#MemesonaItu Berani Menyinari Redupmu

by Lidha Maul KEB / 02 April 2017

Ada jarak yang malang melintang diantara saya dan mereka. Saya melihat jarak itu sebagai susunan yang tercipta begitu saja, adakalanya jarak itu terlihat bagai anak tangga yang menghadang. Saya tahu itu awalnya saya menilai jarak itu. Kian lama, saya memahami bahwa sayalah yang menciptakan jarak itu. Berawal dari definisi saya, jarak yang melintang itu terasa nyata.

Saya percaya saya selalu punya kekurangan. Saya selalu percaya kekurangan saya menjadi hambatan dalam bertindak. Skeptis. Negatif. Itulah saya.

Ah, tentu saja dia bisa punya teman banyak, dia pintar berkata-kata, sedangkan aku tidak.
Tentu saja dia bisa bekerja, dia bukan anak pemalu, sedangkan aku introvert.
Tentu saja banyak yang suka padanya, dia memang cantik dan ceria, sedangkan aku?

Saya juga memendam lebih banyak luka. Secara fisik saya pun tidak setara dengan orang rata-rata yang saya sebut mereka beruntung. Saya menerima setiap umpatan dan megangguk pada setiap kalimat negatif yang terlontar atas diri saya.

Bahwa saya memang tidak kaya, sehingga tidak perlu berpikir untuk kuliah.
Bahwa saya memang tidak rupawan dan tidak mahir bicara, sehingga tidak perlu bermimpi tinggi.

Dan lainnya.

Begitu banyak hal sampai-sampai saya menempatkan diri saya dalam lubang gelap. Lubangnya memang tidak kotor dan pengap, tapi cukup dalam untuk saya naiki. Cukup untuk membuat saya berpikir saya tidak bisa seperti si A atau si B.

Itulah yang saya sebut jarak.

Kemudian,

saya belajar banyak hal. Saya tahu bahwa jarak itu sayalah yang menciptakannya, saya meredupkan diri saya sendiri. Saya tidak punya pesona apa pun, hanyalah sebuah pikiran yang menghambat banyak gerak saya. Saya tidak  memesona, hanyalah potongan dari sudut pandang saya yang keliru. Saya harus mengubah sudut pandang saya. Bahwa sesungguhnya setiap manusia itu memesona. Apa yang disebut kekurangan sebenarnya adalah kelebihan yang memikat. Tinggal bagaimana saya mengemasnya. Bahwa sebenarnya setiap diri itu mengagumkan, termasuk saya.

Lalu,

saya memberanikan diri mengikuti banyak kegiatan. Saya mengikuti teater untuk mengalahkan gemetar dan kikuk saya saat menghadapi orang-orang. Saya beranikan diri menyapa lebih dulu untuk mengenyahkan rasa canggung dan malu berinteraksi. Saya berhasil kuliah di kota yang berbeda, bukan untuk menyetarakan diri saya seperti orang lain, namun untuk memberanikan diri bahwa saya bisa menembus mimpi saya. Saya bekerja dan mengajar untuk lebih berani berhadapan dengan orang-orang baru, untuk meyakinkan diri saya dan mereka bahwa kami sama dengan cara dan rasa yang berbeda. Lewat mengajar pula saya mendapat predikat Guru Teladan. Bagi mereka, saya memesona. Bagi saya, mereka memesona. Saya lebih banyak meluangkan waktu untuk membaca bukan untuk agar serupa seperti A atau B, saya ingin menghasilkan diri yang lebih baik. Saya ingin menyinari diri saya, sesuatu yang cukup lama saya anggap redup. Saya ingin menyinari diri saya, untuk menghargai diri ini, menghargai pemberian Tuhan saya.

Saya menikah, setelah sekian lama bergelut dengan pemikiran siapalah yang mau dengan kekurangan diri iniSaat itu saya menjadi pribadi yang tertutup, menolak segala macam lamaran karena tidak mampu jujur dengan keadaan diri. Ternyata di kala saya mampu menghargai diri sendiri, sekitar saya lebih menghormatinya. Saya belajar menghias diri dari dalam dan luar. Semua itu bukan untuk tampil cantik semata. Ini hanyalah satu cara bagi saya untuk berterimakasih pada tubuh saya yang telah banyak berjuang demi mimpi-mimpi kami.

Hari ini saya telah melepas pekerjaan saya sebagai guru. Kini saya berkutat dengan rumah, keluarga dan segala pernak-pernik yang menghiasinya. Namun, itu tidak membuat saya berhenti memoles kemampuan. Saya belajar menulis lagi, sesuatu yang saya impikan sejak lama. Saya belajar memotret dan bermain grafis, sesuatu yang bagi ibu-ibu di lingkungan sekitar saya terasa asing dan membingungkan. Bagi mereka, saya memesona. Memesona itu tidak larut dalam pujian. Saya hanya ingin terus belajar dan mengembangkan diri. Belajar adalah cara saya menyinari diri, saya tidak ingin redup lalu mati.

#MemesonaItu berani menyinari diri, pada sesuatu yang saya anggap redup. Sesuatu yang saya kira saya tidak mampu, hanya karena saya memiliki keterbatasan, memandang rendah pada diri sendiri dan tidak memiliki sarana-upaya yang sama seperti orang lain. Padahal sesungguhnya, dengan cara yang berbeda saya mampu bersinar.

#MemesonaItu saya, kamu dan siapa pun bisa.


Lidha Maul