#MemesonaItu Adalah Pengorbanan Akan Perjuangan Yang Haq

by Nur Rasyidah Pirkas IIDN / 05 April 2017
"Memesona itu sesuatu yang membuat takjub akan perjuangan dan pengorbanan nya akan al Haq. Hanya dengan melihat dan mendengar kisahnya terpancar aura keshalihan yang membahana. Seperti ada nur qalby Ilahiyah yang sedang mengelilinginya"

Layaknya Khadijah binti Khuwailid. Istri Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam yang begitu agung nan bersahaja. Sosok muslimah yang memancarkan pesona keshalihan yang tiada tara. Beliau seorang Istri yang begitu mencintai Allah dan Rasul-Nya. Salah satu bukti kecintaan beliau adalah beliau rela menyedekahkan seluruh harta kekayaan yang dimilikinya untuk kepentingan agama al Haq ini, hingga tak ada satu pun yang tersisa. Dua pertiga kekayaan kota Mekkah saat itu adalah milik Khadijah radhiallahu’anha, dan semuanya untuk kebutuhan menyeru manusia untuk kembali ke jalan Allah subhanahu wata’ala. Bahkan ketika beliau Khadijah radhiallahu’anha wafat, beliau hanya mengenakan pakaian yang amat lusuh dengan delapan puluh tiga jahitan dan tambalan, satu diantara tambalan itu adalah dengan kulit kayu. 

Suatu ketika, sang suami Rasulullah Muhammad shallallahu’alaihi wasallam datang kepada beliau radhiallahu’anha dengan keletihan di wajahnya akan dakwah yang begitu berat kepada umat manusia. Sembari memindahkan Fatimah putri mereka dari pangkuan Khadijah ke pembaringan, maka bergantilah suami beliau Rasulullah merebahkan kepalanya ke pangkuan Khadijah. Sambil membelai dengan belaian yang mesra, sang istri pun menangis tanpa suara hingga meneteslah air matanya ke pipi sang suami. Sang suami pun merasakan buliran air mata itu di pipinya lalu berkata, “Wahai Khadijah, Mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad?". 

"Dahulu engkau adalah seorang wanita bangsawan, dahulu engkau mulia dimata mereka, dan dahulu engkau seorang hartawan. Namun sekarang engkau telah dijauhi dan dihina orang. Seluruh harta kekayaanmu telah habis. Adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad?” Lanjut sang suami bertanya.

Namun apa jawaban dari sang istri Khadijah radhiallahu’anha, “Wahai suamiku, Muhammad Rasul Allah. Bukan itu yang kutangiskan. Dahulu aku memiliki kemuliaan, namun kemuliaan itu aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku punya kebangsawanan, namun kebangsawanan itu aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan dan seluruh harta kekayaan itu pun telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini". 

Beliau Khadijah radhiallahu’anha pun melanjutkan,"Wahai Rasulullah, sekiranya aku telah mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai...".

"Sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah lautan. Sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah sungai sedang engkau tidak menemukan rakit atau pun jembatan, maka engkau galilah lubang kuburku dan engkau ambillah tulang belulangku. Jadikanlah tulang belulangku itu jembatan untuk engkau menyeberangi sungai, untuk menyeru mereka umat manusia. Ingatkanlah mereka akan Allah. Ingatkanlah mereka akan al Haq. Ajaklah mereka kepada Islam. Wahai Rasulullah", ungkap Khadijah radhiallahu’anha kala itu dengan mata sembabnya.

Kemudian sang suami Muhammad shallallahu’alaihi wasallam pun terbangun dari pangkuan sang istri, melihat keikhlasan istrinya Khadijah yang begitu agungnya membuat beliau terharu dan mendekap erat sang istri. Seorang suami yang agung dan seorang istri yang agung. Keduanya saling berpelukan sambil menangis karena memikirkan agama ini. Tidak ada seorang wanita pun yang bisa dibandingkan dengan Khadijah binti Khuwailid. Pengorbanannya yang begitu amat besar terhadap Allah dan Rasul-Nya tersebut.

Seperti pula sosok Asiah binti Muzahim. Sosok muslimah yang memesona karena pengorbanan yang ia miliki. Namanya begitu agung dan dikenal sejagad raya karena keshalihannya yang membahana. Ya, beliau adalah istri dari seorang fir'aun yang terkenal akan kesombongan luar biasa. Asiah, seorang ratu Mesir kala itu rela mengorbankan pangkat, kedudukan dan martabat dengan harta yang bergelimang demi ketuhanan yang Maha Esa. "Tiada Tuhan selain Allah", ungkapnya kala itu dihadapan sang suami yang menganggap dirinya sebagai Tuhan. Baginya harta di dunia bukanlah apa-apa di banding dengan istana di syurga. Dan ketika beliau hendak dihukum mati oleh sang suami, Asiah binti Muzahim sembari menengadahkan wajahnya ke langit dan bergumam, "Ya Rabb, Tuhan penguasa langit dan bumi. Harta dan kedudukan di dunia tak ada nilainya di hadapanku. Hanya Engkaulah satu-satunya Rabb yang aku sembah. Untuk itu bangunkanlah untukku istana di Syurga".

Lihatlah, bagaimana pengorbanan Khadijah binti Khuwailid dan Asiah binti Muzahim. Sungguh pengorbanan yang begitu indah nan haru. Sangat memesona nan menggebu syahdu untuk bisa megikuti jejak-jejak mereka. Rela mengorbankan segala-galanya untuk perjuangan agama yang Haq.