#Memesonaitu Menjadi Diri Sendiri

by Dira Febriana / 01 April 2017


Untuk saya pribadi, menjadi seorang perempuan yang bermatabat tidaklah mudah. Banyak rintangan serta cobaan yang datang lalu lalang. Tanpa kita sadari, kita mungkin sudah terperangkap atau terjerumus pada salah satu cobaan-cobaan itu. Seperti berusaha dan memiliki keinginan kuat menjadi orang lain, terjerumus akan trend-trend dunia yang akhirnya membuat kita tak mengenali diri kita sendiri. 


Remaja Indonesia belakangan ini, menurut observasi saya, sangat sensitif kepada penampilan seseorang, sangat mudah untuk menghakimi dan menilai penampilan seseorang. Satu kata untuk masalah ini, miris. 


Contohnya, saya menonton salah satu video Gita Gutawa di youtube. Kontennya sangat bagus dan berguna untuk orang-orang yang ingin atau berencana masuk ke universitas luar negeri karena Gita memberikan tips-tipsnya. Tetapi yang membuat saya menggelengkan kepala adalah bagian komentarnya yang penuh membahas tentang alis Gita Gutawa yang terlihat tebal. 


Sungguh miris sekali. Apakah kita tidak bisa untuk lebih fokus kepada kontennya? Lebih menghargai konten yang dibahas? Dan jika memang iya terganggu, apakah sudah seharusnya di komentarkan langsung di kolom komentar? 


Menurut saya dengan seperti itu, justru membuat mental seseorang jatuh. Inilah habitat buruk kalangan remaja perempuan Indonesia sekarang, sangat senang berkomentar tanpa berpikir terlebih dahulu, senang berkomentar mengenai fisik seseorang, senang berkomentar penampilan seseorang. 


Stop! Itu akan membuat mental seseorang terganggu, membuat kebebasan seseorang menjadi terbatas, tidak berani untuk tampil beda, tidak berani mencoba sesuatu yang baru, tidak berani keluar dari zona nyamannya dan yang paling parah adalah hilangnya akan percaya diri. 


Dengan banyaknya komentar-komentar seperti itu, membuat percaya diri seseorang mengikis, mengurang dan menjadi tidak berani untuk tampil menjadi diri sendiri. Dengan kata lain akan menjadikan seseorang tersebut budak dunia maya. 


Saya rasa masih banyak komentar yang lebih pantas untuk disampaikan. Seperti memberikan argumen akan kontennya atau mungkin menyampaikan pendapat yang lain. Masih banyak hal positif dan lebih berguna untuk dibahas ketimbang membahas sebuah alis yang terlihat tebal. 


Dunia maya memanglah kejam, tak ada peraturan disana dalam berkomentar, orang lain akan sepuasnya dan sesukanya dalam berkomentar. Tetapi alangkah lebih baik jika kita lebih memanfaatkan teknologi yang semakin canggih ini untuk menambah akan wawasan serta berpikir lebih terbuka dan luas. Toh, menurut saya tak ada ruginya. 


Senangnya saya jika dalam tulisan ini, dapat menyadarkan setiap orang di luar sana yang sering berkomentar akan fisik seseorang, agar merubah jalan pemikirannya. 


Sebuah penampilan serta fisik seorang perempuan memang akan selalu diperhatikan, selalu menjadi sorotan publik, selalu menjadi pusat perhatian. Alangkah indahnya jika perempuan Indonesia dapat menjadi diri sendiri, lebih percaya diri, saling menghargai penampilan seseorang dan meninggalkan habitat lama yang buruk. 


Kepada setiap perempuan diluar sana, saya berpesan janganlah mudah terpengaruh dengan omongan orang lain, janganlah mudah untuk menuruti setiap komentar orang lain, janganlah menjadikan komentar orang lain menjadi beban dalam hidup, janganlah mengubah diri kamu hanya untuk membahagiakan orang lain, jangan mendengar setiap perkataan dan komentar buruk tentangmu dan jadilah diri sendiri. 


Pada akhirnya, kau hanya akan di perbudak oleh dunia maya, kau sudah cantik luar dalam dengan percaya dirimu. Hasil yang kau terima jauh lebih memuaskan, ketimbang kau menuruti dunia maya.


Karena #Memesonaitu bagaimana kita menjadi diri kita sendiri dengan percaya diri menunjukkannya kepada dunia.