Memesona Sepanjang Masa

by Rizki Ika Sahana / 02 April 2017

Di suatu siang yang cerah dan syahdu, si Princess menghampiri saya dengan senyum mengembang sembari memperlihatkan baju dan kerudung baru yang dipakainya. Semuanya serba pink!

nibras pink3“Umi, aku cantik ga?”, tanyanya.

“Wow, cantiiiikkk.. MasyaAllah..!!” Saya berseru, memandangnya penuh binar, kemudian segera memeluk dan menciumnya ????

“Kakak makin cantik kalau menutup aurat, berkerudung dan berjilbab seperti ini.. Dan, tambah cantik lagi kalau beramal shalih!” lanjut saya..

By the way busway (hehee), tampil cantik itu memang memesona. Iya apa iya??? Bukan hanya orang dewasa, hampir setiap anak perempuan pun memimpikannya: menjadi bak putri dengan tubuh indah, paras jelita, plus bergaun mewah. Wow, siapa sih yang ga mau? Andai peri dalam buku-buku cerita itu nyata dan bisa mengabulkan segalanya, semua pasti tunjuk jari pingin disulap jadi cinderella. Termasuk kita para emak. Bener apa bener bingits??? Wkwkwkwk..

Supaya ga panjang angan-angan, ada baiknya kita memahami arti memesona dengan benar. Selain membuat kita bahagia menjadi diri sendiri, juga akan memuliakan serta menyelamatkan kehidupan kita. Simak yuk!

Mata hitam, kulit sawo matang, dan rambut ikal yang kita punya (lebih tepatnya saya, hihiii), adalah paten dari Sang Pencipta. Kita diperintahkan merawat dan menjaga dengan sebaiknya sebagai wujud syukur atas nikmat kesempurnaan fisik pemberian-Nya. Bukan meratapinya, menyesalinya, lalu terus mengkhayalkan bentuk fisik lain yang dianggap lebih keren alias eye catching (bermata biru dan berkulit kuning langsat misalnya). Bersyukur lebih menentramkan dan membahagiakan. Sebaliknya, selalu merasa tidak puas dengan penampilan, justru akan membuat hati senantiasa dipenuhi iri, dengki juga kebencian. Sebentar-sebentar sakit hati, sebentar-sebentar bersedih dan menangis.. Hati yang galau, gundah gulana dan jauh dari sikap syukur seperti ini, menurut banyak analisa para pakar, akan menurunkan kualitas kebahagiaan bahkan mengundang berbagai penyakit baik fisik maupun psikis.

Lebih jauh lagi, kegelisahan akan obsesi cantik yang tak kunjung sesuai harapan, mampu membuat sebagian perempuan rela menghabiskan waktu, mencurahkan energi, juga mengeluarkan kocek yang tidak sedikit bahkan terbilang fantastis. Mendorong sebagian perempuan terjerumus pada aktivitas yang sia-sia, bahkan membahayakan jiwa.

Ini bukan isapan jempol. Banyak fakta para perempuan mengejar penampilan sempurna kita jumpai merata hampir di seluruh negara, bahkan di negara-negara Barat yang diklaim sebagai negara maju sekalipun. Kesehatan yang demikian berharga tak lagi menjadi pertimbangan dan prioritas perempuan-perempuan ini demi bisa eksis. Yang terpenting bisa cantik dan memesona (versi mereka). Contohnya melakukan oplas yang beresiko tinggi maupun diet ekstrim yang mengancam nyawa. Miris ya..

Padahal, memesona itu bukan melulu tampilan fisik, tapi juga pemikiran dan perilaku yang baik. Buktinya, banyak perempuan cantik dicela juga dihujat di jaman ini karena buah pikir dan aktivitasnya yang tak pantas bahkan mengundang bencana. Sebaliknya, tidak sedikit perempuan dipuja serta dikenang karena gagasan, sikap, dan perjuangannya yang penuh dedikasi dan menginspirasi.

Para perempuan srikandi seperti sahabiyah Nusaibah binti Kaab, pejuang kemerdekaan Cut Nyak Dien dan Ibu Kartini, adalah beberapa contoh perempuan memesona sepanjang jaman. Nusaibah dengan iman menghunjam dan segenap keberaniannya melesat ke medan pertempuran serta rela mendapatkan luka di sekujur tubuhnya demi membela Rasulullah saat perang Uhud. Cut Nyak Dien memimpin di garis depan Perang Aceh melawan penjajah Belanda. Dan R.A Kartini dengan gigih dan tanpa kenal lelah memperjuangkan pendidikan yang berkualitas bagi kaumnya.

Karenanya, sekedar cantik bukanlah patokan. Akal yang cerdas dan perilaku yang bijak justru lebih memesona, menjadi magnet kuat bagi perubahan menuju kemuliaan hidup dan keselamatan peradaban.

So, #MemesonaItu adalah menghiasi akal dan perilaku dengan banyak kebaikan dan taqwa. Menghasilkan gagasan-gagasan cemerlang yang solutif, melahirkan karya-karya berkualitas sekaligus berkelas bagi peradaban yang lebih baik, memberi masukan-masukan kritis yang membangun bagi para pemimpin, menyumbangkan ide-ide kreatif dan fundamental untuk menyelesaikan persoalan negeri, daaaannnn banyak lagi!

Pilihan ada di tangan kita: hendak menyibukkan diri untuk sekedar mempercantik penampilan yang sama sekali tidak akan ditanya serta diminta pertanggungjawabannya di hadapan Sang Pencipta kelak, atau serius berupaya meng-upgrade kualitas diri (kualitas daya pikir dan amal) yang akan membawa kemaslahatan bagi umat manusia dan membentangkan jalan luas ke surga- Nya.

Untuk Princess umi shalihaat, ingat ya sayang, jangan salah pilih! Karena setiap pilihan punya konsekuensi. Selamat memesona yaaa, cantiiiik..! ????