#MemesonaItu, Seperti Dia yang Tak Pernah Menyerah

by Anik Widarti / 01 April 2017

Wanita yang #MemesonaItu seperti apa? Apakah dia yang memiliki kulit putih, hidung mancung, dan tubuh tinggi semampai? Kurasa definisi #Pesona tak sesempit itu. Bagiku #MemesonaItu lebih kepada kepribadian seseorang, entah orang itu baik hati, sabar, mempunyai selera humor tinggi, atau lainnya. Untuk mewakili definisi #MemesonaItu menurutku, akan kuceritakan sebuah kisah.

Aku punya teman baik. Dia adalah seseorang yang kalau dibilang pintar, dia memang pintar namun sifat kerja keras yang ia miliki, melebihi kepintarannya. Dia bisa memiliki nilai yang bagus karena dia adalah seorang pekerja keras dan seorang yang selalu memandang sesuatu dengan positive thinking. Dia rela tak tidur hanya untuk mendapatkan hasil yang diinginkan dalam setiap pekerjaan yang dikerjakannya. Pernah pada suatu saat ketika dia sedang dalam proses penelitian, Sang Dosen memintanya untuk meneliti sesuatu yang hanya sedikit saja sangkut pautnya dengan prodi kami, selebihnya tak pernah sekalipun kami pelajari. Jadi dia harus benar-benar belajar dari nol. Dia benar-benar tak punya pilihan lain selain menjalaninya. Setiap hari dia berangkat ke laboratorium jam 06.00 pagi, bahkan laborannya saja belum datang. Kemudian dia mengerjakan penelitian yang sangat rumit serta tak pernah dilakukan sebelumnya (hanya pernah melakukan dasarnya saja) sambil membaca jurnal mengenai penelitiannya, serta pulang ketika pekerjaan hari itu sudah selesai. Jam 01.00 dini hari pun dia rela masih mengerjakan pekerjaannya di lab. Benar-benar seseorang yang berdedikasi pada pekerjaannya.

Suatu ketika saat sudah memperoleh data kemudian diserahkan pada dosen, Sang Dosen kurang puas dengan hasilnya kemudian temanku ini diminta untuk mengulanginya. Itu bukanlah masalah yang berarti, kemudian datanglah masalah yang lebih besar dari itu. Saat itu mungkin Sang Dosen sedang dalam kondisi mood yang buruk, temanku ini dipanggil keruangannya kemudian dimarahi dan disuruh untuk mengulang kembali penelitiannya. Dia bercerita kalau saat itu dia hanya diam sambil mengiyakan apa yang Sang Dosen katakana hingga tak ia sadari air matanya menetes begitu saja sampai-sampai Sang Dosen bertanya. “Kau menangis?” kemudian temanku ini kaget lalu memerikasa pipinya, dan memang air mata sudah mengalir. Saat dia menceritakan padaku tentang hal itu, dia sebenarnya bercerita dengan ketawa-ketawa namun mungkin itu sangat berat baginya hingga dia benar-benar menangis sambil tersenyum, dihadapanku. Belum cukup sampai disitu, saat penelitian belum benar-benar selesai, Sang Dosen memintanya untuk secepatnya membuat draf skripsi. Dia kerjakan dengan sungguh-sungguh, dalam waktu seminggu dia menyelesaikan draf tersebut kemudian minggu berikutnya diminta untuk seminar hasil penelitian. Masalah datang ketika H-2 jam sebelum seminar. Sang Dosen belum puas dengan hasil draf, kemudian dia harus memperbaiki dalam waktu sesingkat. Dia benar-benar fokus, bahkan dalam kondisi seperti saat itu. Kalau aku berada di posisinya, kurasa aku sudah menangis sejadinya. Kemudian seminar berjalan lancar, dia sangat menguasai materi mengenai penelitiannya. Sang Dosen-pun memujinya setinggi langit. Megatakan bahwa temanku ini sangat besar sekali perjuangannya kata beliau from zero to hero.

1444904986944
Tetap tersenyum

Tibalah saatnya seminggu setelah seminar dia sidang skripsi, lagi-lagi Sang Dosen kurang puas dengan data hasil penelitiannya, H-2 hari sebelum sidang dia diminta untuk melengkapi datanya dengan melakukan penelitian lagi. Kali ini tak tanggung-tanggung, dia ke lab dari jam 06.00 pagi dan baru selesai jam 07.00 pagi berikutnya. Lalu ketika hari H sidang, pada pukul 01.00 dini hari aku memngirim pesan padanya, aku hanya ingin menge-cek apakah dia beristirahat dengan baik. Kutanya dia, “Apakah semuanya aman?” kemudian tanpa menunggu lama dia membalas “Hwaaa, ada data yang ga sesuai antara bagian hasil dengan lampiran. Aku harus bagaimana? Sebaiknya aku bilang sama Dosen atau tidak?”. Kemudian aku membalasnya “Kok bisa? Sebaiknya bilang saja sama beliau, setidaknya beliau tahu” kemudian temanku ini memberitahu dosennya, jawaban dosennya saat itu, “Oke, tidak apa-apa”. Pagi harinya waktu sidang, dia tak terlalu bisa menjawab semua pertanyaan tapi sangat terbantu dengan penulisan skripsinya yang menurut Sang Dosen, perfect. Dia lulus dalam waktu tiga bulan dari melakukan penelitian yang sangat rumit dan penuh drama hingga sidang skripsi.

Bagi orang awam ketika melihatnya, mungkin berfikir bahwa dia baik-baik saja tapi aku tahu walaupun tak semuanya dia ceritakan padaku, dia melaluinya dengan jatuh bangun. Sering aku dapati di pagi hari, matanya bengkak atau wajahnya yang sedikit pucat atau matanya yang merah karena kurang tidur. Namun dari itu semua, dia mendapatkan hasil yang setimpal, keberhasilan meraih apa yang ia cita-citakan.

Dari kisah diatas, aku berpendapat bahwa #MemesonaItu tetap bersabar dan berfikir positif dalam menghadapi segala permasalahan hidup, #MemesonaItu seperti dia yang terus berjuang dan tak pernah menyerah demi apa yang ia cita-citakan, serta #MemesonaItu mengispirasi. Bagiku, sahabatku ini telah menginspirasiku untuk tetap berjuang walau banyak sekali rintangan yang menghalagi dalam mencapai apa dicita-citakan.

Menurutku seseorang disukai bukan karena kecantikan, tapi karena pesonanya.  Entah itu dari kepandaiannya, kebaikan hatinya, ataupun dengan keteguhan hati yang ia miliki, bisa juga memesona karena kecantikan itu sendiri. Walau kau tak memiliki paras yang cantik jelita hingga membuat orang lain terspesona padamu, kau harus mengeluarkan sisi positif yang kau miliki karena pesona diri akan muncul darinya. Semoga ada hal bermanfaat yang bisa diambil dari kisah yang kutuliskan, terima kasih telah mendengarkannya. Sampai jumpa di lain waktu.