#MemesonaItu Seperti Aku, yang Selalu Berubah

by Rizki Karunianti IIDN / 02 April 2017


Hanya membaca judulnya saja, apakah terkesan memuji diri sendiri? Memang iya. Berubah tidaklah mudah, namun ternyata bisa mengalir bagai air yang tanpa kita sadari, berubah itu mudah adanya.


Balada Gadis Muda


Terlahir sebagai anak bungsu dengan segala kemudahan fasilitas hidup, membuatku selalu merasa aman dan nyaman dalam menjalani keseharianku. Hampir tidak pernah merasa khawatir atas kelangsungan masa depanku. Kemudian sampai di suatu titik dimana kegundahan itu mulai menyergap. Menjelang kelulusan SMA, aku mulai risau tentang banyak hal. Bagaimana kehidupan perkuliahan nantinya? Bisakah aku hidup diluar kota, indekos dan jauh dari peluk hangat orang tua? Sesulit apa mengerjakan tugas akhir? Mampukah aku kelak? Dan sederet keragu-raguan yang menggangguku. Perlahan, masa itu kulewati dan Alhamdulillah aku masih baik-baik saja. Kuliah lulus tepat waktu. Sangat stres ketika mengerjakan tugas akhir sampai harus dirawat inap. Hidup indekos kujalani dengan senang hati walaupun berat di awal. Semua harus dikerjakan sendiri, melayani diri sendiri dan mengharuskanku mengatur waktu dengan baik. Sangat bertolakbelakang ketika sebelumnya aku selalu dibantu dan meminta bantuan orangtua dalam banyak hal. Lihatlah, aku #memsona, bukan? Perlahan aku berubah.


Benci Berujung Cinta


Ada hal lain yang mulai kurisaukan setelah menyandang gelar Sarjana Humaniora. Aku akan kerja apa? Dimana? Bagaiman kalau tidak kunjung mendapatkan pekerjaan? Berlatarbelakang Sastra Inggris, banyak yang menyarankanku untuk menjadi tenaga pendidik alias guru, namun sungguh aku tidak tertarik. Entah, aku merasa buta tentang pendidikan dan dunia anak-anak. Hampir setahun menjalani beberapa wawancara kerja yang tidak juga membuahkan hasil positif, akhirnya aku mencoba melamar di salah satu sekolah Islam swasta level internasional. Diterima. Selama dua belas bulan pertama, aku mengajar ilmu sosial sebelum akhirnya benar-benar dipercaya untuk mengajar Bahasa Inggris. Semuanya kumulai dari nol. Berburu ilmu kepada guru-guru senior tentang tips mengajar, berkreasi membuat alat peraga sebagai bahan penunjang pembelajaran dan belajar berorganisasi. Ternyata, yang tak kusadari selama ini adalah aku cukup kreatif dalam mengembangkan ide dan membuat aneka perangkat pembelajaran yang disukai anak-anak. Semua itu juga terinspirasi dari pengajar yang lain. Kujalani profesi formal pertamaku ini selama 4, 5 tahun sebelum akhirnya harus mengundurkan diri. Profesi yang awalnya kubenci namun akhirnya kucinta. Lihatlah, aku #memesona, bukan? Aku bisa berubah.


Tidak Terlambat untuk Dewasa


Kenapa aku harus mengundurkan diri? Ya, karena menikah. Hal yang paling membuatku risau. Risau jika setelah menikah, aku harus jauh dari orangtua. Risau jika karena sebuah pernikahan, aku harus meninggalkan pekerjaanku. Dua kerisauan utamaku itulah yang telah berhasil mengaduk-aduk perasaanku. Karenanya, aku belajar ikhlas untuk melepas yang kucinta dan itu sulit, tapi harus dihadapi. Tidak selesai sampai di sini saja, kegundahan yang lain menyergap tentang peran baruku sebagai istri dan segera, menjadi seorang ibu. Gundah jika aku tidak cekatan mengurus rumah. Gundah jika masakanku enggan disantap oleh suami. Gundah jika menyusui anakku gagal. Gundah jika mengurus anak pun aku tidak sanggup. Alhamdulillah, Allah membantuku menuju kedewasaanku yang sebenar-benarnya di fase ini. Dengan sering bertanya kepada Ibu, sahabat dan internet tentu saja, aku mulai belajar memasak. Aku juga belajar mengendalikan ego dan amarahku yang dulu merupakan sifat burukku. Sifat-sifat itu masih, namun perlahan berkurang karena aku tidak ingin anak-anakku kelak mewarisinya. Sungguh berat karena harus melawan kekurangan diri sendiri dan berdamai dengannya, tapi justru itulah kunci utama dalam pernikahan dan pengasuhan. Oh ya, pencapaian terbesarku selama di dapur, aku membuat stok bumbu merah, putih dan kuning yang menjadikan waktuku di dapur lebih ringkas dan praktis. Lihatlah, aku #memesona, bukan? Aku telah banyak berubah.


Teruslah #Memesona


Apakah keseluruhan cerita diatas memang untuk memuji diri sendiri? Iya, tak apa. Terkadang, diri ini perlu dipuji atas pencapaian-pencapaian yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Dengan menulis cerita inilah, salah satu caraku untuk memuji keberhasilanku akan banyak hal. Aku masih akan terus #memesona, berubah menuju kebaikan dan membuat orang-orang terdekatku selalu terpesona karenanya.