan pesona saya untuk orang terkasih yg ada di sekitar saya. Maka tunggulah pesona saya selanjutnya.