#MemesonaItu Terpancar dari Sikap dan Perilaku

by Virgorini Dwi Fatayati / 01 April 2017

Di sebuah bank swasta saat saya duduk menunggu panggilan teller, saya begitu terpesona saat seorang wanita duduk di sebelah saya, busananya begitu rapi, cantik dan nampak dari butik, sepatu dan tasnya juga pas, kulit wajahnya halus mulus disapu make up natural, cara duduknya pelan hingga aroma harum dari tubuhnya menguar pelan, dan yang pasti senyumnya hangat bersahabat. Sungguh, walaupun saya juga wanita, saya takjub dengan penampilan wanita itu karena saya jarang menemukannya. Lucunya saya malah bertanya-tanya, beli di mana ya baju sebagus itu? Dirawat pakai apa sih kok wajahnya bisa mulus dan kinclong seperti itu? Ah, dasar sayanya saja yang sering salah fokus, sampai-sampai sempat terbesit minder karena melihat penampilan diri sendiri yang biasa-biasa saja.

Sebelum-sebelumnya saya sudah sering menemukan orang-orang memesona, bukan sekedar dari penampilan fisiknya, namun justru dari sikap dan perilakunya. Saat masih kuliah saya pernah menjumpai lelaki tinggi besar berpenampilan bak preman menggandeng wanita tua, saat menaiki angkot, tangannya melindungi pintu angkot agar wanita tua itu tidak terbentur kepalanya. Saat di dalam angkot si lelaki hanya manggut-manggut dinasehati wanita tua yang ternyata ibunya itu. Ketika sudah sampai di tujuan, si lelaki turun lebih dulu untuk kemudian menuntun wanita tua itu dan lagi-lagi tangannya melindungi supaya ibunya tak terbentur pintu angkot. Kelihatannya sepele, namun saya sungguh terpesona, bahkan terharu, ibunya yang saya rasa cerewet itu sedikitpun tak disanggah ucapannya oleh si anak.

Ada seorang teman saya yang sering sekali dikata-katai dan dinyinyiri oleh sesama teman saya juga. Penyebabnya sepele, seperti ukuran baju yang kurang pas di badannya, wajahnya yang sering jerawatan atau bahkan saat dia grogi saat presentasi makalah di depan kelas. Saat saya mencoba membelanya, dia malah mencegah, dia bilang sama sekali tidak sakit hati dengan kelakuan teman-temannya itu, macam-macam teori yang disampaikannya, seperti tidak ada yang berkurang sama sekali dari dirinya meskipun sudah dihina, semakin dicaci semakin dia merasa kuat karena sudah kebal, dan bermacam teori lain yang membuat hatinya merasa lapang. Si tukang nyinyir itu tidak tahu saja kalau teman saya ini selalu menghargai pemberian ibunya bagaimanapun bentuknya, dan untuk membeli sesuai ukuran dan seleranya dia tak punya dana, merekapun tak tahu berbagai upaya yang dilakukan teman saya ini agar wajahnya bisa bersih dan bebas dari jerawat. Biasa saja ya kelihatannya? Tapi saya salut dengan ketegarannya, saya terpesona dengan sikapnya yang tetap baik dan tak pernah curhat kalau hatinya terluka karena memang dia merasa biasa saja.

Dulu saya punya teman yang begitu berempati dengan kesusahan orang, dia tidak sekedar membantu secara finansial, namun bersedia tidur di rumah seorang anak yang yatim yang ibunya sedang sakit. Teman saya ini sanggup tidur beralas kasur tipis di rumah kumuh yang banyak nyamuknya, padahal dia anak orang kaya. Menurut saya membantu secara finansial saja sudah cukup, namun dia menolak, dia berada di sana sampai ibunya sembuh dan bisa berjualan lagi kurang lebih sampai seminggu lamanya. Sungguh lagi-lagi saya dibuat terpesona.

Pada saat reuni sekolah kemarin, saya berjumpa dengan teman sekelas yang jadi rebutan anak laki-laki karena kecantikan dan sifatnya yang supel dan humoris. Dari dulu saya agak iri banget sama teman saya ini, bagaimana tidak? Sudahlah cantik, pintar, disayang guru ditambah banyak teman laki-laki yang ‘nembak’ dia. Dan rasa iri itu semakin menyergap  saat saya berjumpa dengannya di media sosial, karena dia sudah sukses jadi dosen, dapat suami kaya dengan rumah dan mobil yang mentereng. Di acara reuni dia membawa teman yang usianya lebih muda, keempat anaknya tak ada yang dibawa. Dan saat ngobrol sana-sini, saya jadi terpesona dengan teman saya yang memesona lahir bathin ini, bagaimana tidak? Wanita muda yang dibawa teman saya ini rupanya adalah istri suaminya! Ya, mereka berdua bersuami sama! Tapi terlihat dari sikap, gerak-gerik dan obrolan keduanya, mereka terlihat sangat akrab. Rasa iri saya langsung gugur seketika. Selama ini dia tak pernah menunjukkan tanda-tanda berduka, curhat-curhatan dengan saya hanya membicarakan kelucuan anak-anaknya, malah saya yang lebih sering curhat.

Banyak sebab yang membuat seseorang terlihat memesona, dan seringkali saya justru lebih terpesona ketika sudah sudah menit-menit berlalu karena biasanya sikap dan perilakunya yang membuatnya memesona. Seandainya wanita cantik yang duduk di sebelah saya saat di bank itu jutek atau srudak-sruduk saat mau duduk, sudah tentu keterpesonaan saya lenyap padanya.

Contoh sikap dan perilaku orang-orang yang saya paparkan di atas hanya segelintir saja, masih banyak orang-orang berkepribadian memesona lainnya.  Kesan pertama begitu menggoda, ya, penampilan fisik memang seringkali mengundang mata memandang, namun kecantikan yang terpancar dari kepribadian yang baik sepertinya itu jauh lebih memesona, dan saya masih harus banyak belajar, belajar mengikis rasa iri, rasa dengki, egois dan sifat lain yang mementingkan diri sendiri.