SAAT MENDAKI GUNUNG MEMBUATKU JADI MEMESONA

by Kamilah Kinanti / 04 April 2017

Adalah naluri semua perempuan ingin tampil memesona. Pesona, biasa diartikan sebagai daya tarik dari sesuatu yang indah dalam bentuk dan buatannya, tetapi bukankah terlalu sempit jika pesona hanya dimaknai pada rupanya saja? Dalam tulisan pendek ini kita akan membaca kisah singkat, tentang saya dan kamu yang sama-sama merangkai definisi pesona diri kita. 

Pertama, mari kita bersepakat bahwa #MemesonaItu bukan hanya saat orang lain memberi pengakuan atas fisik kita, memesona adalah ketika kita sendiri terpikat saat bercermin dan bersikap; pesona cantik luar dan dalam. Terkadang pula pesona butuh momentum. Ada andil alam, situasi, emosi, maupun orang yang membuat pesona kita jadi lebih kuat dari biasanya. Saya percaya diri untuk mengatakan bahwa saya telah menemukan kecantikan yang #MemesonaItu ketika saya mendaki gunung. 

Pesona "si gadis pendaki" itu dimulai oleh suatu kegelisahan hati. Kita tentu pernah merasakan fase hidup sejuta umat yakni masa pencarian diri, berkelana mencari apa yang sejati. Dulu pun saya menghabiskan hari-hari dengan berusaha mencari jawaban siapa saya, untuk apa saya diciptakan. Sepanjang hidup saya mengenal diri sebagai gadis yang kukuh berjuang untuk target-target masa depan, yang memaksanya untuk terus berlari. Sampai pada suatu titik saya dan mungkin juga kamu tersiksa dengan target-target dan definisi hidup "normal" yang kita bangun sendiri. Rasa lelah dan gelisah itu membawa dampak tidak hanya bagi jiwa, tetap juga raga. Setiap kali bercermin, yang terlihat adalah wajah yang lelah dan layu.

Ya, kita sama. 
Kita pun sudah sama-sama tahu jalan keluar dari pergulatan batin yang membuat kita semakin tak memesona: temukan dahulu bahagia, memesona kemudian.

Adapun tentang bahagia itu, saya akan sedikit berkisah lagi.


Tahun itu menjadi tahun yang berat, target-target dan pertanyaan hidup itu sudah membatasi ruang gerak, membuat udara terasa berat untuk dihirup. Maka, setelah melalui perang batin yang panjang, saya membuat keputusan besar untuk melepaskan ikatan-ikatan yang saya buat, baik itu target hidup, pekerjaan, dan organisasi. Saya, seorang yang serba ambisius dan hanya fokus pada target tiba-tiba menelusuri bidang-bidang kehidupan yang semula tak pernah saya jalani, salah satunya yang paling gila adalah mendaki gunung. Ya, kegiatan mendaki tidak pernah ada dalam kamus hidup saya. Bagaimana mungkin kegiatan yang identik dengan kaum adam itu dilakukan oleh seorang perempuan dengan menyiksa diri membawa tas berat, dalam suhu udara yang ekstrem, tanpa makan enak, tanpa tidur layak, dan... tanpa mandi. Dengan mengesampingkan segala rasa takut, saya tetapkan hati untuk mencoba melakukan hal tabu itu.


Semua awal memang tidak mudah, begitu pun saya dan pendakian. Mulai dari meyakinkan orang tua, melakukan latihan fisik rutin, mengorbankan uang tabungan, dan yang paling berat: melawan keterbatasan diri. Meski diawali dengan sejuta cemas, saya lakukan juga pendakian hingga mencapai puncak. Gunung Sindoro jadi saksi bisu ketika saya menginjakkan kaki di tanah yang lebih tinggi dari biasanya. 75 meter menuju puncak Sindoro, saya mampu melampaui batas kemampuan diri. Dari sekian bidang baru yang saya telusuri, pada pendakianlah saya menemukan diri. Ini lebih dari sekedar hobi, ini adalah salah satu kegiatan yang menjadi sumber kebahagiaan saya. Dalam pendakian saya menemukan sebuah dunia baru yang mampu memberikan gambaran tentang siapa saya sesungguhnya; mendaki membuat saya mengenal dan bertemu diri. 



Sejak itu, banyak hal yang berubah dalam hidup saya. Orang-orang mulai menjuluki saya sebagai gadis pendaki. Keterakuan itu tak mampu saya pungkiri memberikan sebuah rasa bangga, tanpa bermaksud jumawa. Semua rasa berakumulasi, melahirkan saya yang baru. Saya menjadi seorang gadis yang lebih ceria, penuh rasa syukur, dan bahagia.

Pada akhirnya siapa yang mencari pasti menemukan. Jika kita telah menemukan kebahagiaan itu, maka kurang memesona apa lagi kita?