#MemesonaItu Ketika Mata Dipandang Namun Tak Memandang Balik

by Iyut Muzdalifah / 02 April 2017

     #Memesona itu adalah ketika mata dipandang namun tak memandang balik, karena ia tahu di mana posisinya sekarang. Banyak insan manusia di bumi yang sempit ini, kini mulai tak bisa menahan nafsu hanya demi mencari kenikmatan duniawi yang tidak hakiki. Sebenarnya itu semua berawal dari ketertarikan yang ditimbulkan oleh masing-masing pihak, baik oleh para wanita atau para lelaki. Mereka sibuk untuk menghiasi diri hingga tak memikirkan akibatnya nanti. Yang ada dipikiran mereka di era modern ini adalah “Bagaimana orang-orang melihat diriku? Apakah aku sudah memesona?” Begitulah kurang lebih gambaran manusia modern saat ini.

     Tak bisa dipungkiri, kini arti memesona itu berbanding terbalik dengan era globalisasi saat ini. Memesona yang seharusnya menahan nafsu malah disalahartikan menjadi mengumbar nafsu. Siapa sangka, memesona dalam artian mengumbar nafsu tentu saja menghasilkan pemikiran-pemikiran negatif yang menjerumuskan diri kepada dosa. Tak ayal, agama yang sudah menjelaskan dengan tegas untuk menundukkan pandangan dari hawa nafsu malah ditentang balik. Agama mereka seolah hanya menjadi pajangan usang saja. Padahal, agama adalah yang menuntun seseorang menjadi hamba-Nya yang bermanfaat di dunia dan akhirat.  

     Kita hanyalah manusia biasa. Oleh karena itu seharusnya kita memancarkan pesona aura positif dalam kehidupan, agar orang disekitar kita merasa sadar bahwa pesona itu tidak selalu berhubungan dengan fisik. Meski nantinya orang lain akan menganggap diri kita berbeda, namun kita harus menyadarkan mereka bahwa kita tidak menggunakan fisik, jiwa, dan raga untuk mengejar kenikmatan dunia. Akan tetapi kita menggunakan rasio, agama, dan hati secara bersamaan untuk mengejar kenikmatan akhirat.

     Memesona adalah ketika mata dipandang namun tak memandang balik. Karena berawal dari pandangan, maka aurat yang menjadikan diri kita memesona seharusnya kita lindungi dan jaga dengan sebaik-baiknya, seperti rambut yang menjadi mahkota wanita. Bagi wanita muslimah sejati yang tahu aturan dalam agama Islam, tentu mereka tak akan banyak berpikir jika dituntut untuk menjaga diri. Mereka, para muslimah sejati biasanya selalu melindungi diri dengan menggunakan hijab, cadar, dan segala sesuatu yang bisa menutupi auratnya dari pandangan mahluk-mahluk nyata maupun ghaib.

    Popularitas. Itulah yang membuat manusia terobsesi bahkan tergila-gila untuk mengumbar nafsu. Dengan segala cara, mereka gencar mencari popularitas hingga akhirnya merekapun masuk dan tenggelam dalam dunia buruk. Ini semua karena banyak manusia modern menjadikan popularitas sebagai titik acuan melihat seseorang apakah dianggap cantik ataupun tampan, baik ataupun buruk. 

     Jika popularitas terus dijadikan acuan, maka arti memesona yang sebenarnya akan benar-benar tersingkir dan tergantikan. Ya, bagamana tidak! Sekarang ini, kita lihat saja diri kita sendiri, tanyakan pada diri sendiri ‘berapa banyak media sosial yang kita miliki dan berapa kali kita mengumbar foto di dunia maya?’ Tanyakan itu, karena kita pasti tidak bisa menjawab. Sekarang berpikirlah, gunakan rasio pemberian Tuhan yang kamu miliki. Jika kita banyak memiliki media sosial dan sering mengumbar foto yang memerlihatkan aurat kita, maka itu artinya kita sendirilah yang mengundang datangnya orang ketiga (selain diri sendiri dan Tuhan) untuk memandang seberapa memesona diri kita.

     Banyak wanita kini mengalami dilema karena dihadapkan oleh dua pilihan yang baginya berat, antara untuk memertahankan keimanannya tetapi tidak memperoleh popularitas atau mengabaikan imannya dan mendapat popularitas. Di sini sebagai seorang wanita, tentunya kita harus memilih untuk tetap memertahankan keimanan meski tidak mendapatkan popularitas. Kita memilih itu karena memiliki alasan kuat yaitu karena popularitas kita bukan datang dari manusia, tetapi dari Tuhan. Oleh karena itu, kita harus mengingat bahwa memesona adalah ketika mata dipandang namun tak memandang balik. Maka dari itu, kita patutlah bersyukur karena diri kita sudah dijaga dari pandangan-pandangan buruk.