Memesona Itu Tak Perlu Berusaha Memesonai

by Dwi Citra Larasati / 11 April 2017


Tak dapat dimungkiri bahwa menjadi sosok yang mampu membuat orang lain terpesona adalah impian banyak orang, baik itu laki-laki maupun perempuan. Bahkan banyak pula dari mereka yang sampai mati-matian mengubah tampilan demi terlihat memesona. Tentu dengan alasan dan tujuannya masing-masing, entah demi memikat seseorang yang disukai atau sekadar ingin mencuri perhatian publik. Tak jarang mereka yang seperti itu rela menanggalkan segala keunikan yang mereka miliki. Namun, apakah memang harus sedemikian berusaha untuk tampil memesona?


That’s definitely a big no!


Bagi saya, #memesonaitu lahir dari sebuah perjalanan panjang. Tak lantas begitu saja tercipta dari sekadar melihat yang terlihat oleh mata. Meski mungkin ada yang mengatakan bahwa mereka bisa saja terpesona dari pandangan pertama. Akan tetapi, tidakkah terasa semu sebuah pesona yang lahir hanya dari sebuah pandangan mata yang kadangkala mudah teperdaya? Ada banyak hal, selain fisik tentu saja, yang mampu membuat seseorang terpesona kepada seseorang menurut pandangan saya.


Penerimaan


Bahwa setiap orang yang telah menerima dirinya seutuhnya dan menghargai segala apa yang dimiliki dalam dirinya adalah sebuah proses melahirkan pesona yang alami. Tentu harus dipandang dari sisi penerimaan yang positif sehingga menimbulkan rasa nyaman pada diri sendiri. Jangan anggap penerimaan akan diri adalah hal mudah, bukan begitu pula memang ia bekerja. Oleh karena itu, saya sebut #memesonaitu bukan hasil yang instan. Masih banyak di luar sana yang belum dapat menerima mereka apa adanya. Hal tersebut membuat mereka seringkali tak sadar mereka sedang mengubur pesona mereka secara perlahan. Sebaliknya, mereka yang telah mampu menerima dan menghargai diri mereka seutuhnya akan memancarkan pesona tersendiri, bahkan seringkali tanpa mereka sadari.


Otoritas


Perempuan yang #memesonaitu juga bagi saya adalah mereka yang telah sadar bahwa mereka memiliki otoritas, atas tubuhnya, pemikirannya, dan hidupnya. Tak berarti mereka harus menjadi pejuang aliran feminisme atau berusaha melakukan hal-hal yang sempat dianggap hanya bisa dilakukan laki-laki dan tidak bisa dilakukan perempuan. Bukan itu. Otoritas yang menjadi fokus memancarkan pesona yang alami menurut saya adalah tentang keberanian mengekspresikan keunikan yang ada di dalam diri masing-masing. Tak melulu harus mengikuti arus demi terlihat wajar atau berusaha melakukan hal-hal yang sesungguhnya tak mereka suka demi sebuah pengakuan atau pujian. Mereka yang percaya diri dan jujur dalam bersikap dengan sendirinya akan terlihat memesona.


Tak Berusaha Memesonai


Ya, #memesonaitu adalah ketika mereka sama sekali tak berusaha untuk memesonai orang-orang yang ada di sekitar. Mereka yang telah paham bahwa menjadi pribadi yang menyenangkan tanpa perlu bersikap atau berpenampilan berlebihan adalah sebuah keharusan dan bukan pilihan. Mereka yang #memesonaitu adalah mereka yang cerdas dengan pembawaan yang menyenangkan dan sama sekali tak berorientasi untuk memesonai orang lain.


Pada akhirnya, dapat saya katakan bahwa sosok #memesonaitu adalah sosok yang lahir dari proses yang tidak sekejap saja. Ada tahap-tahap untuk memancarkan pesona yang sejati dan tak semu, yang terasa utuh dan jujur. Dan menjadi sosok yang mampu memancarkan pesona itu tidaklah mudah. Meskipun begitu, satu hal yang saya yakini selalu, yaitu bahwa setiap orang mampu untuk melahirkan pesonanya sendiri. Tentunya dengan sebuah usaha. Bukan usaha untuk memesonai, melainkan usaha untuk menjadi diri sendiri.


#memesonaitu saya, kamu, mereka. Kita.