#memesonaitu muncul ketika pada pilihan sulit

by dini rahmawati / 11 April 2017

Ada sebuah pepatah mengatakan: wanita adalah musuh bagi dirinya sendiri. karena ia harus memilih antara keinginan dan kenyataan.

Pernahkah sahabat mengalami situasi yang demikian? Saya rasa setiap manusia khususnya wanita pasti pernah berada dalam posisi dilematis seperti itu.

Tak terkecuali saya. Sering kali dihadapkan ada sebuah pilihan yang sama sama berat sehingga sulit bagi saya untuk membuat keutusan saat itu juga.

Salah satu pilihan sulit yang harus saya hadapi adalah ketika ayah mertua dan ayah kandung saya meninggal dalam waktu yang hanya berjarak dua bulan.Sehingga ibu dan ibu mertua menjadi seorang diri di rumah masing masing, karena kami anak-anaknya tinggal di kota lain.

Dua bulan sepeninggal ayah, ibu meminta saya untuk kembali ke kampung halaman. Ibu memberi saran supaya saya bisa bekerja kembali ke kenalan ibu dulu, seorang notaris. Sehingga ibu bisa dekat dengan cucu-cucu beliau. Ketika saya sedang memertimbangkan hal tersebut, datang juga permintaan yang sama dari ibu mertua. Dan beratnya, rumah ibu dan ibu mertua tidak dalam satu kota yang sama. Duh, saya semakin bingung.

Keduanya adalah ibu saya. Dan kepada keduanya pula saya harus berbakti. Namun tidak mungkin satu badan ini berada dalam dua tempat yang berjarak sekaligus. Akhirnya dengan kata-kata yang saya pilih sangat hati-hati, aku menolak keduanya dengan halus. Saya ungkapkan juga bahwa suatu hari nanti kami pasti akan tinggal bersama ibu. Namun semuanya saya serahkan kepada Allah Sang Maha Mengatur.

Dan ternyata Allah mempunyai rencana untuk kami.

Pada suatu pagi, empat bulan setelah ayah wafat, ibu tidak sadarkan diri di kamarnya. Lalu dilarikan ke rumah sakit oleh adik dan tetangga. Ternyata ibu mengalami penyempitan embuluh darah otak. 

Setelah tiga minggu ibu berjuang melawan sakitnya yang membuat ibu kehilangan ingatan dan kesadaran menurun, tepat di malam ulang tahunnya, ibu menghadap Tuhan.

Jadilah, sejak itu orang tua kami tinggalah seorang, yaitu ibu mertua.

Dan saya masih ingat janji saya dulu. Segera saya musyawarahkan dengan suami dan anak-anak tentang keinginan saya pulang kampung dan menemani ibu mertua. Syukurlah anak-anak setuju. Suami menyerahkan keputusan sepenuhnya pada saya. Akhirnya saya dan anak-anak meneta bersama ibu mertua di kamung, dan suami tetap tinggal di ibukota propinsi.

Awalnya banyak yang menentang keputusan saya. Terutama dari keluarga besar. Bahkan tak sedikit yang mengangga tolol keutusan saya ini. "Sudah enak hidup sendiri sama suami kok malah jadi satu sama mertua, Mana ibu mertuamu itu orangnya sulit.." bla bla bla... masih banyak cerita miring tentang ibu mertua. Tapi aku tak ingin mendengarkan mereka yang tidak tahu tentang isi rumah ini. Mereka kan hanya melihat luarnya saja.

Memang tidak mudah memulai hari bersama ibu mertua. Karena memang banyak perbedaan di antara kami. Tapi yang sulit bukan berarti tak bisa diusahakan. Justru perbedaan ini membuat kami saling belajar.

Banyak hal yang bisa saya pelajari dari ibu mertua. Beliau rajin bangun malam untuk salat, rutin puasa senin kamis, berpikirnya cerdas dan banyak ide, cinta kebersihan dan kerapian, juga pintar berdagang. Sepertinya hal atau barang apa saja jika berada di tangan beliau bisa jadi uang. Sangat bertolak belakang dengan saya.

Sebaliknya, ibu juga sering meminta pendapat saya jika ada masalah apa saja. Ibu juga sering meminta dibacakan artikel tentang kesehatan dan agama. Seiring berjalannya waktu kami bisa jadi partner, meskipun beda endapat dan pemikiran itu selalu saja ada.

Disinilah dibutuhkan saling mengerti dan saling percaya. Saking percayanya ibu mertua kepada saya, sampai sampai suami pernah merasa, "Sebetulnya yang anak ibuk itu saya atau kamu sih?" hehe.. mungkin ibu sudah terperangkap dalam pesona saya ya.

Yah, memang tidak sulit sebenarnya untuk meraih cinta ibu, karena #memesonaitu  adalah menerima diri dan keadaan dengan ikhlas, selalu belajar pada situasi apapun sehingga bisa meningkatkan kepekaan dan empati.

Begitu cerita #memesonaitu versi saya. Bagaimana dengan Anda?