#MemesonaItu Saat Menyadari Aku Bukan Ibu yang Sempurna

by Febri Purwantini / 11 April 2017
Suatu episode yang kelam dalam hidupku, saat mendengar seseorang berkomentar tentang keadaan anak keduaku, Aizar.

Kejadian ini berlangsung pada tahun 2014 silam, saat itu Aizar berusia hampir dua tahun. Aizar termasuk anak yang mengalami keterlambatan tumbuh kembang. Pada usia 18 bulan, dia baru mulai berjalan tertatih-tatih, di saat anak seusianya mungkin sudah mulai berlari-lari kecil. Dia pun tak melewati fase merangkak seperti umumnya anak balita lainnya. Berat badannya juga selalu berada di bawah garis normal KMS, bahkan mendekati garis  merah atau keadaan kurang gizi.

Belum lagi saat itu, Aizar menderita alergi yang cukup parah terhadap susu sapi, sehingga dia tak bisa sembarangan minum susu formula maupun makanan olahan dari susu. Selama ini dia minum ASI, tapi karena aku mengandung anak ketiga dan mulai muncul kontraksi-kontraksi palsu, akhirnya kuhentikan menyusuinya.

Berbagai cara telah aku dan suami lakukan untuk memperbaiki keadaan Aizar. Kami mendatangi dokter spesialis anak ternama di kota kami untuk konsultasi. Kami juga mendaftarkan Aizar untuk terapi di sebuah klinik tumbuh-kembang anak. Untuk penanganan alerginya, selain dari dokter spesialis anak, kami juga rutin berkunjung ke seorang dokter yang melakukan terapi bioresonansi. Asupan berbagai suplemen vitamin maupun berbagai madu pun tak lupa kami berikan untuk Aizar.

Sebagai seseorang yang berlatar belakang dunia kesehatan, aku sempat mencurigai bahwa Aizar menderita sakit TB anak. Berat badannya yang kurang dan nafsu makannya yang buruk mendorong kami untuk melakukan pemeriksaan TB anak. Akhirnya dokter spesialis anak melakukan serangkaian pemeriksaan kepada Aizar. Mulai dari tes Mantoux, dimana suatu reagen tertentu dimasukkan ke bawah kulit tangan, hasil pemeriksaan akan diamati beberapa hari kemudian untuk menentukan positif atau negatif terpapar kuman TB. Lalu Aizar juga dilakukan foto radiologi dan juga pemeriksaan darah.

Beberapa hari kemudian, kami konsultasi kembali ke dokter. Setelah melakukan scoringTB, dokter menyatakan bahwa Aizar tidak terinfeksi kuman TB. Hasil tes mantoux negatif, hasil foto radiologi juga normal, hasil pemeriksaan darah pun tak ada yang mencurigakan. Semuanya baik-baik saja!

Entah lega atau tidak yang berkecamuk dalam hatiku saat mendengar perkataan dokter. Aku justru makin bingung harus bagaimana lagi untuk memperbaiki keadaan Aizar.

Hal ini menjadikanku pribadi yang agak sensitif. Aku sempat merasa menjadi ibu yang payah. Tak mengerti apa yang harus kulakukan untuk anakku sendiri. Berbagai komentar miring mulai dari yang serius sampai yang bernada candaan tentang Aizar sangat menusuk-nusuk hatiku. Semua orang tak pernah tahu betapa hatiku menyimpan bara saat itu, karena aku sangat pintar membalutnya dengan senyuman. Ah, bak pemain sandiwara rasanya. Aku berpura-pura semuanya baik-baik saja, padahal aku sering menangis diam-diam. Sungguh melelahkan!

Satu kejadian yang tak akan pernah kulupa, saat salah seorang ibu menyapa dan berkomentar, “Duuh, kok anaknya kurus banget badannya, kayak anak Somalia aja. Padahal ibunya kan kerja di bidang kesehatan lho, kok bisa ya …”

Nah lho! Speechless …

Si ibu ini tak pernah tahu bagaimana perjuangan kami sesungguhnya. Enteng sekali dia bicara seperti itu entah dengan maksud apa. Hatiku makin teriris. Ya Allah, ikhtiar apa lagi yang harus kami lakukan?

Aku pun terus bertanya-tanya dalam hati, jika terus membiarkan orang lain melukai perasaanku, apakah aku  selamanya akan menderita?

Aku tak bosan untuk memohon petunjuk-Nya apa lagi yang harus kulakukan. Sebuah bisikan dalam hatiku mengatakan, jika kau ingin anakmu bahagia maka kau pun harus menjadi ibu yang berbahagia. Anak-anakku tak membutuhkan seorang ibu yang sempurna. Mereka hanya membutuhkan ibu yang bahagia, yang mencintai dan menerima mereka apa pun keadaannya.

Aku mulai berdamai dengan diri sendiri. Aku memaafkan diriku sendiri dan orang-orang yang telah menyakiti kami. Aku mulai menempatkan perisai di dalam hatiku. Jika ada komentar-komentar negatif tentang kami, hal itu tak akan berhasil melukai perasaanku. Aku pun belajar untuk menghargai perjuangan masing-masing orangtua, sehingga sebisa mungkin kujaga perkataanku untuk tak mengeluarkan kalimat bernada celaan. 


Aizar bersama kakak dan adiknya saat ini

Tahukah apa yang terjadi kemudian? Keadaan Aizar berangsur-angsur membaik. Dia bisa mengejar ketertinggalan tumbuh kembangnya. Dia tumbuh menjadi anak yang bahagia dan lebih percaya diri. Sewaktu melihatnya saat ini, rasa haru seringkali menyelinap di hati. Semua itu berawal dari penerimaan terhadap diri sendiri.

Buatku, #MemesonaItu saat menyadari bahwa aku bukanlah ibu yang sempurna, dan setelahnya keajaiban itu akan datang dengan sendirinya.


Ini ceritaku tentang makna #MemesonaItu. Bagaimana cerita #MemesonaItu milikmu?