#Memesona itu Berbeda

by Anna Marie Happy Handayani / 02 April 2017

Sebenarnya apa definisi memesona? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) #memesona itu berarti sangat menarik perhatian atau mengagumkan. Sedangkan dalam masyarakat kita, kata memesona sebelumnya sering diikuti dengan kata cantik alias cantik memesona seperti tagline produk kosmetik.

Dalam masyarakat kita, cantik berarti bertubuh tinggi dan langsing, berkulit putih, berambut panjang dan lurus, juga selalu mengenakan pakaian yang feminin. Perempuan cantik juga tidak lepas dari definisi dia yang pandai berdandan.

Ternyata, definisi cantik memesona bukan lagi sekedar penampilan fisik, tetapi juga inner beauty dan kecerdasan. Sebut saja kontes-kontes kecantikan di Indonesia hingga dunia yang mengutamakan beauty, brain, dan behavior. Artinya, percuma saja perempuan itu cantik tetapi tidak pintar atau memiliki sikap yang buruk. Misalnya saja, dia cantik tetapi sombong, judes, dan sering melanggar aturan.

Baiklah, itu definisi memesona yang ada dalam masyarakat kita. Tetapi, bagaimana bila seorang perempuan tidak memiliki definisi seperti yang ada dalam pikiran masyarakat kita? Apakah dia tidak layak disebut memesona.

Sebagai contoh, ada seorang perempuan berusia 30 tahun. Secara fisik perempuan ini bertinggi badan 150 cm dan berat badannya 50 kg. Bisa dibayangkan kan bagaimana bentuk fisik perempuan itu?

Perempuan itu tidak suka pakai rok, kecuali benar-benar dibutuhkan. Sehari-hari dia senang mengenakan celana pendek dan kaos. Sesekali dia mengenakan celana panjang bila harus menghadiri acara formal. Wajahnya polos karena tidak suka berdandan. Baju yang dikenakan pun bukan baju bermerk dengan harga selangit. Bahkan, kadang-kadang dia mengenakan baju lungsuran pemberian saudara-saudaranya.

Itu baru penampilan luarnya saja. Perempuan ini juga terkenal sebagai perempuan yang keras kepala, judes, dan kadang-kadang sombong. Dia perempuan yang sangat moody. Bila moodnya sedang baik, dia menjadi perempuan paling baik di dunia yang siap membantu siapa saja. Tetapi bila moodnya sedang buruk, harimau dan buaya pun takut kepadanya.

Parahnya lagi, perempuan ini sudah tujuh tahun menjomblo setelah putus dengan pacarnya di usia 23 tahun. Jangan-jangan pacarnya tidak betah punya pacar judes dan galaknya minta ampun. Mungkin itu yang ada di pikiran banyak orang.

Pertanyaannya, apakah perempuan dengan definisi di atas bukan perempuan yang memesona? Menurut saya tidak. Baik saya ceritakan lanjutan kisah perempuan itu.

Setelah tujuh tahun menjomblo, seorang pria datang mendekatinya. Tak berapa lama mereka pun jadian. Menurut pria yang mendekatinya, sama yang seperti kebanyakan orang bilang, perempuan itu judes, galak, sombong pula. Selama pacaran pun mereka sering bertengkar.

Menurut sang pria, hal yang menjadi penyebab pertengkaran adalah karena perempuan itu memiliki pemikiran yang berbeda dengan perempuan lain. Perempuan itu lebih mengedepankan karier daripada hubungan cinta. Dia juga memilih tidak memiliki anak karena ingin fokus dengan karier. Dia perempuan ambisius yang ingin menjadi penulis buku sekaligus penulis skenario fim terkenal.

Lalu, mengapa pria itu masih mempertahankan sang perempuan yang berbeda itu. Menurut pengakuan sang pria, walaupun perempuan itu berbeda dengan perempuan lainnya, tetapi justru pemikirannya yang berbeda dengan perempuan lain. Walaupun sang pria tidak sepenuhnya setuju dengan pemikiran sang perempuan, namun bagi sang pria perempuan itu tetap memesona.

Bagi sang pria, berbeda dengan perempuan kebanyakan, perempuan kekasihnya itu mau menerima dia apa adanya. Perempuan itu bukanlah perempuan yang banyak menuntut. Dia mau menerima kondisi sang pria yang secara ekonomi keluarganya berbeda dengan kondisi ekonomi keluarga perempuan yang berkecukupan.

Walaupun perempuan itu mendapat limpahan materi dari orang tuanya, namun dia tetap perempuan mandiri yang tetap berusaha membangun kariernya dari nol. Walaupun gagal dan sering mengalami penolakan, namun perempuan itu tidak menyerah dan terus berusaha.

Dia perempuan yang tegas yang berani menolak aturan-aturan yang mengekang kehidupannya. Dia berani menjadi dirinya sendiri. Dia juga berani menegaskan kepada lingkungannya bahwa dia tidak salah memilih pria yang belum mapan untuk menjadi pendampingnya.

Walaupun ekonominya berkecukupan, dia mau bergaul dengan berbagai kalangan tanpa membedakan suku, agama, maupun kondisi ekonomi seseorang. Dia perempuan yang berpikiran terbuka dan bisa menerima hal-hal yang selama ini dianggap tabu oleh masyarakat.

Lantas apakah perempuan seperti itu bukan perempuan yang memesona? Menurut saya, perempuan itu tetap memesona dengan segala kondisinya. Karena #Memesona itu Berbeda.